Darurat Kabut Asap, Sekolah PAUD hingga SMP di Pekanbaru Terapkan Belajar Daring
PEKANBARU — Pemerintah Kota Pekanbaru mengambil langkah cepat dengan mengalihkan kegiatan belajar mengajar dari tingkat PAUD hingga SMP ke sistem dalam jaringan (daring). Kebijakan ini diberlakukan mulai Senin (24/8/2026) menyusul kualitas udara yang memburuk akibat kabut asap.
Keputusan tersebut disepakati dalam rapat darurat antara Wali Kota Pekanbaru bersama Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho, menginstruksikan seluruh kepala sekolah untuk segera memindahkan proses belajar ke rumah secara mandiri demi melindungi kesehatan para siswa.
“Kami sampaikan kepada seluruh kepala sekolah, mulai dari PAUD, TK, SD, dan SMP di Kota Pekanbaru untuk dapat meliburkan sementara siswanya dan mengganti dengan pembelajaran daring,” ujar Agung.
Ia menegaskan, langkah protektif ini diambil berdasarkan data akurat dari BMKG yang menunjukkan tingkat polusi udara sudah mengancam keselamatan anak-anak. Berdasarkan pantauan BMKG pukul 16.00 WIB, konsentrasi partikulat halus (PM2.5) di Pekanbaru mencapai 133,7 mikrogram per meter kubik (µg/m³) (kategori tidak sehat).
Kondisi senada dicatat oleh platform IQAir pada pukul 17.00 WIB, di mana Indeks Kualitas Udara (AQI) Pekanbaru berada di angka 177 dengan polutan utama PM2.5 sebesar 92,4 µg/m³. Lonjakan polusi ini sendiri terpantau terus memburuk sejak Minggu (23/8/2026) sore, yang diduga kuat berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah tetangga.
Melalui kebijakan ini, Agung meminta para tenaga pendidik tetap menjaga efektivitas pembelajaran jarak jauh serta berkomunikasi intensif dengan orang tua murid. Ia juga mengimbau masyarakat agar membatasi aktivitas anak-anak di luar ruangan selama kabut asap masih pekat.
“Mari bersama-sama kita menjaga kesehatan anak-anak kita. Kurangi aktivitas di luar rumah apabila tidak diperlukan, karena kondisi ini bersifat sementara,” pungkasnya.
Pemerintah Kota Pekanbaru menyatakan akan terus mengevaluasi perkembangan kualitas udara secara berkala sebelum memutuskan kapan kegiatan belajar tatap muka dapat kembali dibuka normal. (Alv)

