Hidup dalam Kuasa Kebangkitan: Anugerah yang Memerdekakan
Ibadah Raya Gereja Misi Injili Indonesia (GMII) Nehemia, Pekanbaru, pada Minggu, 26 April 2026, dilayani oleh Penatua (Pnt.) Yohanes Wiyarno. Dalam khotbahnya yang berlandaskan Roma 6:4–11, beliau mengajak jemaat untuk memahami makna hidup dalam kuasa kebangkitan Kristus, yaitu hidup yang telah diperbarui oleh kasih karunia Allah dan menjauhi dosa.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering memiliki banyak keinginan yang dapat diwujudkan dengan berbagai cara, bahkan dengan kekuatan materi atau uang. Namun, ada satu hal yang tidak dapat dicapai oleh usaha manusia, yaitu keselamatan kekal.
Keselamatan hanya dapat diperoleh karena kasih karunia Allah. Seperti tertulis dalam Efesus 2:9, “Itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Kasih karunia merupakan pemberian cuma-cuma dari Tuhan yang tidak dapat dibeli atau diusahakan oleh manusia.
Namun demikian, kasih karunia bukanlah alasan untuk hidup sembarangan dalam dosa. Rasul Paulus menegaskan dalam Roma 6:1, “Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu?” Tentu tidak.
Kasih karunia justru memanggil setiap orang percaya untuk hidup dalam kebenaran. Manusia pada dasarnya memiliki kecenderungan untuk berbuat dosa, sebagaimana tertulis dalam Roma 3:23, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah,” dan juga Roma 3:10, “Tidak ada yang benar, seorang pun tidak.”
Melalui baptisan, seseorang menyatakan penolakan terhadap dosa dan komitmennya untuk hidup dalam kasih karunia Yesus Kristus. Baptisan bukan sekadar simbol, melainkan tanda bahwa kita telah menjadi milik Kristus.
Roma 6:4 menyatakan, “Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.”
Selain itu, dalam Roma 8:14 ditegaskan, “Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.” Artinya, orang yang telah dibaptis dan hidup dalam iman akan dipimpin oleh Roh Allah.
Karena itu, setiap orang percaya harus memiliki iman yang sungguh-sungguh agar dapat hidup dalam kasih karunia tersebut. Kristus sendiri tidak berdosa, tetapi Ia rela menanggung dosa manusia. Sebagaimana tertulis dalam 2 Korintus 5:21, “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.” Pengorbanan Kristus menjadi dasar bagi kehidupan baru setiap orang percaya.
Hidup dalam kuasa kebangkitan berarti hidup dalam anugerah yang memerdekakan. Allah menganugerahkan kasih karunia-Nya kepada setiap orang, bahkan kepada mereka yang sebelumnya tidak percaya, agar mereka berbalik dan diselamatkan. Namun, kasih karunia itu harus disambut dengan kesungguhan hidup yang benar. Oleh sebab itu, setiap orang percaya dipanggil untuk menjauhkan diri dari segala kejahatan. Seperti tertulis dalam 1 Tesalonika 5:22, “Jauhkanlah dirimu dari segala jenis kejahatan.”
Akhirnya, hidup dalam kuasa kebangkitan bukan hanya sebuah konsep, tetapi sebuah panggilan nyata. Panggilan untuk meninggalkan dosa, hidup dalam iman, dan terus bertumbuh dalam kasih karunia Allah. Dengan demikian, kehidupan orang percaya menjadi kesaksian nyata dari kuasa kebangkitan Kristus yang mengubahkan. Selamat hari Minggu dan Tuhan Yesus memberkati. (erwin)

