Keluarga yang Menjadi Garam dan Terang Dunia

Ibadah Raya Gereja Misi Injili Indonesia (GMII) Nehemia, Rejosari, Pekanbaru, pada Minggu, 5 Juli 2026, dipimpin oleh Gembala Sidang, Pdt. Samuel S.G., M.Th. Dalam khotbahnya, beliau menyampaikan firman Tuhan dari Matius 5:13–16 dengan tema, “Keluarga yang Menjadi Garam dan Terang Dunia.”

Mengawali pemberitaan firman, Pdt. Samuel menegaskan bahwa menjadi garam dan terang dunia bukanlah perkara yang mudah, terlebih ketika seluruh anggota keluarga—suami, istri, anak-anak, bahkan keluarga besar—dipanggil untuk bersama-sama hidup menjadi teladan di tengah dunia. Namun, inilah panggilan yang diberikan Tuhan kepada setiap orang percaya.

Menjadi garam dan terang dunia berarti bahwa setiap orang yang telah diberkati Tuhan dipanggil untuk menjadi berkat bagi sesamanya. Di mana pun berada, baik di rumah, tempat kerja, lingkungan masyarakat, maupun di mana saja, orang percaya harus berusaha memberikan pengaruh yang positif serta menghadirkan dampak yang baik bagi orang lain.

Tentang garam, Pdt. Samuel menjelaskan bahwa yang ditekankan bukanlah nilai atau harganya, melainkan fungsi dan manfaatnya. Garam memberi rasa, mengawetkan, dan mencegah pembusukan.

Demikian pula kehidupan orang percaya. Pertanyaannya, apakah kita sudah berfungsi sebagaimana seharusnya? Apakah kehadiran kita membawa manfaat bagi keluarga, gereja, dan lingkungan sekitar?

Beliau mengingatkan bahwa dunia saat ini semakin dipenuhi berbagai tantangan moral dan rohani. Karena itu, setiap orang percaya dipanggil untuk menjadi “garam” yang mampu menghambat “pembusukan” dunia melalui kehidupan yang benar, penuh kasih, jujur, dan mencerminkan karakter Kristus.

Selain itu, garam juga memberikan rasa. Kehidupan orang percaya seharusnya menghadirkan kasih, damai sejahtera, penghiburan, serta pengharapan bagi orang-orang di sekitarnya. Garam, baru dapat menjalankan fungsinya ketika bercampur dengan makanan.

Demikian pula orang percaya tidak dipanggil untuk menjauh dari dunia, melainkan hadir di tengah masyarakat sebagai pembawa pengaruh yang baik tanpa kehilangan identitas sebagai anak-anak Tuhan.

Selanjutnya, Pdt. Samuel menjelaskan makna menjadi terang dunia. Terang selalu mengusir kegelapan dan menunjukkan arah yang benar. Kehadiran orang percaya seharusnya membawa terang Kristus sehingga orang lain dapat melihat kasih, kebenaran, dan pengharapan melalui kehidupan kita.

Cahaya yang terpancar dari orang percaya bukanlah berasal dari diri sendiri, melainkan dari Kristus yang hidup di dalam hati setiap orang yang percaya kepada-Nya. Oleh sebab itu, kehidupan kita harus memancarkan karakter Kristus melalui perkataan, sikap, dan perbuatan sehari-hari.

Mengutip Filipi 2:15, Pdt. Samuel mengajak jemaat untuk hidup sebagai “bintang-bintang yang bercahaya di dunia.” Jemaat diajak untuk merenungkan apakah selama ini mereka sudah menjadi garam dan terang, baik di lingkungan keluarga, tempat kerja, masyarakat, maupun di media sosial. Melalui setiap perkataan dan tindakan, hendaknya kehidupan orang percaya benar-benar mencerminkan nilai-nilai Kristiani.

Menutup khotbahnya, Pdt. Samuel mengingatkan bahwa keluarga Kristen dipanggil bukan hanya untuk menikmati berkat Tuhan, tetapi juga menjadi saluran berkat bagi dunia.

Ketika setiap anggota keluarga hidup dalam kasih, kebenaran, dan ketaatan kepada firman Tuhan, keluarga tersebut akan menjadi garam yang memberi rasa dan terang yang menerangi dunia, sehingga nama Tuhan dimuliakan melalui kehidupan mereka. Selamat hari Minggu dan Tuhan memberkati. ***