Darurat Kabut Asap di Riau: Kasus ISPA Tembus 11 Ribu, Sekolah Terapkan PJJ
JAKARTA — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas di Riau memicu lonjakan kasus kesehatan yang signifikan. Hingga pertengahan September 2026, catatan Dinas Kesehatan Riau menunjukkan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) telah menembus angka 11 ribu jiwa.
Kepala Dinas Kesehatan Riau, Zulkifli, mengungkapkan bahwa sejak 1 hingga 14 September 2026, total kasus ISPA yang tercatat mencapai 11.370 kasus yang tersebar di 12 kabupaten/kota. Puncak lonjakan harian tertinggi terjadi pada 10 September dengan lebih dari 1.200 kasus baru.
Kendati demikian, Zulkifli memastikan belum ada pasien yang harus dirujuk ke rumah sakit. Seluruh penanganan sejauh ini masih dapat diselesaikan di tingkat Puskesmas.
“Ini sampai ke Puskesmas saja, tidak ada sampai dirujuk untuk pemanfaatan medis lebih lanjut. Data ini juga terus kami laporkan ke Kemenkes,” ujar Zulkifli, Selasa (15/9/2026). Peningkatan ini sendiri mulai terasa sejak 19 Agustus lalu, ketika dampak karhutla baru melanda empat daerah sebelum akhirnya meluas ke seluruh wilayah Riau.
Menanggapi kualitas udara yang kian memburuk, Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho resmi menetapkan kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi peserta didik jenjang PAUD/TK, SD, dan SMP mulai Rabu (16/9/2026) hingga Sabtu (19/9/2026).
Berdasarkan data pemantauan BMKG, kualitas udara di Pekanbaru pada Selasa siang berada di angka 220 dengan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) mencapai 243, yang masuk dalam kategori sangat tidak sehat.
“Mulai hari ini sampai hari Sabtu, seluruh satuan pendidikan PAUD, TK, SD, dan SMP melaksanakan pembelajaran jarak jauh. Keputusan ini kita ambil karena kondisi udara sudah sangat tidak sehat, terutama bagi anak-anak,” tegas Agung.
Ia juga meminta para guru agar memberikan materi secara proporsional dan mengimbau para orang tua untuk mendampingi anak-anak selama belajar di rumah.
Sementara itu, Kepala BMKG Pekanbaru, Warjono, membeberkan bahwa pekatnya kabut asap yang menyelimuti Riau tidak sepenuhnya berasal dari titik api lokal. Citra satelit dan analisis pola angin menunjukkan adanya pergerakan asap lintas wilayah (transboundary haze) dari sebelah selatan Riau.
Berdasarkan data Selasa siang, tercatat ada 4.127 hotspot di Pulau Sumatera, dengan konsentrasi tertinggi berada di Sumatera Selatan (2.878 titik), Lampung (468 titik), Bangka Belitung (318 titik), dan Jambi (285 titik), sementara Riau terpantau menyumbang 96 titik.
Arah angin yang bertiup dari tenggara ke arah barat laut hingga utara membuat sebaran asap bergerak masif melintasi wilayah regional, bahkan terpantau melintasi kawasan Kalimantan menuju Kepulauan Riau, Singapura, dan Malaysia.
Di sisi lain, tim gabungan yang terdiri dari BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, dan unsur masyarakat terus berjibaku melakukan pemadaman darat, water bombing, serta Operasi Modifikasi Cuaca demi menekan laju karhutla di lapangan. (Par)

