Korban Jiwa Lampaui 2.300 Orang, Wabah Ebola di RD Kongo Jadi yang Paling Mematikan dalam Sejarah Nasional
KINSHASA — Wabah virus Ebola yang tengah melanda Republik Demokratik (RD) Kongo mencatatkan rekor kelam sebagai epidemi paling mematikan dalam sejarah negara tersebut. Berdasarkan laporan situasi terbaru dari otoritas kesehatan setempat pada Minggu (16/8/2026), jumlah korban jiwa kini telah melampaui angka 2.300 orang.
Sejak wabah ini resmi dinyatakan merebak pada 15 Mei, RD Kongo telah mencatat total 4.945 kasus terkonfirmasi dengan 2.325 kematian. Tingkat fatalitas kasus (case fatality rate) saat ini berada di angka 47,0 persen.
Lonjakan korban jiwa ini melampaui rekam jejak wabah Ebola 2018–2020 di wilayah timur RD Kongo, yang sebelumnya memegang rekor sebagai wabah terparah di negara tersebut dengan 2.299 kematian dari total 3.481 kasus.
Wabah kali ini merupakan gelombang Ebola ke-17 di RD Kongo sejak virus tersebut pertama kali diidentifikasi di wilayah itu pada tahun 1976. Berdasarkan investigasi kesehatan, epidemi saat ini dipicu oleh spesies virus Ebola Bundibugyo.
Derasnya penyebaran virus telah berdampak pada 55 zona kesehatan yang tersebar di enam provinsi, yakni:
- Ituri
- Kivu Utara
- Haut-Uele
- Tshopo
- Kivu Selatan
- Bas-Uele
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberikan perhatian serius terhadap eskalasi kasus di RD Kongo yang dinilai bergerak sangat agresif.
Dalam pengarahan pers di Jenewa pada Rabu (12/8), Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus memperingatkan bahwa wabah ini telah berkembang menjadi epidemi Ebola terbesar kedua dalam sejarah global.
“Wabah ini menyebar lebih cepat daripada wabah Ebola sebelumnya. Dengan lajunya saat ini, wabah tersebut berpotensi melampaui wabah Ebola di Afrika Barat selama periode 2014 hingga 2016,” ujar Tedros.
Sebagai perbandingan, epidemi Ebola di Afrika Barat pada periode 2014–2016 masih memegang rekor sebagai wabah Ebola terbesar di dunia dengan catatan lebih dari 28.600 infeksi. Otoritas kesehatan internasional dan nasional kini terus berpacu dengan waktu untuk meredam penyebaran virus guna mencegah dampak kemanusiaan yang lebih luas. (Pon)

