Memilih “Bagian yang Terbaik” di Antara Tumpukan Aktivitas

Gereja Misi Injili Indonesia (GMII) Nehemia, Rejosari, Pekanbaru, menyelenggarakan Ibadah Raya dengan penuh hikmat pada Minggu, 9 Agustus 2026. Ibadah mingguan jemaat ini dilayani oleh Pdt. Lukinus Winardi, S.Th., yang menyampaikan khotbah berdasarkan Kitab Lukas 10:38-42 dengan mengusung tema utama “Memilih Bagian yang Terbaik.”

Dalam pemaparan firman Tuhan, Pdt. Lukinus membuka khotbahnya dengan menyoroti hakikat kehidupan manusia yang tidak pernah lepas dari pilihan. Mulai dari bangun tidur di pagi hari hingga menjelang beristirahat di malam hari, setiap individu senantiasa dihadapkan pada berbagai keputusan—bahkan sekadar memilih antara beristirahat atau menggunakan gawai. Secara alamiah, manusia selalu berupaya mengejar pilihan-pilihan yang baik dalam hidupnya.

Namun, beliau mengingatkan adanya sebuah paradoks rohani yang sering dilupakan umat manusia. Sering kali, umat Tuhan mengawali hari dengan doa sebagai bagian yang terbaik, namun begitu melangkah ke dalam aktivitas harian, mereka langsung terseret oleh kesibukan duniawi dan mengabaikan waktu berkualitas untuk terus melekat kepada Tuhan. Akibatnya, banyak orang menjalani kehidupan dengan hati yang lelah, penat, dan hampa karena terlewat dari “bagian yang terbaik” yang sejati.

Melalui teks Lukas 10:38-42, Pdt. Lukinus mengajak jemaat merefleksikan kontras antara dua tokoh kakak beradik, yaitu Marta dan Maria, saat kedatangan Tuhan Yesus ke rumah mereka.

Marta digambarkan sebagai sosok yang sibuk melayani Tuhan Yesus. Berdasarkan tradisi Yahudi masa itu, menghormati dan menyambut tamu adalah sebuah keutamaan moral yang tinggi, yang biasanya dikerjakan oleh kaum perempuan. Apa yang dikerjakan Marta jelas merupakan hal yang baik dan luar biasa demi menjamu Tamu Agung mereka.

Sebaliknya, Maria mengambil keputusan yang berbeda secara radikal. Ia memilih untuk duduk dekat kaki Tuhan Yesus, memusatkan perhatian, dan mendengarkan setiap perkataan serta ajaran-Nya. Maria, kata Pdt. Lukinus, menjadi teladan nyata tentang pentingnya membangun relasi yang intim dengan Tuhan. Meskipun pelayanan fisik Marta juga penting, Maria memilih prioritas yang paling esensial dan diakui langsung oleh Yesus sebagai “bagian yang terbaik.”

Lebih lanjut, Pdt. Lukinus mengingatkan bahwa dalam mengerjakan hal-hal yang baik pun, manusia masih kerap menyisakan celah kelemahan daging jika tidak dilandasi motivasi yang murni. Hal ini nampak dari sikap Marta yang sempat protes dan meminta Yesus menegur Maria.

Menurutnya, masalah utama muncul ketika pelayanan atau kesibukan rohani justru bergeser orientasinya menjadi ajang mencari perhatian atau pengakuan diri. Selain itu, kekhawatiran yang berlebihan terhadap berbagai urusan lahiriah kerap membuat seseorang kehilangan damai sejahtera, bertindak tidak pas, dan akhirnya menyusahkan diri sendiri dengan banyak perkara.

Di penghujung khotbahnya, Pdt. Lukinus Winardi menegaskan bahwa pemilik sejati dari segala bentuk pelayanan di dunia ini adalah Tuhan sendiri. Melayani di gereja, bekerja, maupun menunaikan tanggung jawab sehari-hari adalah hal-hal yang baik. Kendati demikian, di atas segala aktivitas yang baik tersebut, ada satu hal mutlak yang menjadi prioritas utama.

“Melayani di gereja itu baik, namun jangan pernah mengabaikan keintiman dan kedekatan dengan Tuhan. Segala sesuatu boleh berjalan dengan baik, tetapi utamakanlah yang terbaik—duduklah dekat kaki Tuhan dan dengarkan suara-Nya,” pesan Pdt. Lukinus di hadapan jemaat GMII Nehemia Pekanbaru.

Ibadah Raya ini berlangsung dengan penuh berkat, membawa angin segar pembaruan rohani bagi seluruh jemaat untuk kembali menata prioritas hidup mereka di tengah rutinitas dunia modern yang serba sibuk, selamat hari Minggu dan Tuhan Yesus memberkati. ***