Diplomasi Retak, Iran Tegaskan Siap Bertahan di Tengah Tekanan AS

ISTANBUL – Nada diplomasi antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas. Tehran menegaskan siap mengerahkan seluruh kekuatan untuk melindungi kedaulatan dan keamanan nasionalnya, menyusul apa yang disebutnya sebagai eskalasi ancaman militer dari Washington.

Pernyataan itu disampaikan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam panggilan telepon dengan Wakil Perdana Menteri Pakistan, Ishaq Dar, Minggu (19/4). Araghchi menyebut tekanan AS terhadap infrastruktur maritim Iran—mulai dari pelabuhan, pesisir, hingga kapal dagang—disertai tuntutan yang berubah-ubah dan tidak realistis, sebagai bukti kurangnya komitmen AS terhadap jalur dialog.

Ia menyoroti dua titik kritis: serangan militer AS yang terjadi di tengah proses negosiasi pada Maret dan Juni 2025, serta dugaan pelanggaran gencatan senjata yang sebelumnya dimediasi Pakistan.

“Rangkaian peristiwa ini menunjukkan niat buruk dan keraguan terhadap keseriusan diplomasi,” ujarnya, seperti dikutip Press TV.

Araghchi menegaskan Iran tidak akan tinggal diam.

“Kami akan menggunakan seluruh kemampuan yang kami miliki untuk menjaga kepentingan negara dan keamanan nasional,” katanya tanpa merinci bentuk respons yang akan diambil.

Di sisi lain, Gedung Putih mengisyaratkan upaya de-eskalasi. Pejabat AS, Wakil Presiden J.D. Vance, bersama utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner, dijadwalkan bertolak ke Islamabad untuk putaran perundingan baru dengan Iran. Presiden Donald Trump menyebut pertemuan itu akan dimulai Selasa (21/4) dan berpotensi berlanjut hingga Rabu (22/4).

Ketegangan ini sudah berdampak pada jalur logistik global. Arus pengiriman barang melalui Selat Hormuz terganggu sejak operasi militer gabungan AS-Israel terhadap Iran dimulai 28 Februari, diperparah blokade laut yang diberlakukan Washington pada 13 April. (Alv)