Jangkar Jiwa di Tengah Badai: Menemukan Kepastian di dalam Pengharapan yang Kekal

Suasana penuh sukacita dan kehangatan menyelimuti Ibadah Raya Gereja Misi Injili Indonesia (GMII) Nehemia Pekanbaru yang dilaksanakan pada Minggu, 25 Oktober 2026. Ibadah yang menjadi momen persekutuan yang menguatkan iman umat ini dilayani oleh Penatua (Pnt.) Yohanes Wiyarno. Dalam kesempatan tersebut, beliau menyampaikan pesan firman Tuhan yang dengan tema “Bertekunlah dalam Pengharapan”, yang merujuk langsung dari kitab Ibrani 6:9-20.

Pesan firman Tuhan diawali dengan pembacaan teks Alkitab yang mengingatkan jemaat akan kasih karunia Allah:

“Tetapi, hai saudara-saudaraku yang kekasih, sekalipun kami berkata demikian tentang kamu, kami yakin, bahwa kamu memiliki sesuatu yang lebih baik, yang mengandung keselamatan. Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan terhadap nama-Nya oleh pelayanan kamu kepada orang-orang kudus, yang masih kamu lakukan sampai sekarang.” (Ibrani 6:9-10)

Penatua Yohanes Wiyarno memaparkan bahwa kondisi yang memicu tawar hati dan murtad pada masa penulis surat Ibrani dahulu memiliki banyak kemiripan dengan realitas hidup kita hari ini. Di tengah dunia yang serba sulit, penuh tekanan sosial, dan tantangan hidup yang silih berganti, seringkali iman seseorang diuji. Namun, firman Tuhan menegaskan bahwa Allah tidak pernah buta atau tuli. Allah tidak melupakan setiap tetes keringat, pelayanan, dan kasih yang dikerjakan oleh umat-Nya—semuanya senantiasa berada dalam pengawasan dan monitor Tuhan.

Manusia pada hakikatnya harus hidup berpengharapan; sebab jika seseorang kehilangan pengharapan, itu sama artinya dengan mati secara rohani. Hidup berpengharapan bukanlah sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan yang sangat krusial bagi orang percaya.

Pnt. Yohanes mengingatkan agar jemaat jangan pernah kendor atau lelah dalam melayani Tuhan. Pengharapan Kristen bukanlah teori kosong yang mengawang-awang, melainkan sebuah kepastian nyata karena kita telah ditebus oleh darah Kristus. Menunggu penggenapan janji Tuhan memang membutuhkan proses dan ujian kesabaran. Terkadang, di tengah masa penantian tersebut, muncul berbagai pergumulan dan situasi yang tampak mustahil.

Namun, teladan telah diberikan oleh tokoh-tokoh iman seperti Musa dan Abraham. Abraham menanti dengan sabar dan pada akhirnya ia memperoleh apa yang dijanjikan Allah, sebab Allah adalah Tuhan yang tidak mungkin berdusta. Sebagaimana tertulis dalam Mazmur 12:7, “Janji TUHAN adalah janji yang murni…”

Pergumulan hidup terkadang datang untuk merusak karakter kita, tetapi bagi orang beriman, proses gemblengan ini justru memurnikan. Ibarat emas yang dilebur di dalam api, warnanya yang kuning murni tidak akan pernah berubah. Demikian pula karakter anak-anak Tuhan, ujian hidup tidak akan menghilangkan identitas sorgawi mereka.

Puncak dari pesan firman Tuhan ini menyoroti metafora yang sangat kuat dari Ibrani 6:19:“Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir…”

Di tengah badai persoalan, tekanan, dan kesulitan sosial yang membuat hidup terasa terombang-ambing, pengharapan kepada Tuhan berfungsi bagaikan sauh (jangkar) kapal. Orang Kristen yang hidupnya berakar kuat dalam pengharapan tidak perlu takut menghadapi pencobaan, karena Tuhan pasti menyediakan jalan keluar dan solusi terbaik. Jangan pernah menyerah, sebab iman yang dilatih dan ditumbuhkan di tengah pencobaan akan menjadikan kita umat yang kuat.

Pada bagian akhir khotbahnya, Pnt. Yohanes Wiyarno menegaskan bahwa pengharapan orang Kristen adalah pengharapan yang pasti. Kepastian ini didasarkan pada kenyataan bahwa Yesus Kristus telah masuk sebagai Perintis bagi kita, serta menjadi Imam Besar sampai selama-lamanya menurut peraturan Melkisedek (Ibrani 6:20).

Yesus telah terlebih dahulu pergi untuk menyediakan tempat bagi kita di surga-Nya. Oleh karena itu, dengan memelihara iman, kesabaran, dan kesetiaan di dalam Tuhan, kita memiliki jaminan kepastian bahwa perjalanan iman kita pada akhirnya akan sampai ke tujuan kekal di surga, di mana Tuhan sendiri sudah menantikan kita. Selamat hari Minggu dan Tuhan Yesus memberkati.***