Gencatan Senjata di Ujung Tanduk, Trump dan Iran Saling Tekan Jelang Tenggat 22 April

WASHINGTON – Perundingan AS-Iran kini berjalan di atas bara. Presiden Donald Trump memperingatkan risiko eskalasi besar jika kesepakatan gencatan senjata yang berlaku hingga Selasa malam (22/4) waktu Washington tidak diperpanjang, sementara Tehran menegaskan tidak akan berunding di bawah tekanan.

Dalam wawancara dengan PBS News, Senin (20/4), Trump mengatakan “banyak bom akan mulai meledak” bila dialog gagal. Pernyataan keras itu muncul bersamaan dengan pengumuman bahwa delegasi AS—termasuk Wakil Presiden J.D. Vance dan utusan khusus Steve Witkoff—sedang menuju Islamabad untuk putaran kedua pembicaraan. Putaran pertama pada 11–12 April berakhir tanpa hasil.

Diplomasi AS sendiri masih memberi ruang. Duta Besar AS untuk PBB Mike Waltz menyebut gencatan senjata yang dimediasi Pakistan bisa diperpanjang 24 jam ke depan, meski tidak menjamin kelanjutannya.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menolak mentah-mentah pendekatan Trump. Melalui platform X, ia menuding Washington sengaja mengubah perundingan menjadi “meja penyerahan diri” dengan memanfaatkan blokade Selat Hormuz yang diberlakukan sejak 13 April. Menurutnya, langkah itu melanggar gencatan senjata dua pekan yang disepakati 7 April.

Ghalibaf juga mengisyaratkan Iran telah menyiapkan skenario militer baru jika kesepakatan runtuh. Sikap itu muncul setelah Iran sempat membuka kembali Selat Hormuz pada Jumat, lalu kembali menutupnya pada Sabtu, dengan alasan AS belum memenuhi komitmennya.

Ketegangan ini langsung terasa di Selat Hormuz, urat nadi 20% perdagangan minyak dunia. Arus kapal sudah terganggu sejak serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari, dan blokade laut pekan lalu menambah ketidakpastian. Pasar energi kini menahan napas menjelang tenggat.

Pakistan menjadi tuan rumah kontak diplomatik langsung pertama AS-Iran sejak 1979, tetapi tekanan publik dan manuver militer membuat ruang kompromi semakin sempit. Tehran menuntut pencabutan blokade sebelum duduk kembali di meja, sementara Washington bersikeras Iran harus menerima persyaratan keamanan terlebih dahulu.

Sudut pandang berbeda: Fokusnya bukan lagi pada ancaman bom semata, melainkan pada tarik-menarik diplomatik dan dampak ekonomi nyata dari kebuntuan—memberi gambaran bahwa yang dipertaruhkan bukan hanya keamanan Timur Tengah, tapi juga stabilitas pasar global. (Par)