Musim Cuaca Makin Sulit Diprediksi, Pakar UNS Ungkap Penyebab Pola Hujan Ekstrem di Indonesia

SURAKARTA – Fenomena cuaca ekstrem yang mengguyur deras dalam beberapa jam lalu disusul panas terik hingga berminggu-minggu kini semakin sering melanda berbagai wilayah di Indonesia. Ketidakpastian ini membuat batas antara musim hujan dan kemarau kian sulit diprediksi.

Pakar Lingkungan Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta sekaligus Ketua Ikatan Ahli Lingkungan Hidup Indonesia (IALHI), Prabang Setyono, menegaskan bahwa musim di Indonesia tidak menghilang, melainkan mengalami perubahan karakter yang drastis.

“Musim tidak lantas ‘hilang’, tetapi batas awal-akhir musim serta distribusi curah hujannya menjadi jauh lebih tidak stabil,” jelas Prabang, Senin (5/10/2026).

Menurut Prabang, posisi geografis Indonesia yang diapit Samudra Hindia dan Samudra Pasifik serta dipengaruhi sistem monsun Asia-Australia menjadikan iklim Nusantara sangat kompleks. Perubahan kecil pada suhu permukaan laut, tekanan atmosfer, hingga kelembapan dapat langsung mengubah pola hujan.

Kondisi tersebut diperparah oleh pemanasan global. Berdasarkan hukum termodinamika Clausius-Clapeyron, kapasitas udara dalam menampung uap air meningkat sekitar 7 persen untuk setiap kenaikan suhu sebesar 1 derajat Celsius.

Akibatnya, saat awan terbentuk, atmosfer melepaskan uap air dalam jumlah besar secara sekaligus, sehingga memicu hujan ekstrem berdurasi singkat. Sebaliknya, setelah uap air terkuras habis, wilayah tersebut berisiko mengalami periode kering yang lebih panjang.

“Suatu daerah bisa saja memiliki total curah hujan tahunan yang relatif sama, namun polanya berubah ekstrem: jumlah hari hujan berkurang, tetapi intensitasnya sangat tinggi,” papar Prabang.

Prabang mengingatkan agar publik tidak memvonis keterlambatan musim sepenuhnya disebabkan oleh perubahan iklim. Menurutnya, pemanasan global berperan mengubah kondisi dasar (baseline) iklim, sementara variabilitas alami tahunan seperti El Niño, La Niña, dan Indian Ocean Dipole (IOD) tetap menentukan dinamika musim secara langsung.

Dampak nyata dari pergeseran pola iklim ini meliputi:

  • Pergeseran waktu awal musim hujan dan kemarau.
  • Perubahan durasi dan jumlah hari hujan.
  • Peningkatan frekuensi hujan ekstrem serta risiko kekeringan.

Ketidakpastian iklim ini membawa konsekuensi serius bagi kehidupan sehari-hari:

  • Pertanian: Petani kesulitan menentukan pola tanam, memicu risiko gagal panen, erosi, dan kerusakan unsur hara tanah.
  • Perikanan: Perubahan arah angin dan suhu laut mengganggu distribusi ikan serta mengancam keselamatan nelayan.
  • Krisis Air Clean: Hujan deras berdurasi singkat cenderung menjadi limpasan permukaan daripada meresap ke dalam tanah, memicu kekeringan usai hujan reda.
  • Perkotaan & Kesehatan: Meningkatkan risiko banjir mendadak, kelangkaan air baku, serta potensi lonjakan penyakit berbasis vektor seperti Demam Berdarah Dengue (DBD).
  • Infrastruktur: Kapasitas drainase, jalan, dan bendungan yang dirancang berdasarkan data iklim masa lalu berisiko tak lagi relevan.

Prabang menegaskan, langkah terbaik saat ini bukanlah berharap pola musim lama kembali, melainkan membangun ketahanan di berbagai sektor.

“Yang perlu dibangun sekarang adalah sistem pertanian, tata pengelolaan air, kawasan perkotaan, dan lingkungan yang adaptif terhadap ketidakpastian iklim,” pungkasnya. (Par)