Merdeka dalam Anugerah: Ibadah Raya dan Syukuran HUT RI ke-81 GMII Nehemia Rejosari
Suasana penuh khidmat dan sukacita menyelimuti Ibadah Raya Gereja Misi Injili Indonesia (GMII) Nehemia, Rejosari, Pekanbaru, pada Minggu, 16 Agustus 2026. Ibadah yang dirangkai dengan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 ini menjadi momentum berharga bagi jemaat untuk merefleksikan arti kemerdekaan sejati, baik secara nasional maupun rohani.
Ibadah dipimpin langsung oleh Gembala Sidang, Pdt. Samuel S.G., M.Th. Dalam pelayanan firman Tuhan, beliau menyampaikan khotbah yang mendalam dan menggugah hati, yang berpusat pada bagian Alkitab 1 Timotius 1:12-17 dengan tema utama: “Akulah yang Paling Berdosa.”
“Aku bersyukur kepada Dia, yang menguatkan aku, yaitu Kristus Yesus, Tuhan kita, yang mempercayakan pelayanan ini kepadaku—aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihani-Nya, karena aku telah melakukannya tanpa pengetahuan yaitu di luar iman. Anugerah Tuhan kita itu telah melimpah-limpah atas aku dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus. Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: “Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa,” dan di antara mereka akulah yang paling berdosa. Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya. Dengan itu aku menjadi teladan bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapatkan hidup yang kekal. Sekarang bagi Raja segala abad, Allah yang kekal, yang tak nampak, yang esa, bagi Dialah hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya!”
Pdt. Samuel S.G., M.Th menyoroti kecenderungan manusia yang kerap ingin tampil saleh, alim, dan benar di hadapan sesama, alih-alih mengakui kerapuhan dirinya.
“Umumnya orang sering menunjukkan dirinya orang yang saleh, alim, dan baik. Jarang orang menunjukkan bahwa dirinya orang berdosa. Ini tentu bukan berarti bangga dengan keberdosaan, melainkan sebuah bentuk kejujuran rohani di hadapan Allah.”
Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa menyadari siapa diri kita di hadapan Tuhan merupakan sebuah keistimewaan yang luar biasa ketika Dia berkenan mengajak kita berelasi. Kita dipanggil untuk berani jujur dan berkata kepada Tuhan bahwa kitalah yang paling berdosa. Kesadaran ini sangat penting atas beberapa alasan mendasar:
Pertama, memahami besarnya anugerah Allah. Kita diselamatkan dan dilayakkan oleh Tuhan bukan karena keberanian, kehebatan, atau kelayakan kita. Dosa adalah status kita dan merupakan hutang di hadapan Allah yang harus dibayar. Usaha manusia untuk berhenti berbuat dosa dengan kekuatan sendiri tidak akan pernah cukup, sebab hutang dosa itu telah lunas dibayar oleh pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib.
Kedua, mendorong pertobatan yang sejati. Sering kali, orang yang merasa dirinya paling benar justru menjadi yang paling sulit untuk bertobat dan berubah. Kesadaran akan dosa menuntun kita pada kerendahan hati untuk terus dibentuk oleh Tuhan.
Ketiga, belajar mengampuni dan menghindari sikap menghakimi. Sebagaimana diingatkan melalui firman Tuhan dalam Yohanes 8:7 (“Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu”), kita dipanggil untuk tidak menjadi hakim atas sesama.
“Kita jangan sombong, kita tahu diri kita. Jangan pernah tinggal dalam dosa, bertobatlah dan jangan berbuat dosa lagi. Jadi jangan menghakimi sesama.”
Pada akhirnya, segala kemuliaan dan hormat hanyalah bagi nama Tuhan, bukan bagi diri kita. Kesadaran bahwa kita dilayakkan oleh Yesus Kristus seharusnya membuahkan hidup yang rendah hati, penuh kasih, dan menjadi teladan bagi sesama.

Kemeriahan Perayaan HUT RI ke-81
Usai ibadah yang berlangsung khusyuk, halaman dan ruangan gereja seketika berubah meriah dengan digelarnya berbagai perlombaan dalam rangka menyambut HUT Kemerdekaan RI ke-81.
Acara perayaan ini dirancang untuk merangkul seluruh elemen jemaat dari berbagai usia. Anak sekolah minggu, antusias mengikuti lomba mewarnai, lomba joget balon, dan berbagai permainan ceria lainnya.
Komisi bapak, ibu, dan muda-mudi, bersaing secara sportif dan penuh gelak tawa dalam lomba memasak nasi goreng yang menguji kekompakan tim.

Berbagai kegiatan lomba diikuti hampir semua jemaat dengan penuh semangat seperti lomba balap karung, lomba memasukkan paku ke dalam botol, lomba estafet Alkitab, lomba joget balon, dan lomba makan kerupuk yang diikuti kaum Lansia.
Seluruh rangkaian kegiatan dari pukul 09.00 hingga 14.00 WIB ini tidak hanya mempererat kebersamaan dan kekeluargaan antarjemaat GMII Nehemia Rejosari, tetapi juga meneguhkan semangat nasionalisme yang berlandaskan kasih Kristus. Dirgahayu Republik Indonesia ke-81! Tuhan memberkati bangsa kita dan gereja-Nya. ***

