Kekuatan Allah dalam Pemberitaan Injil: Kuasa-Nya Nyata di Tengah Kelemahan Manusia
“Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.” (2 Korintus 4:7)
Ibadah Raya Gereja Misi Injili Indonesia (GMII) Nehemia, Rejosari, Pekanbaru, pada Minggu, 7 Juni 2026, yang dirangkai dengan Perjamuan Kudus, dilayani oleh Gembala Sidang, Pdt. Samuel S.G., M.Th. Dalam khotbahnya, beliau menyampaikan firman Tuhan yang diambil dari 2 Korintus 4:7-15 dengan tema “Kekuatan Allah dalam Pemberitaan Injil.”
Pdt. Samuel mengingatkan jemaat bahwa setiap orang percaya dipanggil untuk menjadi saksi Kristus melalui kehidupan dan pemberitaan Injil. Ketika semakin banyak orang menerima keselamatan di dalam Tuhan Yesus Kristus, maka ucapan syukur kepada Allah pun semakin melimpah. Alkitab bahkan menyatakan bahwa ada sukacita besar di surga ketika satu orang berdosa bertobat dan diselamatkan.
Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang tentu mengharapkan keberhasilan dalam pekerjaan, pelayanan, pendidikan, maupun berbagai bidang lainnya. Banyak orang berusaha meningkatkan kemampuan, keterampilan, relasi, dan pengetahuan untuk mencapai keberhasilan. Namun, Pdt. Samuel menegaskan bahwa faktor yang paling menentukan keberhasilan hidup seseorang adalah perkenan Tuhan.
Meskipun manusia memiliki kemampuan, pengalaman, dan koneksi yang baik, pada akhirnya Allah tetap menjadi Pribadi yang menentukan segala sesuatu. Ketika Tuhan berkenan, Ia sanggup membuka jalan yang sebelumnya tertutup dan menyediakan pertolongan yang tidak pernah terpikirkan oleh manusia.
Pertama manusia terbatas, Allah tidak terbatas, melalui firman Tuhan, jemaat diingatkan bahwa manusia adalah makhluk yang terbatas. Umur manusia terbatas, pengetahuan manusia terbatas, dan tidak seorang pun mengetahui secara pasti apa yang akan terjadi di masa depan. Karena itu, orang percaya harus senantiasa mengandalkan Tuhan dalam setiap langkah kehidupan.

Firman Tuhan dalam Mazmur 127:1 berkata:
“Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga.”
Demikian juga dalam Wahyu 3:8, Tuhan berfirman:
“Aku tahu segala pekerjaanmu: lihatlah, Aku telah membuka pintu bagimu, yang tidak dapat ditutup oleh seorang pun. Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firman-Ku dan engkau tidak menyangkal nama-Ku.”
Ayat-ayat tersebut mengajarkan bahwa keberhasilan sejati berasal dari Tuhan. Oleh sebab itu, setiap orang percaya perlu melibatkan Tuhan dalam setiap pekerjaan, pelayanan, dan keputusan hidupnya.
Pdt. Samuel mengajak jemaat untuk terus berjalan di jalan Tuhan dan tidak menunggu sampai merasa sempurna untuk melayani-Nya. Dalam tubuh Kristus, setiap orang memiliki peran yang berbeda dan dipanggil untuk saling melengkapi. Yang terpenting bukanlah seberapa hebat wadahnya, melainkan siapa yang bekerja di dalam wadah tersebut. Ketika Allah bekerja dalam hidup seseorang, Ia akan memperlengkapi, memampukan, dan memfasilitasi segala sesuatu sesuai dengan rencana-Nya.
Poin kedua yang disampaikan adalah bahwa kuasa Allah memampukan orang percaya untuk tetap bertahan di tengah berbagai penderitaan dan pergumulan hidup.
Rasul Paulus menjelaskan bahwa sekalipun orang percaya menghadapi tekanan, kesesakan, dan berbagai kesulitan, mereka tidak akan dibiarkan binasa karena Allah menyertai mereka. Oleh sebab itu, jemaat diingatkan untuk tidak kehilangan pengharapan ketika menghadapi persoalan hidup.
Penderitaan bukanlah tanda bahwa Tuhan meninggalkan umat-Nya. Sebaliknya, melalui penderitaan, Tuhan sering kali membentuk karakter, memperkuat iman, dan menyatakan kuasa-Nya secara nyata dalam kehidupan orang percaya.
Ketiga, mencari Allah di tengah kesulitan. Pdt. Samuel menegaskan bahwa sering kali melalui kesulitan seseorang semakin sungguh-sungguh mencari Tuhan. Dalam setiap keadaan, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, orang percaya dipanggil untuk tetap berserah kepada Allah dan menerima setiap proses yang diizinkan-Nya terjadi.
Kelemahan yang dialami manusia bukanlah penghalang bagi pekerjaan Tuhan. Justru melalui kelemahan itu, kuasa Allah dapat dinyatakan dengan lebih jelas. Pengalaman-pengalaman hidup yang sulit dapat menjadi kesaksian yang menguatkan orang lain dan membawa mereka semakin dekat kepada Tuhan.
Karena itu, jemaat diajak untuk tetap memuliakan Tuhan dalam segala keadaan. Baik saat mengalami keberhasilan maupun ketika menghadapi kesulitan, Allah tetap layak dipuji dan dipercaya. Tuhan sanggup memakai setiap pengalaman hidup untuk mendatangkan kebaikan bagi umat-Nya dan menjadi berkat bagi banyak orang.
Mengakhiri khotbahnya, Pdt. Samuel mengajak seluruh jemaat untuk terus mengandalkan Tuhan dalam setiap aspek kehidupan. Kiranya firman Tuhan ini menjadi penguatan bagi setiap jemaat untuk tetap setia memberitakan Injil, hidup dalam perkenan Allah, serta percaya bahwa kuasa-Nya sempurna di dalam kelemahan manusia. Selamat hari Minggu dan Tuhan Yesus memberkati. ***

