Membangun di Atas Batu Karang: Menjadikan Firman Tuhan sebagai Fondasi Kokoh Keluarga Menghadapi Badai Kehidupan
Ibadah Raya Gereja Misi Injili Indonesia (GMII) Nehemia, Rejosari, Pekanbaru, pada Minggu (12/7/2026), berlangsung penuh khidmat. Ibadah kali ini dipimpin langsung oleh Gembala Sidang, Pdt. Samuel S.G., M.Th. Dalam khotbahnya, beliau menyampaikan firman Tuhan yang terambil dari Matius 7:24-27 dengan tema, “Keluarga yang Dibangun di Atas Batu Karang.”
Dalam penyampaiannya, Pdt. Samuel mengingatkan bahwa setiap kita saat ini sedang giat membangun kehidupan—baik itu dalam hal karier, usaha, pendidikan anak-anak, maupun dalam membangun rumah tangga.
Beliau mengumpamakan kehidupan seperti mendirikan sebuah bangunan atau menanam sebuah pohon. Sebelum bangunan menjulang tinggi, tanah harus digali terlebih dahulu untuk menanam fondasi agar bangunan tersebut kuat dan kokoh.
“Apakah sebuah bangunan itu kokoh atau tidak, semuanya sangat tergantung pada fondasinya. Sama seperti pohon bambu yang menumbuhkan dan memperkuat akarnya terlebih dahulu ke dalam tanah selama bertahun-tahun sebelum batang pohonnya tumbuh tinggi. Hal itu bertujuan agar ketika badai datang, pohon tersebut tidak gampang tumbang,” ujarnya.
Begitu pula dengan kehidupan beriman kita. Kita bersama dengan keluarga diajak untuk tidak hanya sekadar menjalani rutinitas, tetapi mau sungguh-sungguh mendengar firman Tuhan.
Merujuk pada kitab Matius 7:24-27, firman Tuhan berkata:
(24) “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. (25) Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak runtuh sebab didirikan di atas batu. (26) Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. (27) Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga runtuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.”
Pdt. Samuel menjelaskan bahwa kedua tipe orang ini sama-sama membangun dan keduanya pun sama-sama menghadapi bencana atau badai. Perbedaannya terletak pada dasar bangunan mereka.
Mendengar firman Tuhan adalah langkah awal yang sangat penting karena iman timbul dari pendengaran (Roma 10:17). Namun, kita tidak boleh berhenti sampai di situ saja. Pdt. Samuel kemudian mengutip 2 Timotius 4:1-3 untuk mengingatkan pentingnya menerima pengajaran yang sehat.
Mengerti firman Tuhan bukanlah untuk memuaskan diri sendiri atau sekadar “menyenangkan telinga” dengan khotbah-khotbah yang nyaman didengar. Kita diingatkan melalui teks Matius 23:1-3 agar tidak menjadi seperti ahli-ahli Taurat yang hanya bisa berbicara tetapi tidak melakukannya. Mendengar harus disertai dengan tindakan terus-menerus untuk mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Orang yang bijaksana adalah orang yang menjadikan firman Tuhan—bukan perkataan atau opini manusia—sebagai standar hidupnya. Firman Tuhan itu luar biasa, bahkan ketika firman itu datang untuk menegur kesalahan kita. Dengan hidup sesuai standar firman-Nya, kita akan dituntun menuju kehidupan yang penuh kemenangan.
Sebaliknya, tipe orang kedua adalah orang bodoh yang membangun rumah di atas pasir. Orang ini bukan tidak pernah mendengar firman, melainkan memilih berhenti pada tahap mendengar dan sekadar tahu saja.
“Iblis pun sangat jago dan tahu tentang firman. Jadi, jika kita hanya sekadar tahu tanpa melakukannya, apa bedanya kita dengan iblis?” tegas Pdt. Samuel.
Seseorang mungkin tampak baik-baik saja dan terlihat berhasil dari luar. Namun, ketika badai kehidupan yang sesungguhnya datang menghantam, hidupnya akan langsung runtuh jika tidak memiliki dasar yang kuat.
Satu hal yang pasti: badai kehidupan bisa datang kapan saja tanpa permisi. Orang yang taat dan menjalankan firman Tuhan pun tidak luput dari badai. Bedanya, ketika kita memiliki dasar yang kuat, kita akan tetap kokoh berdiri karena Allah sendiri yang memampukan kita untuk bertahan.
Kristus menyadarkan kita kembali hari ini: Sudahkah kita membangun rumah tangga dengan menanamkan benih iman dan firman Tuhan? Fondasi ini harus ditanamkan sejak dini kepada anak-anak kita mulai dari hal-hal kecil.
Pastikan keluarga yang kita bangun menjadikan Kristus sebagai fondasi utamanya, bukan sekadar tampak indah di luar atau semu belaka. Ingatlah bahwa firman Tuhan itu tidak hanya berguna untuk kehidupan di dunia yang sementara ini, melainkan bersifat abadi dan berguna untuk masa kekekalan nanti.
Mari kita mulai membangun dasar yang teguh itu lewat kebiasaan-kebiasaan sederhana, namun dilakukan secara konsisten setiap hari, agar kita terus bertumbuh dalam ketaatan kepada firman-Nya. Selamat hari Minggu dan Tuhan Yesus memberkati kita semua. ***

