Anugerah Pengampunan yang Memulihkan

Anugerah terbesar dalam kehidupan rohani manusia adalah ketika seseorang menerima pengampunan dari Tuhan. Banyak orang mengejar hal-hal materi, tetapi semua itu memiliki batas waktu. Kekayaan, jabatan, dan kepemilikan duniawi tidak kekal. Sebaliknya, pengampunan dari Tuhan adalah mukjizat terbesar yang mengubah hidup manusia untuk selamanya.

Demikian disampaikan Gembala Sidang Gereja Misi Injili Indonesia (GMII) Nehemia, Rejosari, Pekanbaru, Pdt. Samuel S.G, M.Th dalam ibadah raya, Minggu 15 Maret 2026.

Lukas 7:36–50:
36 Seorang Farisi mengundang Yesus untuk makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan. 37 Di kota itu ada seorang perempuan yang dikenal sebagai orang berdosa. Ketika ia mengetahui bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi. 38 Sambil berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, ia menangis dan mulai membasahi kaki Yesus dengan air matanya, lalu menyekanya dengan rambutnya dan terus-menerus mencium kaki-Nya serta meminyakinya dengan minyak wangi itu.

39 Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya: “Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu siapakah dan orang macam apakah perempuan yang menjamah-Nya itu, bahwa ia adalah seorang berdosa.” 40 Lalu Yesus berkata kepadanya: “Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu.” Jawab Simon: “Katakanlah, Guru.”

41 “Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. 42 Karena mereka tidak sanggup membayar, ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan lebih mengasihi dia?”

43 Jawab Simon: “Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya.” Kata Yesus kepadanya: “Betul pendapatmu itu.” 44 Lalu Ia berpaling kepada perempuan itu dan berkata kepada Simon: “Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku; tetapi perempuan ini membasahi kaki-Ku dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya.

45 Engkau tidak memberikan Aku ciuman, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku. 46 Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi perempuan ini meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi. 47 Sebab itu Aku berkata kepadamu: Banyak dosanya telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih.”

48 Lalu Ia berkata kepada perempuan itu: “Dosamu telah diampuni.” 49 Dan mereka yang duduk makan bersama Dia mulai berkata dalam hati mereka: “Siapakah Ia ini, sehingga Ia dapat mengampuni dosa?” 50 Tetapi Yesus berkata kepada perempuan itu: “Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat.”

Alkitab berkata; secara manusiawi, sebenarnya tidak ada seorang pun yang layak menerima pengampunan dari Tuhan, karena semua manusia telah berdosa. Namun, anugerah pengampunan itu diberikan oleh Tuhan supaya hidup kita dibentuk menjadi lebih indah dan lebih benar, bukan supaya kita terus hidup dalam dosa.

Mazmur 32:1–2; “Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi! Berbahagialah manusia yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan, dan yang tidak berjiwa penipu.”

Orang yang sungguh-sungguh menerima pengampunan Tuhan akan mengalami pemulihan hidup. Hidupnya berubah dan dipersembahkan bagi Tuhan.

Roma 12:1; “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah; itu adalah ibadahmu yang sejati.”

Yesus adalah pribadi yang terbuka bagi semua orang. Ia tidak bersikap eksklusif. Ia bergaul dengan berbagai kalangan: orang berdosa, pemungut cukai, orang sakit, bahkan juga para pemimpin agama.

Dalam setiap perjumpaan dengan Yesus, orang-orang mengalami pemulihan hidup. Demikian juga ketika seseorang datang ke gereja dan sungguh-sungguh mengalami perjumpaan dengan Yesus, maka hidupnya akan dipulihkan.

Karena itu, sebagai pengikut Kristus, kita juga harus belajar terbuka dan bersahabat dengan semua orang. Kita berteman dengan siapa saja bukan untuk terpengaruh oleh hal yang buruk, tetapi supaya kita membawa pengaruh yang baik bagi mereka.

Semakin seseorang mengenal Yesus, semakin ia akan mengagumi-Nya. Hal ini berbeda dengan manusia. Terkadang semakin kita mengenal seseorang, justru kita semakin menemukan kelemahan yang membuat kita kurang menyukainya.

Namun pada Yesus, semakin kita mengenal-Nya, semakin kita melihat kasih, kebenaran, dan kekudusan-Nya.

Sering kali manusia dikenal karena dosa dan kesalahannya. Padahal seharusnya manusia dikenal karena nama baiknya.

Alkitab berkata; Amsal 22:1, “Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik daripada perak dan emas.”

Kisah pada Lukas 7 di atas, perempuan itu dikenal sebagai perempuan berdosa. Namun ketika ia datang kepada Yesus dengan hati yang hancur dan penuh pertobatan, Yesus tetap menerima dia.

Ini menunjukkan bahwa tidak ada seorang pun yang terlalu berdosa sehingga tidak dapat diampuni oleh Tuhan. Tuhan sanggup mengampuni siapa saja yang datang kepada-Nya dengan hati yang sungguh-sungguh bertobat.

Pengampunan yang diberikan Tuhan kepada perempuan itu bukan karena ia berpura-pura baik. Ia datang dengan kerendahan hati dan pertobatan yang sungguh-sungguh.

Yesus mengetahui isi hati manusia, sehingga Ia berkata: Lukas 7:48; “Lalu Ia berkata kepada perempuan itu: Dosamu telah diampuni.”

Pengampunan itu diberikan karena iman yang nyata dalam tindakan kasih dan pertobatan.

Mari kita menerima anugerah pengampunan dari Tuhan dengan hati yang tulus. Pengampunan itu tidak hanya menghapus dosa kita, tetapi juga memulihkan dan memproses hidup kita menjadi semakin serupa dengan kehendak Tuhan.

Tidak ada dosa yang terlalu besar bagi Tuhan untuk diampuni. Yang Tuhan kehendaki adalah hati yang rendah, pertobatan yang sungguh-sungguh, dan iman kepada-Nya. Selamat hari Minggu dan Tuhan memberkati. ***