PBB: Lebih dari 38 Ribu Perempuan Gaza Gugur, Organisasi Kemanusiaan Kehabisan Dana

JENEWA — Badan PBB untuk Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan (UN Women) mengungkapkan bahwa hampir 50.000 perempuan dan anak perempuan di Gaza tewas atau mengalami luka parah sejak konflik berkecamuk pada Oktober 2023.

“Lebih dari 38.000 orang gugur, sementara 11.700 lainnya mengalami cedera parah hingga harus hidup dengan disabilitas seumur hidup,” ujar Ketua Aksi Kemanusiaan UN Women, Sofia Calltorp, Jumat (9/10/2026).

Sofia menjelaskan, sebagian besar korban jatuh pada dua tahun pertama peperangan. Meski kesepakatan gencatan senjata telah diberlakukan sejak Oktober tahun lalu, aksi kekerasan di lapangan masih terus merenggut nyawa, termasuk menyebabkan 277 perempuan dan anak perempuan tewas.

Dampak perang juga memicu krisis pengungsian skala besar. Hampir satu juta perempuan dan anak perempuan terpaksa angkat kaki dari kediaman mereka. Hingga kini, sebagian besar dari mereka masih bertahan di tenda-tenda darurat atau di antara puing-puing bangunan yang hancur.

Kondisi ini mengubah struktur sosial masyarakat Gaza. Jumlah rumah tangga yang dipimpin oleh perempuan meningkat dua kali lipat, sehingga kini satu dari setiap empat keluarga di Gaza menggantungkan hidupnya pada sosok ibu atau kepala keluarga perempuan.

Di sisi lain, ketersediaan bantuan kemanusiaan justru makin memprihatinkan akibat pemangkasan donor dana. Sebanyak 13 dari 14 organisasi kemanusiaan perempuan lokal yang disurvei menyatakan tak lagi mampu merespons kebutuhan warga yang terus membengkak.

Seluruh organisasi yang disurvei turut melaporkan lonjakan kasus kekerasan berbasis gender, kemiskinan ekstrem, serta trauma kesehatan mental sejak 2025. Selain itu, 13 organisasi di antaranya mencatat maraknya fenomena pernikahan anak akibat himpitan ekonomi.

Menanggapi situasi krusial ini, UN Women mendesak penegakan gencatan senjata secara penuh, kepatuhan terhadap hukum internasional, serta penuntutan atas berbagai pelanggaran hak asasi manusia.

“Temuan kami menunjukkan penderitaan kolektif yang mengerikan dan rasa sakit yang luar biasa. Perempuan di Gaza dipaksa memiliki ketangguhan luar biasa untuk menanggung situasi yang seharusnya tidak boleh dialami oleh siapa pun,” tegas Sofia. (Alv)