SETAHUN DI PANET MERAH
Petualangan Alvaro dan Alvari
Novel Sains: Karya Erwin Hartono
Bab 1 – Mimpi di Bawah Bintang
Malam itu langit tampak begitu cerah. Ribuan bintang berkelap-kelip menghiasi angkasa, seolah-olah sedang mengadakan pesta cahaya. Bulan sabit menggantung di ufuk barat, sementara angin malam bertiup pelan membawa kesejukan.
Di halaman sebuah rumah sederhana, dua anak laki-laki sedang berbaring di atas tikar sambil memandang langit.
Mereka adalah Alvaro dan adiknya, Alvari.
“Bang, menurutmu… apakah di sana ada orang yang sedang melihat ke arah Bumi?” tanya Alvari sambil menunjuk sebuah bintang yang bersinar paling terang.
Alvaro tersenyum.
“Bisa saja. Alam semesta ini sangat luas. Siapa tahu ada makhluk hidup di tempat lain.”
Alvari tertawa kecil.
“Kalau begitu, aku ingin menjadi orang pertama yang menyapa mereka.”
Suara langkah kaki terdengar dari belakang.
Ayah mereka, Erwin, datang membawa empat gelas cokelat hangat. Tak lama kemudian, ibu mereka, Ayu, menyusul sambil membawa sepiring pisang goreng.
“Malam ini kalian belajar astronomi lagi?” tanya Ayu sambil tersenyum.
“Bukan, Bu,” jawab Alvari cepat. “Kami sedang merencanakan perjalanan ke luar angkasa.”
Mereka semua tertawa.
Erwin duduk di samping kedua anaknya.
“Dulu, ketika Ayah masih kecil, perjalanan ke luar angkasa hanya ada dalam film. Sekarang manusia sudah bisa tinggal berbulan-bulan di stasiun luar angkasa. Mungkin nanti kalian benar-benar bisa pergi ke Bulan… bahkan ke Mars.”
Mata Alvaro berbinar.
“Benarkah, Yah?”
“Tentu. Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi kalau kita mau belajar dan bekerja keras.”
Sejak malam itu, kalimat ayahnya menjadi pegangan hidup Alvaro dan Alvari.
Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi.
Hari-hari berikutnya dipenuhi rasa ingin tahu.
Setiap selesai sekolah, kedua bersaudara itu pergi ke perpustakaan. Mereka membaca buku tentang planet-planet, roket, satelit, dan para astronaut.
Mereka bahkan membuat teleskop sederhana dari pipa bekas dan beberapa lensa yang dibeli dari toko optik.
Walaupun hasilnya tidak sempurna, mereka sangat bangga.
“Lihat!” seru Alvari suatu malam.
“Apa itu?”
“Planet Jupiter! Aku bisa melihat titik-titik kecil di sampingnya.”
Alvaro mengintip melalui teleskop.
“Itu satelitnya.”
Kedua kakak beradik itu melonjak kegirangan.
Melihat semangat anak-anaknya, Erwin dan Ayu selalu memberikan dukungan.
“Ayah memang tidak bisa membelikan teleskop yang mahal,” kata Erwin suatu hari.
“Tapi Ayah akan selalu membantu kalian belajar.”
Ayu menambahkan,
“Dan Ibu akan selalu mendoakan supaya cita-cita kalian tercapai.”
Beberapa tahun berlalu.
Alvaro tumbuh menjadi remaja yang cerdas dan tenang. Ia menyukai fisika dan matematika.
Sebaliknya, Alvari lebih suka merakit berbagai alat. Ia sering membuat robot kecil dari barang-barang bekas.
Walaupun berbeda, keduanya selalu bekerja sama.
Saat mengikuti lomba sains nasional, mereka membuat robot penjelajah planet.
Robot kecil itu mampu melewati bebatuan, mengirim gambar, dan mengambil sampel tanah.
Tak disangka, mereka meraih juara pertama.
Kemenangan itu membuat nama Alvaro dan Alvari mulai dikenal.
Beberapa ilmuwan dari lembaga antariksa nasional memperhatikan bakat mereka.
Suatu pagi, sebuah surat datang.
Di sudut amplop terdapat lambang Badan Antariksa Indonesia.
Tangan Alvaro bergetar ketika membuka surat itu.
Ia membaca perlahan.
Matanya membesar.
“Alvari…”
“Ada apa, Bang?”
“Kita…”
“Ada apa?”
“Kita diterima!”
“Apa?”
“Kita diterima mengikuti program astronot Muda!”
Alvari melompat setinggi-tingginya.
“Ibuuuuu!”
“Ayah!”
Erwin dan Ayu berlari keluar dari rumah.
“Ada apa?”
Alvaro menyerahkan surat itu.
Erwin membacanya perlahan.
Air matanya mulai menggenang.
Ia memeluk kedua anaknya erat.
“Kalian berhasil…”
Ayu ikut memeluk mereka.
“Ibu bangga sekali.”
Hari itu rumah kecil mereka dipenuhi tawa dan tangis haru.
Namun mereka belum tahu.
Surat itu adalah awal dari sebuah perjalanan yang akan mengubah hidup mereka selamanya.
Perjalanan yang membawa mereka jauh meninggalkan Bumi.
Jauh melewati Bulan.
Hingga akhirnya terdampar sendirian di sebuah planet merah yang sunyi.
Dan perjalanan itu akan menguji keberanian, persaudaraan, serta harapan mereka selama satu tahun penuh.
Bab 2 – Terpilih Menjadi Astronot
Matahari baru saja muncul ketika Alvaro dan Alvari berdiri di depan gerbang Pusat Pelatihan Astronot Nusantara. Bangunan itu sangat besar, dipenuhi antena, laboratorium, dan simulator pesawat luar angkasa.
Mereka saling berpandangan.
“Bang… aku masih tidak percaya kita benar-benar ada di sini,” bisik Alvari.
Alvaro tersenyum. “Aku juga. Tapi ini baru langkah pertama.”
Di samping mereka, Erwin dan Ayu berdiri dengan wajah bangga sekaligus haru.
“Ingat,” pesan ayah sambil meletakkan tangan di bahu kedua putranya, “kepintaran memang penting, tetapi kerendahan hati jauh lebih penting. Jadilah anak yang mau belajar dan menghargai semua orang.”
Ayu memeluk mereka bergantian.
“Ibu hanya minta satu hal.”
“Apa itu, Bu?” tanya Alvari.
“Ke mana pun kalian pergi, jangan pernah meninggalkan satu sama lain.”
Alvaro mengangguk mantap.
“Kami janji.”
Mereka pun memasuki gerbang pelatihan.
Hari-Hari yang Melelahkan
Hari pertama langsung membuat mereka terkejut.
Seorang instruktur bertubuh tegap berdiri di depan puluhan peserta.
“Selamat datang! Saya Komandan Rudi. Mulai hari ini, kalian bukan lagi siswa biasa. Kalian adalah calon astronot!”
Tak ada tepuk tangan.
Semua peserta justru tampak tegang.
“Menjadi astronot bukan berarti hebat. Menjadi astronot berarti siap menghadapi bahaya, siap bekerja sama, dan siap mengorbankan kepentingan pribadi demi keselamatan tim.”
Pelatihan pun dimulai.
Mereka harus berlari mengelilingi lapangan berkali-kali.
Latihan renang dilakukan dengan pakaian khusus yang berat.
Mereka belajar bertahan di hutan, gurun, bahkan di ruang simulasi yang sangat dingin.
Malam hari mereka masih harus mempelajari navigasi, astronomi, teknik mesin, dan pertolongan pertama.
Banyak peserta mulai menyerah.
“Ini terlalu berat,” keluh seorang peserta.
“Aku pulang saja.”
Setiap minggu jumlah peserta semakin berkurang. Namun Alvaro dan Alvari tetap bertahan. Jika Alvari mulai kelelahan, Alvaro menyemangatinya. Jika Alvaro kehilangan semangat, Alvari membuatnya tertawa. Persaudaraan mereka menjadi kekuatan terbesar.
Ruang Tanpa Gravitasi
Suatu hari mereka memasuki sebuah pesawat khusus.
Instruktur menjelaskan, “Hari ini kalian akan merasakan keadaan tanpa gravitasi.”
Pesawat terbang tinggi, lalu menukik dengan lintasan tertentu.
Tiba-tiba…
Semua tubuh melayang.
“Waahhh!”
Alvari tertawa sambil berputar-putar di udara. Namun beberapa peserta langsung merasa pusing. Ada yang muntah. Ada yang menangis.
Alvaro berusaha tetap tenang. Ia mengingat semua pelajaran yang telah diberikan.
“Gerakkan tubuh perlahan,” katanya kepada adiknya.
Beberapa menit kemudian gravitasi kembali normal. Komandan Rudi tersenyum.
“Kalian berdua cukup cepat beradaptasi.”
Itu adalah pujian pertama yang mereka terima.
Simulator Pendaratan
Beberapa minggu kemudian, mereka belajar mengendalikan kapsul luar angkasa. Simulator itu dibuat sangat mirip dengan keadaan sebenarnya. Lampu-lampu berkedip. Alarm berbunyi keras. Layar menunjukkan berbagai gangguan.
“Tahan tekanan bahan bakar!” teriak instruktur.
“Perbaiki arah!”
“Kurangi kecepatan!”
Peserta lain panik. Namun Alvaro tetap fokus membaca data.
“Alvari, aktifkan pendorong kanan!”
“Siap!”
“Turunkan kecepatan lima persen.”
“Siap!”
Beberapa detik kemudian simulator berhasil mendarat dengan sempurna. Instruktur mengangguk puas.
“Kerja sama kalian sangat baik.”
Pengumuman Besar
Enam bulan pelatihan akhirnya selesai. Kini hanya tersisa sepuluh peserta terbaik. Semua berdiri di aula utama. Suasana sangat hening. Direktur Badan Antariksa naik ke podium.
“Hari ini kami akan memilih kru untuk misi internasional.”
Semua peserta menahan napas.
“Misi ini awalnya dirancang menuju Bulan. Para astronot akan melakukan penelitian selama tiga puluh hari sebelum kembali ke Bumi.”
Jantung Alvari berdegup semakin kencang. Direktur membuka sebuah map.
“Nama pertama…”
Semua menunggu.
“Alvaro.”
Alvaro hampir tidak percaya. Ia melangkah ke depan.
“Nama kedua…”
“Alvari.”
Alvari menutup mulutnya karena terkejut. Ia menoleh ke arah kakaknya. Mereka berdua tersenyum lebar. Keduanya berhasil terpilih. Para peserta lain bertepuk tangan memberi selamat.
Kabar untuk Rumah
Malam itu Alvaro dan Alvari melakukan panggilan video dengan orang tua mereka.
“Selamat, Anak-anakku!” seru Erwin dengan mata berbinar.
Ayu bahkan menangis bahagia.
“Ibu tahu kalian pasti bisa.”
Alvari tertawa.
“Bu, nanti kami akan menginjak Bulan!”
Erwin tersenyum, tetapi kemudian wajahnya menjadi serius.
“Ingat, semakin tinggi seseorang terbang, semakin besar tanggung jawabnya.”
“Kami ingat, Yah.”
“Dan satu lagi…”
“Apa, Ayah?”
“Kalau suatu saat terjadi keadaan darurat, jangan hanya memikirkan diri sendiri. Seorang astronot sejati selalu berusaha menyelamatkan orang lain.”
Alvaro mengangguk.
“Pesan Ayah akan kami pegang.”
Menjelang Keberangkatan
Beberapa bulan berikutnya digunakan untuk mempersiapkan misi.
Mereka mempelajari pesawat luar angkasa Garuda Explorer-1, roket paling canggih yang pernah dibuat oleh kerja sama beberapa negara.
Mereka juga berkenalan dengan anggota kru lainnya: Kapten Elena dari Spanyol, Dr. Kenji dari Jepang, Dr. Sofia dari Brasil, dan Komandan Rudi yang kini menjadi pemimpin misi.
Semua persiapan berjalan lancar.
Tak seorang pun menyangka bahwa perjalanan yang seharusnya menuju Bulan akan berubah menjadi bencana terbesar dalam sejarah penjelajahan antariksa.
Di ruang kendali, seorang teknisi memperhatikan layar radar. Sebuah gugusan meteor kecil sedang melaju menuju jalur penerbangan yang telah direncanakan. Jaraknya masih sangat jauh.
Risikonya dianggap kecil.
Namun, tidak seorang pun mengetahui bahwa beberapa minggu kemudian gugusan meteor itulah yang akan mengubah nasib Alvaro dan Alvari.
Perjalanan menuju Bulan akan berubah menjadi perjalanan menuju Planet Mars.
Bab 3 – Misi Menuju Bulan
Pagi itu, langit berwarna biru cerah tanpa awan. Di Pusat Peluncuran Antariksa Nusantara, ribuan orang telah berkumpul sejak subuh. Mereka datang membawa bendera, spanduk, dan harapan besar untuk menyaksikan momen bersejarah.
Di tengah landasan berdiri sebuah roket raksasa setinggi hampir seratus meter. Badannya berwarna putih mengilap dengan garis-garis biru dan merah. Di bagian sampingnya tertulis nama yang membuat semua orang bangga. GARUDA EXPLORER–1
Roket itu akan membawa enam astronot menuju Bulan untuk melakukan penelitian ilmiah. Untuk pertama kalinya, dua astronot muda bersaudara dari Indonesia, Alvaro dan Alvari, menjadi bagian dari kru internasional.
Di ruang persiapan, keenam astronot mengenakan pakaian antariksa berwarna putih dengan helm berlapis kaca bening. Setelah semua perlengkapan diperiksa, Komandan Rudi mengumpulkan mereka.
“Teman-teman,” katanya, “hari ini kita membawa harapan jutaan orang. Ingat, keberhasilan misi ini bukan karena satu orang hebat, melainkan karena kita saling percaya.”
Semua mengangguk. Alvaro melirik adiknya.
“Sudah siap?”
Alvari tersenyum lebar.
“Sejak kecil aku memimpikan hari ini.”
Mereka saling mengepalkan tangan.
Perpisahan
Sebelum memasuki lift menuju roket, setiap astronot diberi kesempatan bertemu keluarganya selama beberapa menit. Erwin dan Ayu datang menghampiri kedua putra mereka. Ayu memeluk Alvari lebih dulu.
“Hati-hati, Nak.”
“Iya, Bu.”
Lalu ia memeluk Alvaro.
“Jaga adikmu.”
“Aku akan menjaganya, Bu.”
Erwin berdiri di depan mereka dengan mata yang berkaca-kaca.
“Ayah tidak akan memberi nasihat panjang.”
Alvaro tersenyum.
“Karena Ayah sudah sering menasihati kami?”
Erwin tertawa kecil.
“Betul.”
Ia menggenggam tangan kedua anaknya.
“Keberanian bukan berarti tidak takut. Keberanian adalah tetap melakukan yang benar walaupun rasa takut datang.”
Alvari mengangguk mantap.
“Kami akan ingat.”
Sebelum berpisah, mereka berempat berdoa bersama. Tak ada seorang pun yang mengetahui bahwa pelukan itu akan menjadi pelukan terakhir selama lebih dari satu tahun.
Hitung Mundur
Lift membawa keenam astronot menuju kapsul di puncak roket. Mereka duduk di kursi masing-masing. Sabuk pengaman dikunci. Komputer mulai memeriksa seluruh sistem. Dari pengeras suara terdengar suara petugas.
“Sepuluh menit menuju peluncuran.”
Alvari menarik napas panjang.
“Jantungku berdebar kencang.”
“Itu wajar,” jawab Alvaro sambil tersenyum.
Lima menit kemudian.
“Semua sistem normal.”
Dua menit…
“Mesin utama siap.”
Satu menit.
Semua orang di ruang kendali menatap layar monitor.
“Tiga puluh detik.”
Di luar, jutaan penonton menghitung bersama.
“Sepuluh…”
“Sembilan…”
“Delapan…”
Suasana menjadi sangat hening.
“Tiga…”
“Dua…”
“Satu…”
“Luncur!”
Api raksasa menyembur dari bawah roket. Tanah bergetar. Asap putih mengepul ke segala arah. Perlahan Garuda Explorer–1 meninggalkan Bumi. Alvari menoleh ke jendela kecil.
“Kita benar-benar terbang…”
Beberapa menit kemudian, roket menembus awan. Langit berubah menjadi hitam pekat. Bumi mulai tampak melengkung dengan warna biru yang indah.
“Itu rumah kita,” bisik Alvaro.
Kehidupan di Antariksa
Setelah mencapai orbit, roket melepaskan bagian pendorongnya. Kini pesawat utama melaju dengan tenang menuju Bulan.
Para astronot mulai bekerja.
Mereka memeriksa mesin, menghitung persediaan makanan, dan melakukan berbagai eksperimen.
Saat waktu istirahat tiba, Alvari melayang tanpa gravitasi sambil tertawa.
“Bang, lihat!”
Ia mendorong dirinya perlahan hingga berputar di dalam kabin. Dr. Sofia ikut tertawa.
“Kau sangat cepat beradaptasi.”
Komandan Rudi hanya tersenyum.
“Jangan terlalu jauh bermain. Kita masih punya banyak pekerjaan.”
Hari-hari pertama berlangsung lancar. Mereka mengirim laporan ke Bumi setiap enam jam. Erwin dan Ayu selalu menonton berita perkembangan misi melalui televisi. Setiap kali melihat wajah kedua anaknya tersenyum dari luar angkasa, mereka ikut tersenyum bangga.
Bayangan Bahaya
Pada hari keempat perjalanan, pusat kendali di Bumi menerima laporan dari teleskop antariksa.
Seorang ilmuwan berlari menuju ruang komando.
“Pak! Ada gugusan meteor yang bergerak lebih cepat dari perkiraan!”
“Seberapa dekat?”
“Masih ratusan ribu kilometer, tetapi lintasannya mulai berubah.”
Komandan pusat kendali segera menghubungi Garuda Explorer–1.
“Komandan Rudi, kami mendeteksi kemungkinan gangguan di jalur penerbangan.”
Suara Komandan Rudi terdengar tenang.
“Kami menerima informasi. Semua kru akan bersiap.”
Alvaro dan Alvari saling berpandangan.
Untuk pertama kalinya sejak keberangkatan, mereka merasakan firasat yang tidak enak. Namun pemeriksaan menunjukkan bahwa pesawat masih aman. Perjalanan dilanjutkan.
Langit yang Menjadi Gelap
Malam menurut waktu Bumi telah tiba. Sebagian astronot sedang beristirahat.
Tiba-tiba…
BIP! BIP! BIP!
Alarm darurat berbunyi nyaring. Lampu kabin berubah merah. Komputer otomatis mengumumkan, “Peringatan! Objek berkecepatan tinggi terdeteksi!”
Komandan Rudi segera berlari menuju panel kendali.
“Apa yang terjadi?”
Dr. Kenji menatap radar.
Wajahnya mendadak pucat.
“Komandan…”
“Ada apa?”
“Itu bukan satu meteor.”
“Lalu?”
“Itu… ratusan!”
Melalui jendela depan tampak cahaya-cahaya kecil melesat menuju pesawat seperti hujan bintang yang sangat cepat.
Alvari menggenggam lengan abangnya.
“Bang…”
Alvaro menelan ludah. Perasaannya mengatakan bahwa sesuatu yang sangat buruk akan segera terjadi.
Komandan Rudi menarik napas dalam.
“Semua kru ke posisi darurat!”
Para astronot segera mengenakan helm. Mesin pendorong dinyalakan. Namun gugusan meteor itu melaju jauh lebih cepat daripada yang diperkirakan.
Sebuah cahaya besar semakin mendekat.
Lalu…
DUAAARRR!!
Sebuah benturan keras mengguncang pesawat. Seluruh kabin berguncang hebat. Lampu padam. Alarm berbunyi semakin keras. Dan pesawat mulai kehilangan kendali.
Bab 4 – Kecelakaan di Antariksa
DUAAARRR……! Benturan dahsyat itu membuat seluruh pesawat berguncang seperti daun yang diterpa badai. Lampu di dalam kabin berkedip-kedip, lalu sebagian padam. Benda-benda yang tidak terikat melayang ke segala arah.
“Pegang erat kursi kalian!” teriak Komandan Rudi.
Alvaro segera menarik sabuk pengamannya hingga benar-benar kencang. Di sebelahnya, Alvari mencoba tetap tenang meskipun wajahnya pucat.
“Bang… apa kita akan selamat?” bisiknya.
Alvaro menggenggam tangan adiknya.
“Kita akan berjuang bersama.”
Alarm terus meraung.
“PERINGATAN! KERUSAKAN PADA MESIN UTAMA! KEBOCORAN MODUL BELAKANG!”
Dr. Kenji memeriksa layar kendali.
“Komandan! Mesin pendorong nomor dua mati!”
“Berapa besar kerusakannya?”
“Hampir empat puluh persen!”
Komandan Rudi segera memutar kemudi.
“Kita harus keluar dari jalur meteor!”
Namun sebelum pesawat sempat mengubah arah, sebuah meteor lain menghantam bagian sayap.
BRAKK……!
Pesawat berputar hebat. Semua astronot terlempar ke sabuk pengaman mereka. Layar-layar monitor padam satu per satu.
Kerusakan yang Semakin Parah
Di ruang kendali Bumi, suasana berubah tegang.
“Hubungan dengan Garuda Explorer-1 melemah!”
“Kirim sinyal cadangan!”
“Radar kehilangan kendali arah!”
Puluhan teknisi bekerja secepat mungkin. Mereka berusaha menghubungi pesawat.
“Garuda Explorer-1, apakah kalian mendengar kami?”
Tidak ada jawaban. Hanya suara berdesis.
Di rumah, Erwin dan Ayu sedang menyaksikan siaran langsung.
Tiba-tiba layar televisi berubah menjadi tulisan:
“Hubungan komunikasi dengan pesawat terputus sementara.”
Ayu menutup mulutnya.
“Ya Tuhan…”
Erwin mencoba tetap tenang, tetapi tangannya mulai gemetar.
Keputusan Sulit
Di dalam pesawat, oksigen mulai berkurang.
Dr. Sofia berteriak, “Tekanan udara di modul belakang turun drastis!”
Komandan Rudi segera mengambil keputusan.
“Semua kru bersiap menuju kapsul penyelamat!”
“Apa?” tanya Alvari.
“Kita harus memisahkan diri sebelum pesawat meledak.”
Garuda Explorer-1 membawa dua kapsul penyelamat. Kapsul pertama berisi empat orang. Kapsul kedua hanya cukup untuk dua orang. Komandan Rudi melihat layar.
“Kapsul kedua mengalami gangguan otomatis.”
“Apa maksudnya?” tanya Alvaro.
“Jika dilepaskan sekarang, lintasannya tidak bisa dikendalikan.”
Suasana menjadi hening. Tak seorang pun ingin masuk ke kapsul yang rusak. Namun waktu semakin sedikit.
Api mulai terlihat di bagian belakang pesawat. Komandan Rudi menatap Alvaro dan Alvari.
“Maafkan saya…”
Alvaro mengerti maksudnya.
“Kami yang akan naik kapsul kedua.”
“Bang!” seru Alvari.
Alvaro menoleh kepada adiknya.
“Kalau semua masuk ke kapsul pertama, kita tidak akan muat.”
Alvari menarik napas panjang. Kemudian ia mengangguk.
“Kita selalu bersama.”
Komandan Rudi memegang bahu mereka.
“Kalian adalah dua astronot paling muda di misi ini. Saya berjanji, kami akan mencari kalian.”
Perpisahan di Antariksa
Pintu kapsul penyelamat dibuka. Alvaro dan Alvari masuk ke dalam. Komandan Rudi berdiri di depan pintu.
“Semoga Tuhan melindungi kalian.”
Alvaro memberi hormat.
“Selamatkan misi ini, Komandan.”
Alvari tersenyum, meski matanya mulai berkaca-kaca.
“Sampaikan kepada Ayah dan Ibu bahwa kami mencintai mereka.”
Pintu kapsul tertutup perlahan. Suara logam bergema di dalam ruang sempit itu. Komputer mulai menghitung.
“Pelepasan kapsul dalam… lima…”
Empat…
Tiga…
Dua…
Satu…
DORR!
Kapsul mereka terlempar menjauh dari pesawat utama. Beberapa detik kemudian.
BUUUMM!!
Ledakan besar terjadi di belakang mereka. Cahaya terang memenuhi angkasa. Garuda Explorer-1 berhasil bertahan, tetapi kehilangan kendali untuk beberapa saat. Sementara itu, kapsul Alvaro dan Alvari terus melaju sendirian.
Menuju Tempat yang Tak Dikenal
“Bang, kita menuju ke mana?” tanya Alvari.
Alvaro segera memeriksa layar navigasi. Beberapa layar rusak. Namun satu layar masih menyala. Angka-angka terus berubah. Arah kapsul perlahan bergeser. Wajah Alvaro mendadak pucat.
“Bang?” ulang Alvari.
Alvaro tidak langsung menjawab. Ia menelan ludah.
“Lihat sendiri…”
Alvari menatap layar. Di sana muncul gambar sebuah planet berwarna merah.
Di bawahnya tertulis:
TARGET GRAVITASI: MARS
“Mars?” bisik Alvari.
“Iya…”
“Tapi… bukankah kita sedang menuju Bulan?”
“Benar.”
“Lalu kenapa ke Mars?”
Alvaro menarik napas panjang.
“Karena sistem kemudi rusak. Gravitasi Mars menarik kapsul kita. Kita tidak bisa mengubah arah.”
Alvari terdiam. Jarak menuju Mars masih sangat jauh. Persediaan makanan dan oksigen di kapsul hanya cukup untuk beberapa minggu. Mereka benar-benar sendirian.
Pesan Terakhir
Radio darurat masih berfungsi beberapa saat. Alvaro mencoba menghubungi Bumi.
“Pusat Kendali… ini Alvaro… apakah kalian mendengar?”
Suara berdesis memenuhi radio. Tak lama kemudian terdengar suara yang sangat lemah.
“…Al…va…ro…”
“Itu dari Bumi!” seru Alvari.
Namun sinyal kembali hilang. Alvaro mengambil alat perekam.
“Jika pesan ini sampai ke Bumi…”
Ia berhenti sejenak.
“Kepada Ayah Erwin dan Ibu Ayu… jangan khawatir kepada kami. Kami akan terus berjuang. Kami berjanji akan pulang.”
Alvari ikut berbicara.
“Bu… Yah… doakan kami.”
Pesan itu terkirim. Namun mereka tidak tahu apakah Bumi benar-benar menerimanya.
Planet Merah di Depan Mata
Hari demi hari berlalu. Kapsul terus melayang tanpa kendali. Planet merah itu tampak semakin besar. Gunung-gunung raksasa dan lembah-lembah luas mulai terlihat dari jendela. Komputer berbunyi.
“PERINGATAN. PENDARATAN DARURAT AKAN DIMULAI.”
Alvaro memandang adiknya.
“Inilah saatnya.”
Alvari tersenyum tipis.
“Kalau kita selamat.”
“Kita akan mencari jalan pulang.”
Keduanya saling menggenggam tangan. Di luar kapsul, atmosfer Mars mulai menyala karena gesekan.
Kapsul bergetar semakin keras. Mereka hanya bisa berdoa. Beberapa detik lagi. Mereka akan menjadi manusia pertama yang terdampar di Planet Mars.
Bab 5 – Terdampar di Planet Merah
Suara sirene memenuhi kapsul.
“PERINGATAN! PENDARATAN DARURAT DIMULAI!”
Kapsul bergetar semakin hebat. Dari jendela kecil tampak cahaya jingga menyelimuti bagian luar kapsul akibat gesekan dengan atmosfer Mars. Alvari menggenggam erat kursinya.
“Bang… ini lebih menakutkan daripada simulator.”
Alvaro mencoba tersenyum, meskipun jantungnya berdegup sangat kencang.
“Yang penting kita tetap mengikuti prosedur.”
Komputer kembali berbunyi.
“Ketinggian: 25 kilometer.”
Parasut utama otomatis terbuka.
BRAAKK!
Benturan mendadak membuat kapsul bergoyang keras.
“Parasut terbuka!” seru Alvaro.
Namun kegembiraan itu hanya berlangsung beberapa detik.
Alarm kembali meraung.
“PERINGATAN! PARASUT UTAMA ROBEK!”
“Apa?” Alvari membelalakkan mata.
Layar menunjukkan salah satu tali parasut putus akibat tertabrak pecahan logam yang ikut terbawa sejak kecelakaan di antariksa.
Kapsul kembali meluncur turun dengan kecepatan tinggi.
“Kita akan jatuh!” teriak Alvari.
Alvaro segera menekan tombol pengendali.
“Mesin pendarat cadangan, aktif!”
Beberapa detik kemudian…
WUUUSSS!
Mesin pendorong di bagian bawah kapsul menyala. Kecepatan turun mulai berkurang. Tetapi tenaga mesin tidak cukup untuk menghentikan seluruh laju kapsul. Mereka hanya bisa berharap.
Benturan yang Mengubah Segalanya
Lima…
Empat…
Tiga…
Dua…
Satu…
DUUUMMM!!
Kapsul menghantam permukaan Mars dengan sangat keras. Debu merah membubung tinggi hingga menutupi pandangan. Di dalam kapsul, semua lampu padam. Alvaro dan Alvari pingsan karena benturan.
Beberapa jam kemudian. Alvaro perlahan membuka mata. Kepalanya terasa berdenyut.
“Vari… Alvari…”
Tidak ada jawaban. Ia segera melepaskan sabuk pengaman dan menghampiri adiknya.
“Vari…….!”
Alvari masih tidak bergerak. Dengan tangan gemetar, Alvaro memeriksa denyut nadinya. Masih ada. Ia menghela napas lega.
“Syukurlah…”
Beberapa menit kemudian Alvari mulai sadar.
“Bang…”
“Kamu tidak apa-apa?”
“Kepalaku sakit sekali.”
“Yang penting kita masih hidup.”
Langkah Pertama di Mars
Setelah memastikan keadaan cukup aman, mereka mengenakan pakaian antariksa lengkap.
Alvaro memeriksa layar kapsul.
“Tekanan udara di luar hampir tidak ada. Kita tidak boleh membuka helm.”
Alvari mengangguk.
Pintu kapsul perlahan terbuka.
Ssshhh…
Di hadapan mereka terbentang pemandangan yang belum pernah dilihat manusia sebelumnya. Hamparan tanah merah sejauh mata memandang. Bukit-bukit batu yang menjulang. Langit berwarna kemerahan. Tidak ada pohon. Tidak ada sungai. Tidak ada suara burung. Yang terdengar hanyalah hembusan angin tipis yang membawa debu merah.
Alvari terdiam.
“Jadi… beginilah Planet Mars.”
Alvaro melangkah perlahan menuruni tangga kapsul. Begitu kakinya menyentuh tanah, debu merah beterbangan. Alvari ikut turun. Mereka saling berpandangan. Tanpa disadari, mereka telah menjadi manusia pertama yang menginjakkan kaki di Mars dalam keadaan terdampar. Namun tidak ada sorak-sorai. Tidak ada kamera. Tidak ada upacara penyambutan. Yang ada hanyalah kesunyian.
Memeriksa Persediaan
Mereka kembali ke kapsul untuk menghitung semua perlengkapan yang masih bisa digunakan. Hasilnya membuat mereka sedikit lega.
Mereka masih memiliki:
- Makanan kering untuk sekitar tiga bulan jika dihemat.
- Tangki oksigen cadangan.
- Panel surya lipat.
- Tenda khusus bertekanan udara.
- Alat penyaring air.
- Peralatan medis.
- Beberapa benih sayuran untuk percobaan.
- Robot kecil penjelajah bernama Raka.
- Radio darurat berdaya tinggi.
Namun ada satu masalah besar. Antena komunikasi utama patah. Artinya, mereka tidak bisa menghubungi Bumi. Alvari mencoba menyalakan radio.
“Halo… halo… ini Alvari.”
Hanya suara desis yang terdengar. Alvaro mencoba memperbaiki antena. Berjam-jam ia bekerja. Namun hasilnya tetap sama. Radio tidak mampu menjangkau Bumi yang berjarak puluhan juta kilometer. Mereka benar-benar sendirian.
Rumah Baru di Planet Merah
Menjelang malam, suhu mulai turun dengan cepat. Komputer menunjukkan angka -62°C.
“Kalau kita tetap di luar, kita bisa membeku,” kata Alvaro.
Mereka segera mendirikan tenda bertekanan udara beberapa meter dari kapsul. Panel surya dipasang untuk menghasilkan listrik. Robot Raka membantu membawa peralatan. Malam pertama di Mars terasa sangat sunyi.
Alvari membuka sebuah foto keluarga yang selalu ia simpan di saku bajunya. Foto itu memperlihatkan dirinya, Alvaro, Ayah Erwin, dan Ibu Ayu sedang tersenyum di halaman rumah.
“Aku rindu rumah…”
Alvaro duduk di sampingnya.
“Aku juga.”
“Menurutmu… Ayah dan Ibu mengira kita sudah meninggal?”
Alvaro tidak langsung menjawab.
Ia menatap titik biru kecil yang tampak di langit melalui jendela tenda.
“Itu Bumi.”
Air mata Alvari menetes.
“Di sanalah Ayah dan Ibu.”
Alvaro mengangguk pelan.
“Mungkin saat ini mereka sedang berdoa untuk kita.”
Sebuah Janji
Sebelum tidur, Alvaro mengambil sebuah buku catatan.
“Hari Pertama di Mars,” tulisnya.
“Jika suatu hari nanti buku ini ditemukan, semoga orang-orang mengetahui bahwa kami tidak pernah menyerah.”
Ia menyerahkan buku itu kepada Alvari.
“Tulislah juga.”
Alvari menulis dengan perlahan.
“Aku berjanji akan bertahan hidup. Aku ingin pulang dan memeluk Ayah Erwin serta Ibu Ayu lagi.”
Mereka saling tersenyum. Di luar, angin Mars terus bertiup membawa debu merah. Tak ada yang tahu bahwa perjalanan mereka di planet asing itu baru saja dimulai. Mereka harus bertahan bukan selama beberapa hari. Bukan beberapa minggu. Melainkan satu tahun penuh.Dan keesokan harinya, sebuah badai debu raksasa mulai bergerak menuju tempat mereka mendarat.
Bab 6 – Badai Debu Planet Merah
Matahari di Planet Mars tampak jauh lebih kecil dibandingkan Matahari yang biasa dilihat Alvaro dan Alvari dari Bumi. Cahayanya redup, tetapi cukup menerangi hamparan tanah merah yang seolah tak berujung.
Hari itu adalah hari kedua mereka di Mars. Alvaro keluar dari tenda sambil membawa alat pemindai cuaca.
“Tidak ada tanda-tanda kehidupan,” gumamnya.
Alvari mengikuti dari belakang bersama robot kecil mereka,Raka. Robot itu bergerak dengan enam roda dan membawa kamera serta alat pengambil sampel tanah.
“Bip… bip…”
Raka berhenti di depan sebuah batu besar.
“Bang, lihat! Raka menemukan sesuatu.”
Alvaro mengambil sampel tanah yang ditunjukkan robot. Tanah itu mengandung sedikit es yang tersembunyi di bawah lapisan debu.
“Ini kabar baik!” serunya.
“Kalau ada es, berarti kita bisa mendapatkan air.”
Mereka segera memasukkan beberapa bongkah es ke alat pemanas. Perlahan-lahan es itu mencair menjadi air. Walaupun jumlahnya sedikit, keduanya merasa sangat bersyukur.
“Tuhan masih menjaga kita,” kata Alvari.
Tanda Bahaya
Menjelang siang, alat pendeteksi cuaca berbunyi nyaring. BIP! BIP! BIP! Alvaro segera melihat layar. Kecepatan angin meningkat sangat cepat. Grafik tekanan udara berubah drastis.
“Ada apa?” tanya Alvari.
Alvaro menelan ludah.
“Badai debu.”
“Seberapa besar?”
Alvaro memperbesar peta cuaca. Sebuah pusaran merah raksasa sedang bergerak ke arah mereka. Diameternya mencapai ratusan kilometer.
“Kalau ini sampai mengenai tenda kita…”
Ia tidak melanjutkan kalimatnya. Mereka langsung bekerja. Panel surya diperkuat dengan pasak logam.
Tenda diikat menggunakan kabel baja. Semua peralatan dimasukkan ke dalam kapsul. Robot Raka membantu membawa tabung oksigen dan makanan. Dalam waktu kurang dari satu jam, langit berubah menjadi cokelat kemerahan. Matahari perlahan menghilang.
Badai Datang
Hembusan angin pertama terasa seperti tamparan keras. Debu merah beterbangan. Jarak pandang hanya beberapa meter.
“Lekas masuk!” teriak Alvaro.
Mereka berlari memasuki tenda. Beberapa detik kemudian. WHOOOOOSSSSHHHH…!!
Angin mengamuk. Seluruh tenda berguncang hebat. Debu menghantam dinding tenda tanpa henti. Alvari memegang tiang penyangga.
“Bang… apakah tenda ini cukup kuat?”
“Kita harus percaya.”
Tiba-tiba terdengar suara keras. KRAAAK! Salah satu panel surya terlepas.
“Listrik kita!” seru Alvari.
Tanpa panel surya, baterai hanya mampu bertahan beberapa hari. Alvaro mengenakan helmnya.
“Aku harus keluar.”
“Apa? Jangan!”
“Kalau tidak, kita akan kehilangan sumber listrik.”
“Aku ikut!”
“Tidak!”
“Tapi kita selalu bersama.”
Alvaro tersenyum.
“Baiklah.”
Melawan Angin Mars
Mereka membuka pintu tenda. Angin langsung menerjang tubuh mereka. Debu merah menghantam kaca helm hingga hampir tidak bisa melihat apa-apa. Mereka merangkak agar tidak terhempas. Panel surya yang terlepas terseret angin sejauh puluhan meter.
“Di sana!” teriak Alvari.
Namun suaranya hampir tenggelam oleh suara badai. Robot Raka ikut keluar sambil membawa tali pengaman.
“Terima kasih, Raka,” kata Alvari.
Dengan susah payah mereka berhasil mengikat panel surya. Saat hendak kembali. Tiba-tiba tanah di bawah kaki Alvari longsor.
“Aaahhh!”
Ia tergelincir ke lereng berbatu.
“Vari!” teriak Alvaro.
Alvari berusaha berpegangan, tetapi debu membuat batu menjadi licin. Tubuhnya terus meluncur. Alvaro segera melemparkan tali.
“Pegang!”
Alvari menangkap tali itu tepat waktu. Dengan seluruh tenaga yang dimilikinya, Alvaro menarik adiknya perlahan-lahan.
Robot Raka ikut membantu menarik tali menggunakan motornya. Beberapa menit yang terasa sangat lama akhirnya berlalu. Alvari berhasil naik kembali. Ia langsung memeluk kakaknya.
“Hampir saja…”
Alvaro mengangguk sambil terengah-engah.
“Syukurlah kamu selamat.”
Cahaya di Tengah Gelap
Badai berlangsung selama hampir dua hari. Mereka hanya makan sedikit agar persediaan tetap cukup.
Listrik terus dihemat. Saat badai akhirnya mereda, mereka keluar dari tenda. Pemandangan di depan mereka membuat keduanya terdiam. Tanah di sekitar tenda berubah total. Batu-batu besar berpindah tempat. Sebagian peralatan tertimbun debu. Namun tenda mereka masih berdiri.
“Kita berhasil bertahan,” kata Alvari dengan suara pelan.
Alvaro tersenyum.
“Ini baru awal.”
Mereka mulai membersihkan panel surya. Tiba-tiba robot Raka mengeluarkan bunyi.
Bip… bip… bip…
“Ada apa, Raka?” tanya Alvari.
Robot itu bergerak menuju sebuah bukit kecil yang baru terbentuk akibat badai. Di balik bukit itu tampak sesuatu yang berkilau terkena sinar Matahari. Alvaro mendekat.
“Itu… bukan batu.”
Mereka menggali perlahan. Semakin banyak debu yang disingkirkan, semakin jelas benda itu. Bentuknya seperti logam. Ada lampu kecil di sisinya. Dan terdapat lambang sebuah badan antariksa yang sudah sangat tua. Alvari membelalakkan mata.
“Bang…”
“Jangan-jangan…”
“Mungkinkah… pernah ada pesawat lain yang mendarat di Mars sebelum kita?”
Alvaro belum sempat menjawab. Tiba-tiba lampu kecil pada benda itu berkedip.
…Hijau.
Kedua bersaudara itu saling berpandangan. Mereka baru menyadari bahwa mereka mungkin tidak sendirian di Planet Merah.
Bab 7 – Rahasia yang Terkubur di Mars
Alvaro dan Alvari berdiri terpaku di depan benda logam yang baru saja mereka temukan. Lampu kecil di sisinya masih berkedip pelan.
Hijau…
Hijau…
Hijau…
Angin Mars kembali berembus, membawa butiran debu merah yang menari di sekitar benda misterius itu. Alvari menelan ludah.
“Bang… menurutmu… apa itu?”
Alvaro berjongkok dan membersihkan debu yang menempel menggunakan kuas kecil dari kotak peralatan.
Perlahan-lahan, bentuk benda itu mulai terlihat jelas. Ternyata benda itu bukan pesawat. Bukan pula kapsul. Melainkan sebuah robot penjelajah yang hampir seluruh tubuhnya terkubur pasir dan debu. Di bagian depannya masih terlihat tulisan yang mulai pudar. ARES – 07
“Robot penjelajah…” gumam Alvaro.
“Berarti benar-benar pernah ada misi ke sini?”
Alvaro mengangguk.
“Mungkin sudah bertahun-tahun yang lalu.”
Robot yang Hampir Terlupakan
Dengan hati-hati mereka menggali tubuh robot itu hingga seluruh bagiannya terlihat. Rodanya sudah aus. Beberapa kabel putus. Panel suryanya tertutup debu tebal. Namun badan robot itu masih utuh.
“Kalau lampunya masih menyala,” kata Alvari, “berarti masih ada energi.”
Alvaro membuka kotak peralatan.
“Ayo kita coba memperbaikinya.”
Mereka bekerja selama hampir tiga jam. Alvari membersihkan panel surya. Alvaro menyambung kabel yang putus. Robot Raka ikut membantu dengan membawa peralatan kecil. Akhirnya…
Alvaro menekan tombol daya. Tidak terjadi apa-apa. Ia mencoba lagi. Masih diam.
“Sepertinya gagal,” kata Alvari kecewa.
Alvaro menggeleng.
“Belum tentu.”
Ia membuka penutup mesin sekali lagi. Ternyata ada sakelar kecil yang tertutup debu. Setelah dibersihkan, ia menekannya.
Tiba-tiba…BIP…
Lampu robot menyala lebih terang. Rodanya bergerak perlahan. Layar kecil di bagian depan hidup.
“Selamat datang…”
Suara elektronik terdengar pelan. Kedua bersaudara itu saling berpandangan.
“Berhasil!” seru Alvari.
Pesan dari Masa Lalu
Robot ARES-07 ternyata masih menyimpan data. Di layar muncul rekaman video yang dibuat bertahun-tahun sebelumnya. Seorang ilmuwan muncul di layar.
“Jika ada yang menemukan robot ini, berarti misi kami telah lama berakhir.”
Ia tersenyum.
“Kami berhasil menemukan banyak cadangan es di wilayah ini.”
Peta Mars muncul di layar. Beberapa titik biru berkedip.
“Itulah lokasi-lokasi es bawah tanah.”
Video berhenti. Alvaro memandang peta itu dengan penuh harapan.
“Vari…”
“Ya?”
“Kalau kita bisa menemukan cadangan es itu, kita akan memiliki persediaan air lebih banyak.” Alvari tersenyum lebar.
“Berarti peluang kita untuk bertahan hidup semakin besar.”
Perjalanan Berbahaya
Keesokan paginya mereka mempersiapkan perjalanan. Robot Raka berjalan di depan. ARES-07 mengikuti dari belakang. Menurut peta, lokasi es terdekat berada sekitar enam kilometer dari tempat mereka mendarat.
Perjalanan itu tidak mudah. Mereka harus melewati bebatuan tajam dan lereng yang curam. Beberapa kali Alvari hampir terpeleset. Namun mereka terus berjalan. Setelah hampir empat jam, Raka berhenti.
“Bip! Bip!”
Di depan mereka terdapat sebuah tebing batu.
“Tidak mungkin ada es di sini,” kata Alvari.
Alvaro melihat layar pemindai.
“Justru di bawah tebing ini.”
Mereka mulai menggali menggunakan bor portabel. Satu jam…Dua jam…Tiga jam…
Tiba-tiba mata bor menembus sesuatu yang keras.
Alvaro memperbesar lubang. Di balik lapisan tanah merah tampak bongkahan berwarna putih kebiruan.
“Es!” serunya.
Alvari melonjak kegirangan. Mereka segera mengambil beberapa bongkah dan memasukkannya ke wadah pendingin. Air bukan lagi masalah terbesar mereka.
Sinyal yang Lemah
Saat hendak kembali ke tenda, ARES-07 tiba-tiba berhenti. Lampunya berkedip cepat.
“Bip… bip… bip…”
“Ada apa?” tanya Alvari.
Robot itu mengarahkan antenanya ke langit. Layar kecilnya menampilkan satu kalimat.
SINYAL RADIO TERDETEKSI.
Alvaro segera mengeluarkan radio darurat mereka. Ia memutar frekuensi perlahan. Awalnya hanya suara desis.
Lalu…
“…Halo…”
Suara itu sangat lemah.
“Kak! Ada suara!”
Alvaro menaikkan volume.
“…Apakah ada yang menerima…”
Suara kembali terputus. Meski hanya beberapa detik, keduanya hampir melompat kegirangan.
“Itu pasti dari Bumi!” seru Alvari.
Alvaro mengangguk.
“Artinya mereka belum menyerah mencari kita.”
Mereka segera mengirim balasan.
“Di sini Alvaro dan Alvari! Kami selamat! Kami berada di Mars!”
Namun tidak ada jawaban. Jarak antara Mars dan Bumi terlalu jauh. Sinyal mereka belum cukup kuat.
Janji untuk Bertahan
Malam itu mereka duduk di depan jendela tenda. Di kejauhan tampak Bumi sebagai titik biru kecil. Alvari memegang foto keluarganya.
“Ayah Erwin pasti masih menunggu kita.”
“Ibu Ayu juga.”
Alvaro tersenyum.
“Kalau mereka belum menyerah, kita juga tidak boleh menyerah.”
Keduanya saling berjabat tangan.
“Apa pun yang terjadi…”
“Kita akan bertahan.”
“Dan kita akan pulang.”
Mereka belum tahu bahwa pada saat yang sama, jutaan kilometer jauhnya, di Bumi, para ilmuwan akhirnya menemukan secercah petunjuk bahwa dua astronot muda itu masih hidup. Harapan yang selama berbulan-bulan hampir padam kini mulai menyala kembali. Namun perjalanan menuju penyelamatan masih sangat panjang.
Bab 8 – Harapan dari Bumi
Hari ke-132 di Planet Mars. Alvaro menuliskan angka itu di buku hariannya. Setiap hari ia selalu mencatat apa yang mereka alami. Ia berharap, jika suatu saat buku itu ditemukan, dunia akan mengetahui bagaimana dua bersaudara itu berjuang mempertahankan hidup di planet yang gersang. Di luar tenda, Alvari sedang membersihkan panel surya yang kembali dipenuhi debu merah.
“Bang, kalau debunya terus begini, listrik kita akan cepat habis.”
“Aku tahu,” jawab Alvaro sambil keluar membawa sikat kecil.
“Mulai hari ini kita bersihkan dua kali sehari.”
Robot RakadanARES-07 ikut membantu. Walaupun gerakan ARES-07 sudah lambat karena usianya yang tua, robot itu masih berguna untuk memindai daerah sekitar. Mereka kini memiliki rutinitas yang hampir sama setiap hari. Pagi hari membersihkan panel surya. Siang hari mencari es dan batuan untuk penelitian. Sore hari memperbaiki peralatan. Malam hari mencoba menghubungi Bumi. Mereka terus berharap.
Ayah dan Ibu Tidak Pernah Menyerah
Jutaan kilometer jauhnya, di Bumi, Erwin dan Ayu belum pernah berhenti berdoa. Sudah lebih dari empat bulan sejak kecelakaan Garuda Explorer-1. Banyak orang mulai menganggap Alvaro dan Alvari telah gugur. Namun Erwin selalu berkata kepada wartawan,
“Aku percaya anak-anakku masih hidup.”
Ayu mengangguk sambil memegang foto kedua putranya.
“Selama belum ada bukti sebaliknya, kami akan terus menunggu.”
Setiap malam mereka menyalakan sebuah lampu kecil di teras rumah.
“Itu untuk siapa, Bu?” tanya seorang tetangga.
Ayu tersenyum.
“Supaya kalau suatu hari mereka pulang malam, rumah ini tetap terlihat terang.”
Mendengar jawaban itu, banyak orang ikut terharu.
Doa untuk Alvaro dan Alvari terus dipanjatkan di sekolah, gereja, dan berbagai tempat di seluruh negeri.
Secercah Harapan
Di Pusat Kendali Antariksa, para ilmuwan masih memantau sinyal dari luar angkasa. Seorang teknisi muda bernama Dimas sedang memeriksa data yang diterima antena raksasa. Tiba-tiba ia menghentikan pekerjaannya.
“Pak!”
Direktur pusat kendali menoleh.
“Ada apa?”
“Ada sinyal aneh.”
“Sinyal apa?”
Dimas memperbesar grafik di layar. Gelombangnya sangat lemah. Namun memiliki pola yang teratur.
“Bukan gangguan kosmik.”
“Kalau begitu?”
Dimas menarik napas panjang.
“Ini… kode panggilan radio.”
Semua orang segera berkumpul. Komputer super mulai menganalisis sinyal itu. Beberapa menit kemudian muncul tulisan di layar. SUMBER SINYAL: ARAH PLANET MARS
Ruangan mendadak sunyi. Direktur berdiri perlahan.
“Perbesar hasil penerimaan.”
Suara yang semula hanya berupa desisan mulai terdengar lebih jelas.
“…Al…va…”
“…Al…va…ri…”
Walaupun terputus-putus, semua orang langsung mengenali nama itu.
“Mereka hidup!” seru seseorang.
Ruangan yang semula sunyi berubah menjadi riuh. Ada yang bertepuk tangan. Ada yang menitikkan air mata. Direktur segera memberi perintah,
“Kumpulkan seluruh tim. Kita harus membawa mereka pulang.”
Kabar yang Menghidupkan Harapan
Beberapa jam kemudian, Erwin dan Ayu dipanggil ke Pusat Kendali Antariksa. Mereka datang dengan hati berdebar. Direktur menyambut mereka.
“Pak Erwin… Bu Ayu…”
“Apa ada kabar tentang anak kami?” tanya Ayu dengan suara gemetar.
Direktur tersenyum.
“Kami belum bisa memastikan seratus persen.”
“Tetapi…”
“Kami berhasil menangkap sinyal yang diduga kuat berasal dari Alvaro dan Alvari.”
Ayu langsung menutup wajahnya sambil menangis. Erwin memejamkan mata.
“Terima kasih, Tuhan…”
Direktur melanjutkan,
“Jarak Mars sangat jauh. Karena itu komunikasi belum stabil. Namun sekarang kami memiliki alasan kuat untuk melakukan misi penyelamatan.”
Erwin menggenggam tangan istrinya.
“Aku sudah bilang…”
“Mereka pasti masih hidup.”
Menunggu Balasan
Sementara itu di Mars, Alvaro kembali mencoba mengirim pesan.
“Di sini Alvaro dan Alvari.”
“Kami dalam keadaan selamat.”
“Kami memiliki persediaan air.”
“Kami akan terus bertahan.”
Mereka mengulang pesan itu berkali-kali.
Beberapa menit berlalu.
Radio hanya mengeluarkan suara desis.
Alvari menghela napas.
“Mungkin mereka belum mendengar.”
Tiba-tiba…
Radio berbunyi.
KRRR… KRRR…
Lalu terdengar suara yang sangat pelan.
“…bertahan…”
“…kami…”
“…datang…”
Hanya tiga kata.
Tetapi tiga kata itu membuat kedua bersaudara itu saling memandang dengan mata berbinar.
“Bang…”
“Aku juga mendengarnya.”
“Itu dari Bumi.”
Alvaro mengangguk.
“Mereka sedang menuju ke sini.”
Harapan Baru
Malam itu terasa berbeda.
Untuk pertama kalinya sejak terdampar, mereka tidur dengan hati yang lebih tenang.
Sebelum mematikan lampu, Alvari berkata,
“Bang…”
“Ya?”
“Kalau nanti kita pulang…”
“Apa yang ingin kamu lakukan?”
Alvari tersenyum.
“Aku ingin makan masakan Ibu sampai kenyang.”
Alvaro tertawa.
“Aku juga.”
“Lalu kita memeluk Ayah sekuat-kuatnya.”
“Dan kita melihat langit dari halaman rumah lagi.”
Keduanya memandang titik biru kecil di langit Mars.
Kini titik itu tidak lagi terasa begitu jauh.
Di balik titik biru itu, ada orang-orang yang tidak pernah berhenti menunggu mereka.
Dan di balik titik biru itu pula, sebuah roket penyelamat mulai dipersiapkan.
Namun, sebelum misi penyelamatan dapat diluncurkan, Alvaro dan Alvari harus menghadapi ujian terberat selama hidup mereka.
Persediaan oksigen mulai menipis.
Dan sebuah retakan kecil muncul pada dinding tenda tempat mereka tinggal.
Krisis Oksigen
Hari ke-186 di Planet Mars.
Matahari baru saja muncul di balik bukit berbatu. Cahaya keemasannya menyinari permukaan Planet Merah yang dipenuhi debu halus. Dari kejauhan, angin bertiup pelan membawa butiran pasir yang berkilau diterpa sinar matahari.
Di dalam habitat, Alvaro membuka matanya. Seperti biasa, ia langsung melihat layar pemantau di dinding. Setiap pagi ia selalu mengecek suhu, tekanan udara, cadangan air, energi listrik, dan oksigen.
Namun pagi itu, sesuatu membuatnya langsung duduk tegak. Sebuah indikator berwarna merah berkedip.
Cadangan Oksigen: 18%
Alvaro mengerutkan kening.
“Mustahil…”
Ia menekan beberapa tombol untuk memastikan tidak ada kesalahan pada sistem. Angka itu tetap sama.
Dengan napas pelan ia memanggil adiknya.
“Vari… bangun.”
Alvari yang masih mengantuk keluar dari kamar kecil mereka.
“Ada apa, Bang?”
Alvaro menunjuk layar.
Alvari langsung terdiam.
“Wah… kenapa tinggal segitu?”
“Itu yang harus kita cari tahu.”
Mereka segera memulai pemeriksaan. Semua tabung oksigen masih tersusun rapi. Mesin elektrolisis yang mengubah air menjadi oksigen juga masih menyala. Tanaman hidroponik tetap tumbuh hijau. Tidak ada alarm kerusakan. Semuanya tampak normal.
“Kalau semua normal, kenapa oksigen terus berkurang?” gumam Alvari.
Robot ARES-07 datang membawa alat pemindai.
“Cek seluruh habitat,” perintah Alvaro.
“Perintah diterima.”
Robot itu bergerak perlahan menyusuri setiap sudut ruangan. Beberapa menit kemudian, lampunya berkedip merah.
Bip! Bip! Bip!
“Laporan. Ditemukan penurunan tekanan udara di sektor belakang.”
Alvaro dan Alvari segera mengikuti robot itu. Di dekat sambungan dinding belakang, alat pendeteksi tekanan menunjukkan angka yang tidak stabil. Alvaro mendekat. Terdengar suara sangat pelan.
Ssssss…
Ia menghela napas.
“Kita menemukan penyebabnya.”
Retakan kecil sepanjang beberapa sentimeter tampak di sambungan logam habitat. Retakan itu hampir tidak terlihat. Namun udara terus keluar tanpa henti.
“Sejak kapan ini terjadi?” tanya Alvari.
“Mungkin sejak badai debu besar beberapa minggu lalu.”
Mereka saling berpandangan. Retakan kecil itu ternyata telah menghabiskan sebagian besar cadangan oksigen.
“Waktu kita tidak banyak,” kata Alvaro.
“Kalau tekanan terus turun, kita hanya punya beberapa jam sebelum keadaan menjadi berbahaya.”
Mereka segera mengambil perlengkapan perbaikan. Masalah baru muncul. Lem penambal khusus tinggal sedikit.
“Ini bahkan tidak cukup untuk dua kali percobaan,” kata Alvari.
Alvaro berpikir keras.
“Kita harus berhasil pada percobaan pertama.”
Mereka mengenakan pakaian antariksa lalu keluar dari habitat. Begitu pintu terbuka, angin Mars langsung menerpa tubuh mereka. Debu tipis beterbangan. Langkah mereka terasa berat karena pakaian antariksa yang tebal. Retakan berada di sisi luar habitat. Alvaro membersihkan debu yang menempel menggunakan sikat kecil. Sementara itu, Alvari menyiapkan lem penambal.
“Tiga… dua… satu…”
Lem mulai dioleskan. Tiba-tiba angin bertiup lebih kencang. Debu beterbangan dan menempel pada lem yang belum mengeras.
“Astaga!”
Lem gagal merekat sempurna.
“Kita harus mengulang.”
Mereka menggunakan sisa lem yang ada. Kali ini Alvari menahan pelindung agar debu tidak mengenai permukaan retakan. Alvaro menekan penambal sekuat tenaga. Mereka menunggu beberapa menit.
“Semoga berhasil…”
Setelah cukup keras, mereka kembali masuk ke habitat. Alvaro segera melihat layar tekanan udara. Semua menunggu dengan cemas. Angka tekanan berhenti turun. Lalu perlahan mulai naik.
“Oksigen tidak bocor lagi!” seru Alvari.
Namun kegembiraan itu hanya berlangsung sebentar. Tiba-tiba terdengar alarm lain.
Peringatan! Produksi oksigen menurun.
“Apa lagi sekarang?” keluh Alvari.
Alvaro memeriksa mesin elektrolisis. Ternyata salah satu filternya dipenuhi debu halus Mars yang berhasil masuk melalui saluran udara. Akibatnya produksi oksigen turun hingga setengahnya.
“Kalau mesin ini tidak segera dibersihkan, kita tetap akan kekurangan oksigen.”
Untunglah mereka masih memiliki satu filter cadangan. Dengan hati-hati Alvaro menggantinya.
Beberapa menit kemudian mesin kembali bekerja normal. Suara dengungnya terdengar lebih stabil. Perlahan angka produksi oksigen naik.
20%.
25%.
30%.
Semua menghela napas lega. Robot ARES-07 mengangkat kedua lengannya.
“Selamat. Habitat kembali aman.”
Alvari tertawa.
“Terima kasih, ARES.”
Malam harinya mereka duduk di dekat jendela habitat. Planet Mars kembali sunyi. Langit dipenuhi ribuan bintang yang tampak jauh lebih terang daripada di Bumi.
“Hari ini kita hampir kehabisan oksigen,” kata Alvari pelan.
Alvaro mengangguk.
“Di Mars, masalah sekecil apa pun bisa menjadi ancaman besar.”
Alvari memandang ke luar jendela.
“Kalau kita tidak memeriksa indikator pagi ini…”
Alvaro tersenyum tipis.
“Karena itu seorang penjelajah tidak boleh lengah.”
Mereka menuliskan seluruh kejadian hari itu ke dalam buku log misi.
Catatan Hari ke-186
“Retakan kecil dapat menyebabkan kehilangan oksigen dalam jumlah besar. Pemeriksaan rutin adalah kunci keselamatan. Di Mars, setiap napas sangat berharga.”
Setelah memastikan semua sistem kembali normal, mereka mematikan lampu habitat. Di luar, angin Mars kembali bertiup pelan. Malam terasa tenang.
Namun Alvaro tahu, Planet Merah masih menyimpan banyak tantangan yang belum mereka hadapi.
Bab 10 – Misi Penyelamatan
Hari ke-275 di Planet Mars. Musim dingin di Planet Merah mulai mencapai puncaknya. Matahari hanya bersinar sebentar setiap hari, sementara suhu pada malam hari turun hingga hampir –90°C.
Walaupun retakan pada tenda berhasil diperbaiki beberapa minggu sebelumnya, Alvaro dan Alvari sadar bahwa mereka tidak bisa terus bergantung pada keberuntungan. Persediaan makanan tinggal sedikit. Tangki oksigen cadangan hanya cukup untuk beberapa bulan lagi. Setiap hari mereka menghitung sisa energi panel surya. Setiap hari mereka berdoa agar bantuan segera datang.
Sebuah Janji dari Bumi
Jutaan kilometer jauhnya, suasana di Pusat Kendali Antariksa sangat sibuk. Puluhan ilmuwan bekerja siang dan malam. Layar-layar raksasa menampilkan lintasan Planet Bumi dan Mars. Direktur pusat kendali berdiri di depan seluruh tim.
“Hari ini kita memulai misi penyelamatan.”
Semua orang bertepuk tangan. Nama misi itu adalah Harapan-1. Misi tersebut hanya memiliki satu tujuan. Membawa Alvaro dan Alvari pulang.
Komandan Rudi, yang selamat dari kecelakaan Garuda Explorer-1, mengajukan diri menjadi pemimpin misi.
“Aku berutang kepada mereka,” katanya.
“Akulah yang mengirim mereka ke kapsul penyelamat. Sekarang akulah yang harus menjemput mereka.”
Tak seorang pun menolak. Semua tahu bahwa Komandan Rudi adalah orang yang paling memahami keadaan kedua bersaudara itu.
Roket Harapan-1
Beberapa minggu kemudian, sebuah roket baru berdiri megah di landasan peluncuran. Di badan roket tertulis dengan huruf besar: HARAPAN-1
Erwin dan Ayu hadir menyaksikan peluncuran bersama ribuan orang lainnya. Sebelum naik ke dalam pesawat, Komandan Rudi menghampiri mereka.
“Pak Erwin… Bu Ayu…”
“Kami mempercayakan anak-anak kami kepada Anda,” kata Erwin sambil menggenggam tangan sang komandan.
Komandan Rudi mengangguk mantap.
“Saya berjanji akan melakukan segala yang saya bisa untuk membawa mereka pulang.”
Ayu menyerahkan sebuah bungkusan kecil.
“Apa ini?” tanya Komandan.
“Foto keluarga.”
Komandan membukanya.
Di dalamnya terdapat foto Alvaro dan Alvari saat masih kecil, sedang bermain layang-layang bersama ayah dan ibu mereka.
“Kalau nanti bertemu mereka…”
Ayu tersenyum sambil menahan air mata.
“Tolong tunjukkan foto ini.”
Komandan Rudi memasukkan foto itu ke dalam saku bajunya.
“Saya pasti akan menunjukkannya.”
Menunggu dengan Setia
Di Mars, Alvaro dan Alvari sama sekali tidak mengetahui bahwa misi penyelamatan telah diluncurkan. Mereka tetap menjalani kehidupan seperti biasa. Suatu malam, Alvari duduk di depan pintu tenda sambil memandangi langit.
“Bang…”
“Ya?”
“Sudah berapa lama kita di sini?”
Alvaro membuka buku hariannya.
“Hari ini, hari ke-275.”
Alvari tersenyum kecil.
“Berarti kita hampir delapan bulan.”
“Iya.”
“Rasanya seperti bertahun-tahun.”
Mereka tertawa pelan. Kesunyian Mars membuat tawa itu terdengar begitu jelas.
Hadiah Ulang Tahun
Beberapa hari kemudian, Alvaro membuka kalender digital. Ia terdiam.
“Ada apa, Bang?” tanya Alvari.
“Hari ini…”
“Hari apa?”
“Hari ulang tahunmu.”
Alvari terkejut.
“Aku sampai lupa.”
Di Mars tidak ada toko. Tidak ada kue. Tidak ada lilin. Tidak ada hadiah. Alvaro masuk ke dalam tenda. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil yang dibuat dari bekas kemasan makanan.
“Ini untukmu.”
Alvari membukanya perlahan. Di dalamnya terdapat sebuah miniatur roket yang dibuat Alvaro dari potongan aluminium bekas kapsul mereka. Di bagian bawahnya tertulis:
“Untuk Alvari. Kita pasti pulang.”
Alvari memeluk kakaknya.
“Ini hadiah terbaik yang pernah aku terima.”
Tanda di Langit
Malam itu, saat mereka sedang berbincang di luar tenda, robot Raka tiba-tiba mengeluarkan bunyi nyaring.
Bip! Bip! Bip!
“Lihat!” serunya melalui layar elektronik. Di langit tampak sebuah titik cahaya yang bergerak perlahan. Awalnya mereka mengira itu hanyalah bintang. Namun cahaya itu semakin terang. Semakin besar. Semakin dekat. Alvari berdiri.
“Bang…”
“Aku melihatnya.”
“Itu bukan meteor.”
“Tidak.”
“Bukan satelit.”
“Bukan.”
Mereka saling berpandangan. Jantung keduanya berdegup sangat kencang. Mungkinkah…
Itu adalah pesawat dari Bumi? Alvaro segera menyalakan radio darurat.
“Di sini Alvaro dan Alvari!”
“Kami berada di koordinat pendaratan kapsul!”
Tidak ada jawaban. Namun cahaya itu terus mendekat. Mereka menyalakan semua lampu darurat yang masih tersisa. Robot Raka dan ARES-07 ikut mengaktifkan lampu penanda.
Di tengah hamparan Mars yang gelap, tenda kecil mereka kini tampak seperti sebuah titik cahaya.
Harapan yang Semakin Dekat
Di dalam pesawat Harapan-1, Komandan Rudi memandang layar radar.
“Saya menangkap sinyal.”
Dr. Sofia, yang ikut dalam misi penyelamatan, tersenyum.
“Itu mereka.”
Komandan Rudi mengepalkan tangan.
“Alvaro… Alvari… bertahanlah.”
“Kami sudah hampir sampai.”
Pesawat mulai memasuki orbit Mars. Untuk pertama kalinya setelah lebih dari sembilan bulan, jarak antara kedua bersaudara itu dan para penyelamat mereka tinggal beberapa ratus kilometer. Namun perjalanan belum selesai.
Mereka masih harus mendarat dengan selamat di permukaan Mars. Kesalahan sekecil apa pun dapat menggagalkan seluruh misi.
Di bawah sana, Alvaro dan Alvari hanya bisa memandang langit dengan penuh harapan. Mereka belum tahu bahwa orang-orang yang mereka rindukan kini benar-benar datang menjemput.
Bab 11 – Pertemuan di Planet Merah
Hari ke-365 di Planet Mars. Genap satu tahun sudah Alvaro dan Alvari hidup di planet yang sunyi itu. Mereka berdiri di depan tenda sambil menatap langit yang berwarna jingga kemerahan. Cahaya yang mereka lihat beberapa hari sebelumnya kini semakin terang.
“Bang…” bisik Alvari.
“Iya.”
“Aku tidak sedang bermimpi, kan?”
Alvaro menggeleng sambil tersenyum.
“Tidak. Aku juga melihatnya.”
Titik cahaya itu semakin membesar. Semakin dekat.
Lalu terdengar suara gemuruh yang belum pernah mereka dengar selama setahun berada di Mars.
WUUUUUUUSSSSHHHH…
Angin berembus kencang ketika sebuah wahana antariksa mulai memasuki atmosfer Mars. Api tampak menyelimuti bagian bawah pesawat akibat gesekan udara.
Alvari hampir menitikkan air mata.
“Itu benar-benar pesawat dari Bumi…”
Pendaratan yang Menegangkan
Di dalam pesawat Harapan-1, semua astronot sibuk di tempat masing-masing. Komandan Rudi memegang kemudi.
“Kecepatan turun stabil.”
Dr. Sofia memeriksa layar.
“Angin permukaan meningkat.”
Dr. Kenji menambahkan,
“Medan di sekitar lokasi pendaratan dipenuhi batu-batu besar.”
Komandan Rudi menarik napas panjang.
“Kita hanya punya satu kesempatan.”
Pesawat perlahan menurunkan kecepatannya. Mesin pendorong dinyalakan. Debu merah beterbangan ke segala arah. Melalui jendela depan, mereka mulai melihat sesuatu.
“Saya melihat tenda!”
“Dan…”
“Ada dua orang berdiri di depan!”
Komandan Rudi tersenyum.
“Itu mereka.”
Air Mata Pertemuan
Pesawat akhirnya mendarat dengan mulus sekitar lima puluh meter dari tenda. Pintu wahana perlahan terbuka. Tangga logam diturunkan. Orang pertama yang keluar adalah Komandan Rudi.
Ia berjalan perlahan menuju dua sosok yang sudah setahun tidak pernah dilihatnya. Alvaro dan Alvari berdiri tanpa mampu berkata-kata.
Begitu jarak mereka tinggal beberapa langkah, Komandan Rudi membuka helmnya di dalam ruang transisi bertekanan yang terhubung dengan tenda. Matanya berkaca-kaca.
“Maafkan saya…”
Suara itu bergetar.
“Aku datang terlambat.”
Alvaro tersenyum.
“Bukan terlambat, Komandan.”
“Anda datang tepat waktu.”
Komandan Rudi langsung memeluk Alvaro. Lalu memeluk Alvari. Tak seorang pun mampu menahan air mata. Setahun penuh mereka hidup dalam kesendirian. Kini akhirnya mereka bertemu manusia lagi.
Dr. Sofia dan Dr. Kenji ikut menghampiri.
“Kalian luar biasa,” kata Dr. Sofia.
“Tidak banyak orang yang bisa bertahan selama ini.”
Alvari tertawa kecil.
“Kami hampir menyerah beberapa kali.”
“Tetapi kami selalu ingat pesan Ayah dan Ibu.”
Titipan dari Rumah
Komandan Rudi teringat sesuatu. Ia membuka saku pakaiannya.
“Aku membawa titipan.”
“Apa itu?”
Sebuah foto keluarga.
Begitu melihat foto itu, Alvari langsung menutup mulutnya.
“Itu…”
Foto tersebut memperlihatkan Erwin, Ayu, Alvaro, dan Alvari sedang tersenyum di halaman rumah.
Di balik foto terdapat tulisan tangan Ayu.
‘Ayah dan Ibu percaya kalian akan pulang. Jangan pernah menyerah. Kami selalu menunggu kalian.’
Alvaro membaca tulisan itu berulang kali. Air matanya jatuh membasahi foto.
“Ayah…”
“Ibu…”
Alvari memeluk foto itu erat.
“Aku sangat rindu rumah.”
Komandan Rudi berkata pelan,
“Mereka tidak pernah berhenti berdoa.”
Perpisahan dengan Planet Merah
Keesokan paginya mereka mulai mengemas barang-barang. Buku harian Alvaro dimasukkan ke dalam kotak penyimpanan. Foto keluarga disimpan dengan hati-hati. Robot Raka ikut dibawa pulang.
Sedangkan ARES-07 tetap ditinggalkan di Mars. Sebelum berangkat, Alvari menghampiri robot tua itu.
“Terima kasih sudah membantu kami.”
Alvaro menancapkan sebuah papan kecil di dekat ARES-07. Di atasnya tertulis:
“Di tempat ini, Alvaro dan Alvari bertahan hidup selama satu tahun. Jangan pernah menyerah selama harapan masih ada.”
Mereka berdiri beberapa saat memandangi hamparan Mars. Planet itu telah menjadi rumah sekaligus tempat perjuangan mereka. Dengan langkah perlahan, keduanya menaiki tangga wahana. Pintu pesawat tertutup. Mesin mulai menyala.
Melalui jendela, mereka melihat tenda kecil yang selama setahun melindungi mereka semakin menjauh. Debu merah kembali beterbangan.
Pesawat Harapan-1 lepas landas meninggalkan Planet Mars. Namun perjalanan belum benar-benar berakhir.
Masih ada jutaan kilometer yang harus ditempuh sebelum mereka dapat memeluk Erwin dan Ayu. Dan di Bumi, jutaan orang telah menunggu kabar kepulangan dua bersaudara yang tidak pernah menyerah itu.
Bab 12 – Pulang ke Bumi
Perjalanan pulang dari Mars menuju Bumi memakan waktu beberapa bulan. Walaupun kini Alvaro dan Alvari berada di dalam pesawat yang aman, mereka masih harus menjalani pemeriksaan kesehatan setiap hari.
Tubuh mereka menjadi lebih lemah karena selama satu tahun hidup di Mars dengan gravitasi yang lebih kecil daripada Bumi. Otot-otot mereka mengecil dan tulang mereka memerlukan waktu untuk kembali kuat.
Setiap pagi mereka berlatih berjalan menggunakan alat khusus.
“Pelan-pelan,” kata Dr. Sofia.
“Kalau langsung dipaksa, tubuh kalian bisa cedera.”
Alvari tersenyum.
“Berjalan saja sekarang terasa seperti belajar dari awal.”
Semua orang tertawa.
Namun tawa itu kini terasa jauh lebih hangat dibandingkan ketika mereka berada di Mars.
Menunggu Hari Kepulangan
Sementara itu, di Bumi, berita keberhasilan misi penyelamatan menjadi berita utama di seluruh dunia. Semua stasiun televisi menyiarkan perjalanan pesawat Harapan-1. Anak-anak di sekolah membuat gambar Planet Mars dan menuliskan kalimat:
“Selamat Datang Kembali, Alvaro dan Alvari!”
Di halaman rumah, Erwin mengecat kembali pagar yang mulai kusam. Ayu membersihkan kamar kedua putranya. Tidak ada satu pun barang yang dipindahkan. Tempat tidur mereka masih rapi seperti hari saat mereka berangkat. Foto keluarga masih berdiri di atas meja belajar. Ayu mengusap bingkai foto sambil tersenyum.
“Kalian akan segera pulang.”
Planet Biru
Beberapa bulan kemudian, sebuah suara terdengar dari ruang kendali pesawat.
“Perhatian seluruh kru.”
“Bumi sudah terlihat.”
Alvaro dan Alvari segera berlari kecil menuju jendela. Di kejauhan tampak sebuah bola berwarna biru dengan awan putih yang indah. Alvari menahan napas.
“Itu…”
“Bumi,” jawab Alvaro dengan mata berkaca-kaca.
Selama setahun lebih mereka hanya melihatnya sebagai titik kecil di langit Mars. Kini rumah mereka kembali tampak begitu besar dan indah.
“Aku tidak pernah menyangka warna biru bisa seindah ini,” bisik Alvari.
Pendaratan Bersejarah
Ribuan orang telah memenuhi Pusat Antariksa Nusantara. Bendera berbagai negara berkibar.
Puluhan wartawan berdiri di balik pagar pembatas. Hitungan mundur dimulai.
“Sepuluh…”
“Sembilan…”
Pesawat Harapan-1 perlahan memasuki atmosfer Bumi. Parasut utama terbuka. Mesin pendorong bekerja sempurna. Beberapa saat kemudian…
DUMM…
Pesawat mendarat dengan mulus. Tepuk tangan dan sorak-sorai langsung bergema. Semua orang berdiri. Pintu pesawat perlahan terbuka. Komandan Rudi turun lebih dahulu. Disusul Dr. Sofia dan Dr. Kenji.
Lalu…
Dua sosok yang telah dinantikan dunia akhirnya muncul. Alvaro dan Alvari.
Mereka melambaikan tangan kepada semua orang. Suara tepuk tangan semakin keras. Beberapa orang bahkan menitikkan air mata.
Pelukan yang Dinanti
Di ujung karpet merah, Erwin dan Ayu sudah berdiri sambil menahan tangis. Begitu melihat kedua anaknya berjalan mendekat, Ayu tidak mampu lagi menahan air mata.
“Alvaro!”
“Alvari!”
Ia berlari memeluk kedua putranya. Tangis haru pecah.
“Akhirnya kalian pulang…”
Alvari memeluk ibunya erat.
“Aku sangat rindu Ibu.”
Erwin memeluk Alvaro.
“Selamat datang di rumah, Nak.”
“Terima kasih, Yah.”
Kemudian mereka berempat saling berpelukan. Tidak ada kata-kata yang mampu menggambarkan kebahagiaan saat itu. Orang-orang di sekitar ikut bertepuk tangan. Bahkan beberapa wartawan meneteskan air mata ketika melihat pertemuan keluarga itu.
Pahlawan yang Rendah Hati
Beberapa hari kemudian, pemerintah memberikan penghargaan kepada seluruh kru misi penyelamatan. Dalam pidatonya, Presiden berkata,
“Alvaro dan Alvari mengajarkan kepada kita bahwa ilmu pengetahuan, keberanian, kerja sama, dan kasih keluarga mampu mengalahkan rasa putus asa.”
Ketika diminta memberikan sambutan, Alvaro berdiri di depan ribuan orang. Ia berkata dengan tenang,
“Semua orang menyebut kami pahlawan.”
“Tetapi sebenarnya kami hanya dua anak yang ingin pulang.”
“Yang membuat kami bertahan bukan hanya ilmu yang kami pelajari, tetapi juga doa orang tua kami, persaudaraan kami, dan harapan bahwa suatu hari kami akan melihat Bumi lagi.”
Semua hadirin memberikan tepuk tangan yang panjang.
Kembali ke Rumah
Malam harinya, keluarga kecil itu akhirnya kembali ke rumah. Rumah yang sederhana itu terasa begitu hangat. Ayu memasak semua makanan kesukaan Alvaro dan Alvari. Ada sop ayam, ikan bakar, sayur kesukaan mereka, dan kue cokelat buatan Ayu.
Alvari tertawa.
“Selama setahun aku hanya makan makanan kemasan.”
“Aku bermimpi makan masakan Ibu.”
Ayu tersenyum.
“Sekarang makanlah sepuasnya.”
Mereka makan bersama sambil bercerita hingga larut malam. Untuk pertama kalinya setelah lebih dari satu tahun, meja makan keluarga itu kembali lengkap.
Langit yang Sama
Beberapa tahun kemudian, Alvaro dan Alvari sering diundang ke sekolah-sekolah untuk berbagi pengalaman.
Mereka selalu membawa buku harian yang ditulis selama berada di Mars. Anak-anak mendengarkan kisah mereka dengan penuh kagum.
Suatu malam, setelah semua kegiatan selesai, mereka kembali duduk di halaman rumah bersama Erwin dan Ayu.
Persis seperti ketika mereka masih kecil. Langit dipenuhi bintang. Alvari menunjuk sebuah titik merah kecil.
“Itu Mars.”
Alvaro tersenyum.
“Dulu kita mengira Mars adalah tempat yang jauh dan menakutkan.”
Erwin berkata pelan,
“Ternyata tempat yang paling indah bukanlah planet yang paling jauh.”
Ayu melanjutkan,
“Melainkan rumah… tempat keluarga menunggu dengan penuh kasih.”
Alvaro menggenggam tangan ayahnya. Alvari menggenggam tangan ibunya. Mereka memandang langit bersama.
Kini mereka tahu bahwa sejauh apa pun seseorang pergi, selalu ada satu tempat yang ingin ia tuju. Tempat itu adalah rumah. Dan selama masih ada keluarga yang menunggu, selama masih ada harapan yang dijaga, tidak ada perjalanan yang terlalu jauh untuk kembali.
TAMAT
Erwin Hartono: Seniman Riau yang tunak bersastra. Beberapa buku kumpulan cerpen dan puisi telah diterbitkan, menjadi editor sejumlah buku, dan aktif menulis cerpen dan puisi yang tersebar di sejumlah media cetak: Riau pos, Majalah Sagang, Metro Riau, Haluan Riau, Harian Detik, Bahana Mahasiswa Unri dan sejumlah media online. Saat ini selain menjadi guru, aktif sebagai wartawan nadariau.com dan alvariau.com, serta sebagai Humas dibeberapa organisasi.

