Keluar dari Ketidakpastian, Presiden Iran Desak Pengakhiran Situasi “Bukan Perang, Bukan Damai”
ISTANBUL — Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan sikap tegas negaranya untuk mengakhiri situasi pelik yang disebutnya sebagai kondisi “tidak perang, tidak damai”. Dalam pernyataan yang dirilis oleh kantor berita resmi Iran, IRNA, pada Sabtu (22/8/2026), Pezeshkian menyatakan bahwa Teheran tidak berniat memberikan konsesi yang merugikan kedaulatan bangsa.
Pezeshkian mengungkapkan bahwa para pejabat tinggi Iran kini hampir setiap hari mengkaji formula terbaik untuk keluar dari status quo tersebut. Tujuannya adalah mencapai kesepahaman strategis yang tetap menjaga prinsip serta nilai-nilai fundamental Iran, sekaligus menutup celah bagi pihak-pihak penentang untuk melancarkan serangan lanjutan.
Dalam pemaparannya, Pezeshkian menyoroti bahwa perang bukanlah solusi yang efektif, namun ketidakpastian berkepanjangan mengenai potensi pecahnya kembali pertempuran justru memberikan hantaman telak bagi perekonomian nasional.
Ia memperingatkan bahwa dunia usaha dan investor asing akan sulit menanamkan modalnya di Iran selama bayang-bayang ancaman konflik baru masih membayangi. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya menyelesaikan kebuntuan ini melalui pendekatan yang rasional, tanpa sedikit pun mengorbankan kekuatan dan wibawa pertahanan Iran.
Pada kesempatan yang sama, Presiden Pezeshkian juga memberikan pembelaan terkait nota kesepahaman yang belum lama ini dicapai dengan Amerika Serikat (AS). Ia memastikan bahwa dokumen kesepakatan tersebut sama sekali tidak memuat klausul yang merendahkan martabat bangsa, seperti ketentuan penyerahan diri ataupun kewajiban Teheran memberikan konsesi sepihak.
Hubungan diplomatik tak langsung kedua negara sebelumnya sempat mencair ketika Iran dan AS menandatangani nota kesepahaman pada Juni lalu melalui mediasi aktif dari Pakistan dan Qatar. Kesepakatan tersebut sempat menjadi secercah harapan untuk mengakhiri permusuhan yang meletus sejak Februari, sekaligus merintis jalan menuju perundingan damai yang final.
Kendati demikian, proses negosiasi lanjutan sempat mengalami hambatan akibat perselisihan teknis terkait implementasi isi nota kesepahaman. Salah satu titik krusial yang masih menjadi ganjalan adalah pengaturan jalur pelayaran di Selat Hormuz, yang notabene merupakan salah satu urat nadi vital bagi jalur ekspor minyak dan gas bumi dunia. (Alp))

