Pemimpin yang Sejati Adalah ‘Hamba’
Ibadah Raya Gereja Misi Injili Indonesia (GMII) Nehemia Pekanbaru berlangsung penuh sukacita pada Minggu, 30 Agustus 2026. Ibadah dilayani oleh Penatua (Pnt.) Yohanes Wiyarno dengan tema khotbah “Pemimpin sebagai Hamba” yang diambil dari Markus 10:42-45.
Mengawali khotbahnya, Pnt. Yohanes mengajak jemaat membacakan firman Tuhan: “Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: ‘Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.’
Pnt. Yohanes menyoroti kondisi kepemimpinan di dunia saat ini. Menurutnya, sistem dunia seringkali mengukur pemimpin dari harta, kekuasaan, dan popularitas.
“Pemimpin kita saat ini, ketika masa pemilihan tiba, semuanya serius, bertindak tidak main-main karena butuh suara kita. Di dunia sekuler, standarnya sangat miris. Ukurannya adalah uang. Seolah-olah pemimpin bisa dibeli dengan uang,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa model kepemimpinan seperti itu bertolak belakang dengan ajaran Kristus. “Matius 20:20 dan Markus 10:42 menandakan bagaimana pola dunia memandang pemimpin. Tetapi Tuhan memanggil kita pada standar yang berbeda.
Pnt. Yohanes menekankan bahwa Alkitab memberikan 3 karakter utama bagi seorang pemimpin hamba:
Pertama, kejujuran dan tanggung jawab; “Seorang pemimpin harus punya kejujuran, rasa tanggung jawab, dan integritas. Kejujuran berlaku di mana saja. Baik dalam ucapan maupun tindakan, agar kita dapat dipercaya. Kita harus tetap memegang kejujuran, karena dari sanalah akan muncul pemimpin-pemimpin yang takut akan Tuhan,” jelasnya.
Kedua, empati dan kasih; Pemimpin yang benar memiliki empati, punya rasa. Ia memikirkan orang-orang yang dipimpinnya, bukan hanya memikirkan dirinya sendiri. Ia hadir untuk menguatkan yang lemah.
Ketiga, kecerdasan emosional; Pemimpin juga harus memiliki kecerdasan emosional untuk mengelola emosi. Tidak mudah marah, tidak mudah tersinggung, tetapi lemah lembut dan berhikmat dalam mengambil keputusan.
Pnt. Yohanes menegaskan bahwa Yesus sendiri adalah teladan sempurna dari “Pemimpin sebagai Hamba”.
“Yesus berkata dalam Markus 10:43-44: Kalau kita hendak menjadi terkemuka, kita harus menjadi hamba untuk semuanya. Yesus sendiri datang ke dunia bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan menyerahkan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang. Itulah kepemimpinan hamba yang sejati,” ujarnya.
Ia mengajak seluruh jemaat, baik yang dipercaya memimpin di keluarga, gereja, kantor, maupun masyarakat, untuk menjadikan ayat ini sebagai pegangan hidup.
“Kalau kita mau berhasil sebagai pemimpin, peganglah Markus 10:43 ini. Jadilah pelayan. Seperti Mikha 6:8 katakan: ‘Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut Tuhan daripadamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu.’
“Mari kita meneladani Yesus, mempunyai hati untuk melayani dan hidup menjadi berkat bagi sesama,” tutupnya. Selamat hari Minggu dan Tuhan memberkati. ***

