Menjadikan Kasih Kristus sebagai Pengikat yang Mempersatukan Keluarga

Ibadah Raya Gereja Misi Injili Indonesia (GMII) Nehemia, Rejosari, Pekanbaru, pada Minggu, 19 Juli 2026, berlangsung dengan penuh khidmat. Layanan firman Tuhan pada ibadah kali ini dilayani oleh Pdt. Tioma Sihotang, S.Pd.K. Dalam khotbahnya, beliau menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang terambil dari Kolose 3:12-17 dengan tema yang sangat kontekstual bagi kehidupan masa kini, yaitu “Kasih yang Mempersatukan Keluarga”.

Kolose 3:12-17; (12) Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. (13) Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuatlah juga demikian. (14) Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.

(15) Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah. (16) Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu. (17) Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.

Pdt. Tioma Sihotang menyoroti realitas yang sering terjadi dalam kehidupan rumah tangga hari ini. Banyak pasangan suami-istri yang seiring berjalannya waktu mulai kehilangan fokus dalam menunjukkan bahasa kasih satu sama lain.

Ketika anak-anak lahir, perhatian yang semula dicurahkan kepada pasangan sering kali beralih sepenuhnya kepada anak. Akibatnya, hubungan suami-istri menjadi agak terabaikan.

Padahal, setiap pasangan membutuhkan bahasa kasih yang konsisten, seperti perhatian, waktu yang berkualitas (quality time), sentuhan fisik, serta pelayanan. Ketika aspek-aspek ini diabaikan, benih-benih kesalahpahaman akan tumbuh dan memicu pertengkaran. Keharmonisan tidak akan tercipta jika suami atau istri tidak lagi memperhatikan kebutuhan emosional pasangannya hanya karena alasan terlalu fokus pada anak.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, firman Tuhan mengingatkan kita tentang pentingnya perubahan karakter. Perubahan ini harus dimulai dari pribadi lepas pribadi di dalam keluarga maupun persekutuan.

Sebagai orang percaya, kita telah diberikan identitas baru. Kita bukan lagi manusia lama dengan tabiatnya yang egois, melainkan orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya. Identitas sebagai pilihan Allah inilah yang harus menjadi dasar kehidupan kita sehari-hari.

Sesuai dengan Kolose 3:12, karakter Kristus harus nyata dalam tindakan. Setiap anggota keluarga harus mau belajar mengenakan kemurahan hati, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran.

Perubahan tidak akan terjadi jika kita hanya menuntut orang lain. Pemulihan dimulai ketika istri rindu memperbaiki diri, suami berkomitmen memperbaiki diri, dan anak-anak serta saudara saling berbenah. Dari situlah kasih Kristus akan mulai mengalir.

Pdt. Tioma juga mengingatkan bahwa dalam sebuah hubungan, mustahil tidak ada gesekan. Ironisnya, orang-orang terdekatlah—seperti suami, istri, atau anak—yang paling rentan untuk saling melukai dan bergesekan.

Di dunia ini, tidak ada hubungan yang sempurna. Tidak ada suami, istri, anak, maupun persekutuan yang benar-benar tanpa cela. Proses belajar memahami pasangan adalah proses seumur hidup; tidak ada kata “lulus” atau selesai.

Oleh karena itu, ketika gesekan dan luka itu terjadi, kuncinya adalah pengampunan. Namun, ukuran pengampunan Kristen bukanlah ukuran manusia yang terbatas. Dasar pengampunan kita adalah sebagaimana Tuhan telah mengampuni kita, demikian pula kita harus mengampuni orang lain.

Pengampunan dari Tuhan lahir dari kasih Allah yang sempurna. Ketika kita memiliki karakter Yesus, kasih itu akan menjadi pengikat yang mempersatukan, sebab kasih Kristus adalah kasih yang rela berkorban dan mengutamakan tindakan nyata. Kasih manusia bisa pudar dan lenyap jika tidak berpusat pada kasih Kristus.

Kunci keharmonisan keluarga Kristen bukanlah tentang bagaimana menghapus seluruh perbedaan pribadi, melainkan tentang bagaimana keluarga tersebut dipimpin oleh damai sejahtera Kristus. Banyak keluarga di era modern ini yang berkelimpahan secara materi, namun anak-anak mereka kurang mendapatkan perhatian rohani dan kasih sayang yang tulus, sehingga mereka salah melangkah dalam kehidupan. Materi tidak pernah bisa menggantikan kehadiran kasih Allah di dalam rumah. Semuanya harus bersinergi di dalam Tuhan.

Sebagai orang percaya yang dipenuhi oleh firman Tuhan, setiap perkataan dan perbuatan kita harus mendatangkan hormat dan kemuliaan bagi nama Tuhan. Dengan demikian, keluarga Kristen dapat menjadi berkat bagi sesama.

Di akhir khotbahnya, Pdt. Tioma Sihotang memberikan sebuah refleksi mendalam bagi seluruh jemaat: “Apakah kasih Yesus sudah benar-benar menjadi pengikat di tengah-tengah keluarga kita?”

Keluarga yang dipersatukan oleh Tuhan adalah keluarga yang setiap anggota di dalamnya rindu hidup dipimpin oleh firman dan dikuasai oleh kasih Yesus. Mari pulihkan semua hubungan yang retak. Wujudkan kasih itu melalui sikap, perkataan yang membangun, perhatian yang tulus, dan pengampunan yang tiada henti. Kasih bukanlah sekadar kata-kata sentimental, melainkan tindakan nyata yang dapat dirasakan oleh setiap anggota keluarga demi terciptanya keharmonisan sejati dalam rumah tangga dan persekutuan. Selamat hari Minggu, dan Tuhan Yesus memberkati. ***