Melangkah dengan Iman Menuju Kemuliaan Kekal
Ibadah Raya Gereja Misi Injili Indonesia (GMII) Nehemia, Rejosari, Pekanbaru, pada Minggu, 28 Juni 2026, dilayani oleh Ev. Pangengendeng Togi Manik, S.T. Dalam khotbahnya, beliau menyampaikan firman Tuhan yang terambil dari 2 Korintus 5:1–7 dengan tema “Melangkah dengan Iman.”
Mengawali khotbahnya, beliau mengingatkan bahwa kehidupan di dunia ini tidak pernah lepas dari berbagai pergumulan. Konflik, persoalan politik, kesulitan ekonomi, dan berbagai tantangan hidup yang sering kali membuat manusia kehilangan pengharapan. Namun, bagi orang yang hidup di dalam Tuhan, selalu ada damai sejahtera dan pengharapan yang tidak dapat diberikan oleh dunia.
Berdasarkan 2 Korintus 5:1–7, beliau menjelaskan bahwa Allah telah menyediakan tempat yang kekal bagi setiap orang percaya di surga. Namun, untuk memperoleh kehidupan kekal tersebut, setiap orang harus meninggalkan dosa, bertobat, dan hidup dalam pembaruan. Di surga tidak ada lagi dosa, kemalasan, penderitaan, maupun kejahatan. Karena itu, orang percaya dipanggil untuk mempersiapkan diri selama masih hidup di dunia.
Pangengendeng Togi Manik juga menegaskan bahwa meskipun saat ini kita masih tinggal di dunia, hati orang percaya seharusnya merindukan surga. Kerinduan akan kehidupan bersama Tuhan menjadi salah satu ciri orang yang sungguh-sungguh mengikut Kristus. Sebaliknya, apabila hati masih dipenuhi kebencian, iri hati, dan kecintaan yang berlebihan kepada dunia, itu menunjukkan bahwa hidupnya masih terikat pada nilai-nilai duniawi.
Segala sesuatu yang dilakukan hendaknya berpusat kepada Tuhan. Apa pun yang kita kerjakan harus menjadi persembahan bagi kemuliaan-Nya. Firman Tuhan dalam 1 Korintus 10:31 mengajarkan, “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” Karena itu, orang percaya tidak boleh hidup hanya untuk memuaskan keinginan diri sendiri, melainkan menjadikan Tuhan sebagai tujuan utama dalam setiap aspek kehidupan.
P Togi Manik mengingatkan bahwa tubuh jasmani hanyalah sementara. Suatu saat nanti tubuh ini akan berakhir, tetapi kehidupan kekal bersama Tuhan tidak akan pernah berakhir. Oleh sebab itu, jangan sampai hati lebih mencintai dunia daripada Tuhan. Firman Tuhan dalam Yakobus 4:4 menyatakan bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah. Orang percaya tidak boleh hidup mendua, mengasihi Tuhan tetapi pada saat yang sama tetap mencintai dosa dan nilai-nilai dunia.
Melalui Roma 12:2, jemaat diajak untuk mengalami pembaruan budi. Kehidupan orang percaya tidak boleh serupa dengan dunia, melainkan harus terus diubahkan melalui pertobatan yang sungguh-sungguh. Dengan pembaruan akal budi, seseorang akan mampu mengenal dan melakukan kehendak Allah yang baik, berkenan, dan sempurna.
Mengikut Tuhan memang tidak selalu mudah, tetapi bukan berarti mustahil. Bersama Tuhan segala sesuatu menjadi mungkin. Tuhan sanggup melakukan mukjizat dalam kehidupan setiap orang yang percaya dan hidup dalam ketaatan. Karena itu, jangan membandingkan iman dengan keadaan atau situasi yang sedang dihadapi. Tetaplah percaya bahwa Tuhan dapat memakai setiap orang secara luar biasa apabila ia setia melakukan bagiannya.
Beliau juga menekankan pentingnya memiliki komitmen dalam mengikut Kristus. Pergaulan yang buruk dapat merusak kehidupan rohani seseorang. Jangan sampai seseorang mengorbankan imannya hanya demi diterima dalam lingkungan pergaulan. Sebaliknya, hiduplah menurut cara Tuhan dan belajarlah mengasihi sesama seperti Kristus telah mengasihi.
Iman berarti percaya kepada firman Tuhan sekalipun mata jasmani belum melihat penggenapannya. Keselamatan hanya ada di dalam Yesus Kristus. Karena itu, setiap orang dipanggil untuk mengikut Yesus, menaati ajaran-Nya, dan hidup seperti Kristus hidup. Pikiran, perkataan, dan tindakan orang percaya harus semakin mencerminkan karakter Kristus setiap hari.
Beliau menambahkan bahwa sebelum menikmati kemuliaan surga kelak, kehidupan orang percaya di dunia ini seharusnya sudah mencerminkan suasana Kerajaan Allah melalui kasih, kekudusan, damai sejahtera, dan ketaatan kepada Tuhan.
Di akhir khotbahnya, Ev. Pangengendeng Togi Manik mengingatkan bahwa setiap orang kelak akan berdiri di hadapan takhta pengadilan Kristus untuk mempertanggungjawabkan hidupnya. Firman Tuhan dalam Matius 7:21–23 menjadi peringatan agar setiap orang tidak hanya mengaku mengenal Tuhan, tetapi sungguh-sungguh melakukan kehendak Bapa.
Melalui firman ini, jemaat diajak untuk terus bertumbuh dalam kedewasaan rohani, hidup dalam pertobatan, setia melangkah dengan iman, dan mempersiapkan diri menyambut kehidupan kekal yang telah Tuhan sediakan bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya. Selamat hari Minggu dan Tuhan Yesus memberkati. ***

