Ketekunan dan Proses Tuhan, Kunci Utama Orang Percaya Bertahan Sampai Garis Akhir

Ibadah Raya Gereja Misi Injili Indonesia (GMII) Nehemia, Rejosari, Pekanbaru, pada Minggu pagi, 13 September 2026 berlangsung penuh semangat dan menghadirkan pengajaran yang meneguhkan iman jemaat. Ibadah dipimpin langsung oleh Gembala Sidang, Pdt. Samuel S.G., M.Th., yang menyampaikan Firman Tuhan dari Ibrani 12:1–7 dengan tema utama mengenai ketekunan hidup beriman.

Hidup sebagai orang percaya tidak mudah. Dibutuhkan ketekunan. Namun ketekunan itu tidak muncul begitu saja. Pdt. Samuel mengawali khotbahnya dengan sebuah refleksi mendalam, “Bisakah kita tetap setia sepanjang umur kita, bertekun dalam iman?”

Menurutnya, menjalani hidup sebagai pengikut Kristus tidak pernah luput dari tantangan, sehingga dibutuhkan ketekunan sejati yang dibangun di atas tiga fondasi penting: Pertama, NOTITIA (Pengetahuan), artinya mengetahui tentang Tuhan dan kebenaran Firman.

“Harus punya ilmu tentang imannya itu. Jangan hanya sekadar KTP Kristen tapi tidak mengerti dengan imannya. Kita harus benar-benar memahami dasar-dasar iman agar tidak mudah goyah oleh pengajaran keliru dan tantangan dunia,” tegas Pdt. Samuel.

Iman tanpa pengetahuan akan mudah goyah ketika diterpa angin pengajaran dan tantangan dunia. Contoh, kita punya pengetahuan tentang siapa Yesus, tahu isi Alkitab, tahu doktrin keselamatan.
Tanpa ini, iman jadi kosong.

Kedua, ASSENSUS (keyakinan/persetujuan). Ini naik satu tingkat dari hanya sekadar tahu. Artinya meyakini dalam hati bahwa apa yang kita ketahui itu benar. Contoh, “Saya percaya Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat. Saya percaya, Dia sudah menyelesaikan dosa saya.”

“Ini adalah iman dari hati. Orang yang beriman harus benar-benar percaya bahwa Yesus sudah menyelesaikan banyak perkara di dalam hidup kita,” ujarnya.

Kolose 1:23; “Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan jangan bergeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar…”
Keyakinan ini membuat kita tidak mudah berpindah dan tetap berpegang pada Injil.

Ketiga, FIDUSIA (penyerahan diri mutlak). Penyerahan diri mutlak ini merupakan puncak. Artinya bukan cuma tahu dan percaya, tapi benar-benar menyerahkan seluruh hidup. Contoh; percaya Yesus dan menyerahkan masa depan, masalah, keputusan ke tangan-Nya. Tingkat iman terdalam di mana seseorang tidak hanya percaya, tetapi juga menyerahkan kendali penuh hidupnya kepada Tuhan. Sikap inilah yang memampukan orang percaya untuk bertahan hingga garis akhir.

Dalam perjalanan rohani ini, Pdt. Samuel mengingatkan bahwa umat Tuhan tidak pernah berjalan sendirian. Berdasarkan Ibrani 12:1, jemaat diajak untuk menanggalkan setiap beban serta dosa yang merintangi, serta dikelilingi oleh “awan saksi” — mulai dari tokoh-tokoh Alkitab, teladan orang tua, hingga komunitas seiman yang menjadi support system yang sehat.

“Jangan dipelihara kalau ada beban dosa. Kalau mau serius ikut Tuhan, jangan mudah terpengaruh oleh lingkungan yang salah,” pesannya.

Inti dari ketekunan sejati terletak pada arah pandangan hidup. Melalui Ibrani 12:2, jemaat diingatkan untuk mengarahkan mata hanya kepada Yesus, Sang Pemimpin dan Penyempurna iman.

“Kalau kita melihat manusia, kita akan kecewa. Tapi kalau mata kita tertuju kepada Tuhan, kita akan kuat,” tegasnya.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa segala bentuk proses dan didikan yang diizinkan Tuhan terjadi dalam hidup orang percaya merupakan tanda kasih-Nya sebagai Bapa. Mengutip Ibrani 12:6–7, ditegaskan bahwa Tuhan mendisiplinkan mereka yang dikasihi-Nya agar umat-Nya tidak mudah berputus asa, melainkan semakin bertekun.

Ibadah ditutup dengan rangkaian doa dan pujian yang membawa jemaat untuk kembali menambatkan pengharapan hanya kepada Kristus. Melalui firman ini, jemaat GMII Nehemia Rejosari diajak untuk terus berpegang teguh, tidak bergeser, dan setia bertekun sampai akhir. Selamat hari Minggu dan Tuhan Yesus memberkati. ***