Jalan Kelapa Tak Boleh Berganti
Cerita rakyat modern dari Kelurahan Rejosari, Kecamatan Tenayan Raya, Pekanbaru
Karya: Erwin Hartono
Di Kelurahan Rejosari, Pekanbaru, ada sebuah jalan yang namanya sederhana: Jalan Kelapa.
Bagi orang yang baru datang, nama itu mungkin terasa biasa saja. Bahkan ada yang heran.
“Lho, kok namanya Jalan Kelapa? Pohon kelapanya sekarang tinggal sedikit.”
Pertanyaan seperti itu sering terdengar.
Namun, warga lama hanya tersenyum. Mereka tahu, sebuah nama jalan bukan sekadar penunjuk arah. Di baliknya tersimpan sejarah panjang yang tidak boleh dilupakan.
Puluhan tahun yang lalu, sebelum rumah-rumah berdiri rapat seperti sekarang, daerah itu dipenuhi pohon kelapa. Ke mana pun mata memandang, yang terlihat adalah batang-batang kelapa menjulang tinggi.
Penduduknya berasal dari berbagai suku. Ada orang Melayu yang lebih dulu menetap, lalu datang keluarga-keluarga Jawa yang membuka kebun, warga Minang yang berdagang, keluarga Batak Karo yang bertani, dan keluarga Batak Toba yang ikut mencari nafkah di daerah itu.
Mereka hidup rukun.
Kalau ada yang mengadakan kenduri, semua datang membantu.
Kalau ada yang membangun rumah, semua bergotong royong.
Perbedaan suku justru menjadi warna yang memperindah kehidupan kampung.
Di antara semua pekerjaan warga, ada satu pemandangan yang hampir setiap pagi terlihat.
Beberapa bapak dari keluarga Batak Toba memanggul bambu, membawa jeriken, lalu memanjat pohon-pohon kelapa yang tinggi. Dengan cekatan mereka mengambil nira dari mayang kelapa.
Anak-anak kampung sering berdiri di bawah sambil mendongak.
“Pak… tinggi kali itu!”
Salah seorang bapak tertawa.
“Kalau takut tinggi, nanti nasi di rumah juga ikut tinggi… tidak bisa dimakan.”
Semua anak tertawa.
Nira yang diambil itu ada yang dijual sebagai minuman segar. Sebagian lagi diolah menjadi tuak sesuai tradisi yang telah mereka kenal turun-temurun.
Lama-kelamaan berdirilah sebuah gudang tempat menampung hasil nira dan olahannya. Orang-orang dari luar kampung mulai mengenal daerah itu.
“Pak, gudang tuak lewat mana?”
Jawabannya selalu sama.
“Lewat jalan yang banyak pohon kelapanya.”
Jawaban itu diulang terus selama bertahun-tahun.
Sampai akhirnya, ketika pemerintah mendata nama jalan, warga sepakat memberi nama Jalan Kelapa.
Bukan karena gudangnya.
Bukan pula karena tuaknya.
Melainkan karena pohon kelapa telah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat yang beragam di sana. Kelapa menjadi sumber rezeki banyak keluarga, apa pun sukunya.
Nama itu akhirnya resmi digunakan hingga sekarang.
Waktu terus berjalan.
Kebun-kebun kelapa mulai berganti menjadi rumah-rumah.
Anak-anak lebih akrab dengan telepon genggam daripada memanjat pohon.
Namun sejarah tetap tinggal di hati warga.

Di salah satu rumah di Jalan Kelapa, tinggallah dua kakak beradik, Alvaro dan adiknya, Alvari, bersama ayah dan ibu mereka.
Alvaro memiliki hobi yang unik.
Ia sangat menyukai ikan cupang.
Awalnya ia hanya memelihara dua ekor.
Lalu empat ekor.
Kemudian sepuluh.
Tak lama kemudian, halaman samping rumah berubah menjadi tempat beternak cupang. Tidak hanya cupang, Alvaro juga beternak ikan guppy.
Bapaknya sering tersenyum melihat kesibukan Alvaro.
“Kalau kamu rajin begini, ikanmu nanti lebih banyak daripada ayam tetangga.”
Alvaro tertawa.
Syukurlah, hobinya tidak sia-sia.
Ia belajar memilih indukan, merawat burayak, memberi pakan infusoria, artemia, kutu air, cacing sutra hingga pellet dan mengganti air secara teratur.
Ternyata banyak pembeli datang.
Sedikit demi sedikit uang hasil penjualan cupang mulai terkumpul.
Alvaro bangga.
Suatu sore, ketika mereka duduk di teras sambil menikmati angin, Alvaro berkata kepada bapaknya,
“Pak…”
“Iya?”
“Kalau sekarang orang lebih kenal aku sebagai peternak cupang, bagaimana kalau nama Jalan Kelapa diganti saja menjadi Jalan Cupang?”
Bapaknya tersenyum kecil.
“Tidak boleh begitu, Nak.”
“Lho, kenapa? Kan sekarang kelapanya tinggal sedikit.”
Bapak tidak langsung menjawab.
Ia mengajak Alvaro berjalan menyusuri jalan itu.
Mereka berhenti di dekat beberapa pohon kelapa tua yang masih berdiri tegak.
“Lihat pohon ini.”
“Iya, Pak.”
“Dulu, dari sini sampai ujung sana hampir semuanya pohon kelapa.”
Bapak lalu menceritakan bagaimana orang Melayu, Jawa, Minang, Batak Karo, dan Batak Toba hidup berdampingan.
Ia bercerita tentang para penyadap nira yang memanjat kelapa setiap pagi.
Tentang gudang tempat hasil nira dikumpulkan.
Tentang kerja keras warga yang menghidupi keluarganya dari pohon-pohon itu.
Tentang bagaimana nama Jalan Kelapa lahir dari sejarah panjang masyarakat, bukan dari sekadar banyak atau sedikitnya pohon yang masih tersisa.
Alvaro mendengarkan tanpa memotong.
Setelah Bapak selesai bercerita, Alvaro menunduk.
“Oh… jadi nama jalan itu seperti nama keluarga ya, Pak?”
Bapak mengangguk.
“Benar. Nama adalah penghormatan kepada sejarah.”
“Tapi kalau sekarang aku sukses karena cupang?”
“Itu juga bagus.”
“Berarti nanti orang mengenal Jalan Kelapa karena ada peternak cupang?”
Bapak tersenyum lebar.
“Itu baru hebat.”
Alvaro ikut tersenyum.
“Jadi bukan nama jalannya yang diganti, tetapi prestasi warganya yang membuat Jalan Kelapa semakin dikenal.”
“Itulah maksud Bapak.”
Sejak hari itu Alvaro tidak pernah lagi mengusulkan mengganti nama jalan.
Sebaliknya, setiap ada pembeli yang datang dari luar kota, ia selalu berkata dengan bangga,
“Selamat datang di Jalan Kelapa. Dulu tempat ini terkenal karena pohon kelapa dan para penyadap niranya. Sekarang saya berharap Jalan Kelapa juga dikenal karena ikan cupang hasil ternak kami.”
Bapak mengusap kepala Alvaro.
“Nak, sejarah adalah akar. Tanpa akar, pohon akan tumbang. Kelapa memang boleh berkurang, zaman boleh berubah, tetapi sejarah tidak boleh dihapus hanya karena kita memiliki kesukaan yang baru.”
Alvaro mengangguk mantap.
Sejak saat itu ia semakin rajin merawat ikan cupang dan guppynya. Ia bermimpi suatu hari nanti berkat hobinya beternak cupang terkenal hingga ke berbagai kota di Indonesia. Namun, ia berjanji dalam hati, apa pun prestasi yang diraihnya, nama Jalan Kelapa akan tetap ia hormati, karena nama itu lahir dari kerja keras para pendahulu yang telah menanam kelapa, menyadap nira, hidup rukun dalam keberagaman, dan mewariskan sebuah sejarah yang tidak boleh dilupakan.
Dan hingga kini, setiap kali orang bertanya, “Mengapa namanya Jalan Kelapa?”, warga lama akan menjawab sambil tersenyum,
“Karena nama itu bukan hanya tentang pohon kelapa. Nama itu adalah kenangan tentang persaudaraan, kerja keras, dan sejarah sebuah kampung yang dibangun bersama oleh orang Melayu, Jawa, Minang, Batak Karo, Batak Toba, dan suku-suku lainnya. Sejarah boleh dikenang, masa depan boleh dibangun, tetapi sejarah tidak boleh diganti.”
Erwin Hartono
Seniman Riau yang tunak bersastra, membina teater anak-anak dalam Sanggar Kemilau Kalam Kudus. Karya-karya cerpen, novel, puisi, tersebar di sejumlah media massa. Selain sebagai guru, dan mantan dosen, ia juga aktif menjadi jurnalis

