Yesus, Hamba yang Menderita demi Penebusan Manusia

Ibadah Jumat Agung mengenang penderitaan dan penyaliban Yesus Kristus yang dibawakan Gembala Sidang Gereja Misi Injili Indonesia (GMII) Nehemia, Rejosari, Pekanbaru, Pdt. Samuel S.G, M.Th, Jumat 3 April 2026.

Ketika berbicara tentang penderitaan, banyak orang cenderung menghindarinya. Pada umumnya, manusia lebih menyukai kenyamanan, kebahagiaan, dan kehidupan yang enak. Namun, kenyataannya hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Ada saat-saat di mana kita harus menghadapi kesulitan, kesakitan, dan penderitaan.

Sering kali, ketika seseorang mengalami penderitaan, ia merasa bahwa dialah yang paling menderita di dunia ini. Perasaan itu muncul karena manusia melihat dari sudut pandangnya sendiri. Padahal, ada penderitaan yang jauh lebih besar yang pernah terjadi dalam sejarah, yaitu penderitaan yang dialami oleh Tuhan Yesus Kristus.

Allah yang Mahakuasa rela datang ke dunia menjadi manusia. Ia bukan sekadar berpura-pura menderita, tetapi benar-benar mengalami kesakitan, penderitaan, dan penolakan. Sebagai Hamba, Ia datang untuk menebus dosa manusia melalui pengorbanan-Nya.

Yesaya 53:3–5; Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kita pun dia tidak masuk hitungan. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya… oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.

Penderitaan yang dialami Yesus sangatlah nyata. Ia dihina, ditolak, dan dihindari oleh banyak orang. Bahkan dalam penderitaan-Nya, Ia mengalami tekanan yang luar biasa hingga peluh-Nya seperti titik-titik darah. Tubuh-Nya disiksa dengan cambukan yang keras hingga tidak lagi dikenali. Mahkota duri dikenakan di kepala-Nya, menusuk dan menyakitkan. Tangan dan kaki-Nya dipakukan di kayu salib.

Mengapa Yesus harus mengalami penderitaan yang begitu berat?
Pertanyaan ini sering muncul, terutama ketika kita melihat ketidakadilan. Bahkan dalam sistem pengadilan manusia, sering kali keputusan yang tidak adil tetap terjadi. Demikian juga dengan Yesus—Ia diadili secara tidak adil, meskipun Ia tidak bersalah.

Namun, penderitaan Yesus bukanlah tanpa tujuan. Ia menderita karena dosa manusia. Semua kesengsaraan itu ditanggung-Nya sebagai ganti kita.

Yesaya 53:6; Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.

Ia tertikam karena pemberontakan kita. Ia diremukkan karena kejahatan kita. Sesungguhnya, penderitaan Yesus adalah akibat dari dosa manusia. Bahkan dapat dikatakan bahwa yang menyalibkan Yesus bukan hanya tentara Romawi, tetapi dosa kitalah yang membawa-Nya ke kayu salib.

Yesus dengan rela menerima semua itu. Ia tidak melawan, tidak membela diri, dan tidak membuka mulut-Nya.

Yesaya 53:7; Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian.

Pengorbanan ini menunjukkan kasih Tuhan yang begitu besar kepada manusia. Tidak ada Juruselamat seperti Yesus. Ia mati, tetapi Ia juga bangkit, mengalahkan maut dan memberikan keselamatan bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya.

Karena itu, kita patut bersyukur memiliki Tuhan Yesus. Keselamatan yang kita terima adalah anugerah yang sangat berharga, yang dibayar dengan darah-Nya yang kudus.

Sebagai respons, kita diajak untuk hidup setia kepada Tuhan. Kita perlu menyadari dosa-dosa kita dan bertobat dengan sungguh-sungguh. Memang, manusia bisa saja jatuh dalam dosa tanpa sengaja, tetapi hidup dalam dosa adalah pilihan yang harus dihindari.

Jika kita jatuh dalam dosa, jangan tinggal diam. Bangkitlah, datang kepada Tuhan, dan bertobat.

1 Yohanes 1:9; Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.

“Mari setiap kita hidup sungguh-sungguh di dalam Kristus. Hiduplah dalam kebenaran, kesetiaan, dan ucapan syukur,” ajak Pendeta Samuel Ginting.

Yesus adalah Hamba yang menderita demi menebus dosa manusia. Penderitaan-Nya bukan sia-sia, melainkan bukti kasih yang sempurna. Oleh karena itu, kita dipanggil untuk hidup dalam pertobatan, kesetiaan, dan rasa syukur atas pengorbanan-Nya.

Kita adalah orang-orang yang telah ditebus oleh darah Yesus—hiduplah sesuai dengan anugerah itu. Selamat memperingati Jumat Agung, Tuhan memberkati. ***