Panggilan Menjadi Teman Sekerja Allah adalah Anugerah Terbesar
Suasana penuh khidmat dan sukacita menyelimuti jemaat Gereja Misi Injili Indonesia (GMII) Nehemia yang terletak di kawasan Rejosari, Pekanbaru pada pelaksanaan Ibadah Raya dan Perjamuan Kudus yang digelar, Minggu (12/7/2026) yang disampaikan langsung oleh Gembala Sidang, Pdt. Samuel S.G., M.Th.
Ibadah yang sakral ini dipusatkan pada pembacaan Alkitab dari 2 Korintus 6:1-10 dengan mengangkat tema utama, “Dipanggil sebagai Teman Sekerja Allah.”
Dalam khotbahnya, Pdt. Samuel S.G., M.Th., menjelaskan bahwa makna hakiki dari panggilan sebagai teman sekerja Allah adalah bekerja bagi Kerajaan Surga, bukan sekadar berpuas diri menerima anugerah penyelamatan. Tujuan utama dari panggilan ini adalah untuk menyenangkan hati Tuhan, bukan mencari perkenanan manusia semata.
“Kalau Tuhan memanggil kita sebagai teman sekerja, Dia akan menolong kita dan membawa kebahagiaan sejati bagi kita. Hal ini sangat berbeda dengan jabatan duniawi, misalnya ketika seseorang dipanggil menjadi menteri. Awalnya mungkin merasa senang karena dipilih oleh presiden, tetapi ujungnya bisa tersangkut masalah hukum, politik, dan berbagai kerumitan dunia,” ungkap Pdt. Samuel di hadapan jemaat yang hadir.
Lebih lanjut, Gembala Sidang GMII Nehemia Rejosari ini memaparkan dua prinsip utama bagi setiap orang yang terpilih menjadi rekan sekerja Allah:
Pertama, keselamatan dan pelayanan adalah murni kasih karunia. Pdt. Samuel menegaskan bahwa panggilan untuk diselamatkan merupakan anugerah murni dari kasih Tuhan. Seringkali, manusia merasa berat ketika dipanggil untuk melayani Tuhan, padahal kesempatan tersebut adalah sebuah kehormatan yang luar biasa karena yang memanggil adalah Sang Maha Kuasa.
“Walau kita tidak layak, namun kita dilayakkan oleh Tuhan yang Maha Kudus. Melayani Tuhan adalah anugerah, jangan disia-siakan,” tegasnya.
Jemaat juga diingatkan untuk tidak menunda-nunda pelayanan dengan alasan menunggu kesempurnaan diri. Menurutnya, jika seseorang menunggu sempurna, ia tidak akan pernah memulai. Tuhan berkenan memakai manusia apa adanya, sehingga jemaat diimbau untuk tidak “hitung-hitungan” dengan Tuhan dalam melayani.
Poin kedua yang disoroti adalah pentingnya menjaga karakter sebagai rekan sekerja Tuhan. Dalam melayani, Tuhan melihat kedalaman hati manusia, sementara manusia duniawi sering kali hanya menilai dari apa yang tampak di depan mata.
Oleh karena itu, setiap pelayan Tuhan harus menyiapkan hati dengan kesabaran tinggi, siap menghadapi kritik, serta tahan uji dalam dinamika pelayanan. Sebagai hamba-hamba Allah yang bekerja di ladang-Nya, umat dipanggil untuk terus memancarkan terang Kristus dalam setiap aspek pekerjaan dan kehidupan sehari-hari.
Ibadah ditutup dengan ajakan kuat bagi seluruh jemaat GMII Nehemia Rejosari agar tidak menyia-siakan panggilan Tuhan yang mulia ini. Dengan kesadaran bahwa setiap orang telah dilayakkan oleh-Nya, jemaat didorong untuk bersama-sama bersatu hati dan siap bekerja secara aktif di ladang pelayanan Tuhan demi kemuliaan nama-Nya.
Rangkaian Ibadah Raya ini kemudian dilanjutkan dengan pelayanan Perjamuan Kudus, di mana jemaat bersama-sama merenungkan pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib, memperbarui komitmen iman, serta menguatkan persekutuan tubuh Kristus. Selamat hari Minggu dan Tuhan Yesus memberkati. ***

