Sukacita Surgawi di Ibadah Raya GMII Nehemia Pekanbaru: “Satu Jiwa, Seribu Sukacita”
Suasana penuh khidmat dan semangat menyelimuti Ibadah Raya Gereja Misi Injili Indonesia (GMII) Nehemia yang berlokasi di Jalan Ramah Kasih, Rejosari, Kecamatan Tenayan Raya, Pekanbaru, pada Minggu pagi, 4 Oktober 2026. Ibadah mingguan ini menjadi momen yang sangat menguatkan iman bagi seluruh jemaat yang hadir untuk memuji dan mendengarkan kebenaran firman Tuhan.
Ibadah dipimpin langsung oleh Gembala Sidang, Pdt. Samuel S.G., M.Th. Dalam pelayanan firman-Nya, Pdt. Samuel mengangkat tema yang sangat inspiratif dan menyentuh hati, yaitu “Satu Jiwa, Seribu Sukacita”, dengan merujuk pada pembacaan Alkitab dari Lukas 15:1–7.
Melalui perumpamaan tentang domba yang hilang, Pdt. Samuel mengingatkan jemaat bahwa sukacita yang dibicarakan bukanlah sukacita biasa, melainkan sukacita surgawi.
Peristiwa ini menggambarkan bagaimana Yesus, sebagai seorang Guru Agung, tidak ragu untuk hadir dan berada di tengah-tengah orang berdosa serta para pemungut cukai — suatu tindakan yang tidak lazim pada masanya (seperti yang juga tercatat dalam Matius 9:10–13).
Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus: “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”
Meskipun kerap dicela oleh orang-orang Farisi, orang berdosa justru datang dan rindu mendengarkan pengajaran Yesus. Dari sini, jemaat diajak untuk memiliki sudut pandang seperti Allah, di mana setiap jiwa memiliki nilai yang sangat tinggi dan berharga di hadapan-Nya.
Poin penting lainnya yang ditekankan dalam khotbah ini adalah kasih Allah yang begitu besar dan nyata.
Kasih tersebut tidak hanya diam, melainkan diwujudkan dalam action yang aktif: Allah sendiri yang turun tangan mencari domba yang hilang itu sampai ketemu.
- Kasih yang Total: Pencarian yang dilakukan oleh Sang Gembala menunjukkan totalitas kasih karunia-Nya.
- Sukacita yang Meluap: Puncak dari kasih itu adalah ekspresi kegembiraan yang luar biasa saat domba yang tersesat ditemukan, bahkan digendong di atas bahu-Nya.
“Bukti kasih Allah terpancar jelas dari ekspresi sukacita dan kegembiraan ketika Ia merangkul kita kembali sebagai orang berdosa. Mari kita buktikan kasih itu dengan tindakan konkrit dan penuh sukacita di dalam kehidupan sehari-hari.”
Pdt. Samuel juga mengingatkan jemaat agar tidak menilai diri atau orang lain berdasarkan ukuran duniawi seperti kekayaan, harta, pangkat, atau penampilan fisik yang bersifat relatif. Di mata Tuhan, setiap manusia sangatlah berharga.
Dengan memiliki cara pandang Tuhan, umat Kristen dipanggil untuk:
- Menghargai diri sendiri secara benar, sehingga mampu menghargai dan mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri.
- Menjaga hati dengan kewaspadaan agar tetap melekat kepada Tuhan.
- Mewujudkan kasih dalam tindakan nyata, karena orang yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan pasti memiliki kerinduan untuk selalu dekat dengan-Nya.
Di penghujung ibadah, jemaat diajak untuk terus bangkit menjadi saksi-saksi Kristus di tengah dunia, membawa terang, dan membiarkan sukacita surga senantiasa memenuhi hati serta setiap tempat di mana pun mereka berada.
Ibadah diakhiri dengan perjamuan kudus yang penuh makna. Selamat hari Minggu dan Tuhan memberkati.***

