Asal-Usul Jalan Kelapa

Cerita rakyat dari Kelurahan Rejosari, Kecamatan Tenayan Raya, Pekanbaru (Fiksi)

Cerpen Karya: Erwin Hartono

Konon, jauh sebelum jalan itu diaspal rapi seperti sekarang, daerah yang kini dikenal sebagai Jalan Kelapa hanyalah sebuah jalan tanah merah. Jika hujan turun, orang yang lewat harus pandai memilih pijakan. Salah sedikit, sandal bisa tertinggal di lumpur sementara pemiliknya sudah melangkah beberapa meter ke depan.

Di daerah itu tinggal seorang lelaki tua bernama Pak Dul. Kumisnya tebal, topinya selalu miring, dan ia terkenal sebagai orang yang paling hafal letak setiap pohon kelapa di kampung.

“Kalau malam gelap, saya masih bisa pulang hanya dengan menghitung pohon kelapa,” katanya suatu hari.

Pak RT hanya tersenyum.

“Kalau saya, baru tiga pohon saja sudah nyasar.”

Semua warga tertawa.

Daerah itu memang berbeda dengan kampung lain. Hampir setiap pekarangan ditumbuhi pohon kelapa yang menjulang tinggi. Ada yang menanam lima batang, ada yang sepuluh, bahkan keluarga Pak Karman memiliki lebih dari tiga puluh batang. Kalau angin bertiup, daun-daun kelapa bergesekan sambil mengeluarkan suara “srek… srek…” seolah-olah sedang saling bercakap-cakap.

Bu Ayu pernah bergurau, “Kalau pohon-pohon ini bisa bicara, mungkin mereka sudah rapat RT sendiri.”

Sejak pagi buta, sebelum ayam selesai berkokok, beberapa warga sudah memanggul bambu dan membawa jeriken. Mereka memanjat pohon-pohon kelapa untuk mengambil nira, air manis yang keluar dari mayang kelapa. Sebagian dijual sebagai minuman segar, sebagian lagi diolah menjadi berbagai kebutuhan masyarakat, termasuk yang kemudian dikenal sebagai tuak kelapa.

Anak-anak kecil sering memperhatikan para pemanjat dengan kagum.

“Pak, memang tidak takut jatuh?”

Pak Manjat, yang sudah puluhan tahun bekerja, menjawab sambil tersenyum, “Takut itu ada. Tapi kalau takut terus, nanti istri saya yang lebih takut karena tidak ada uang belanja.”

Semua yang mendengar langsung tertawa.

Lambat laun, hasil kebun kelapa menjadi sumber penghidupan banyak keluarga. Ada yang menjual buahnya, ada yang membuat santan, ada yang menjual daun kelapa untuk anyaman, ada pula yang mengambil nira setiap hari. Tidak heran bila hampir setiap pagi orang-orang keluar masuk kampung dengan membawa jeriken, ember, atau tandan kelapa di atas sepeda motor.

Suatu hari datanglah seorang sopir ekspedisi dari luar kota. Ia berhenti di warung Bu Ayu.

“Bu, saya mau mengantar barang.”

“Ke mana?”

“Gudang yang itu… anu… gudang minuman dari kelapa.”

Bu Ayu mengernyit.

“Gudang yang mana?”

“Ya… yang orang-orang bilang gudang tuak.”

“Oh… lurus saja, nanti belok kanan.”

Sopir itu mengangguk. Lima menit kemudian ia kembali lagi.

“Bu… saya tersesat.”

“Lho, kok bisa?”

“Tiap belok ketemu pohon kelapa semua.”

Warung kembali pecah oleh gelak tawa warga.

Seiring waktu, sebuah gudang tempat penampungan hasil nira dan olahannya semakin dikenal oleh masyarakat sekitar. Orang luar yang hendak berkunjung sering bertanya, “Gudang tuak itu lewat mana?”

Jawaban warga selalu sama.

“Lewat jalan yang banyak pohon kelapanya.”

Jawaban itu diulang terus-menerus, hari demi hari, tahun demi tahun.

Bahkan tukang ojek yang mangkal di simpang jalan lebih sering berkata, “Naik, Pak? Mau ke Jalan Kelapa?”

Padahal saat itu belum ada papan nama jalan.

Suatu ketika petugas yang sedang mendata nama jalan datang ke kampung.

“Apa nama jalan ini?” tanyanya sambil membawa buku catatan.

Pak RT menggaruk kepala.

“Belum ada.”

Petugas kembali bertanya.

“Kalau begitu, warga biasa menyebutnya apa?”

Belum sempat Pak RT menjawab, hampir semua warga yang sedang duduk di warung berseru bersamaan,

“Jalan Kelapa!”

Petugas terkejut.

“Kenapa Jalan Kelapa?”

Pak Dul berdiri sambil menunjuk ke kiri dan ke kanan.

“Lihat sendiri, Nak. Dari ujung sampai ujung isinya pohon kelapa. Banyak warga mencari nafkah dari kelapa. Ada yang menjual buahnya, ada yang membuat santan, ada yang mengambil nira. Bahkan orang luar lebih kenal daerah ini karena gudang tempat penampungan hasil nira kelapa. Jadi, kalau bukan Jalan Kelapa, mau dinamakan Jalan Rambutan?”

Semua orang tertawa terbahak-bahak.

Petugas ikut tertawa.

“Baiklah… saya rasa nama itu sudah paling cocok.”

Sejak saat itulah masyarakat semakin akrab menyebut kawasan itu sebagai Jalan Kelapa. Nama yang lahir bukan karena keputusan orang penting atau cerita kerajaan, melainkan karena kehidupan sehari-hari masyarakat yang akrab dengan pohon kelapa dan hasilnya.

Kini pohon-pohon kelapa memang tidak sebanyak dahulu. Rumah-rumah telah berdiri lebih rapat, jalan sudah beraspal, kendaraan berlalu-lalang tanpa harus menghindari lumpur. Namun, nama Jalan Kelapa tetap bertahan sebagai pengingat bahwa dahulu daerah itu tumbuh dan hidup bersama deretan pohon kelapa yang menjadi sumber rezeki bagi banyak keluarga.

Konon, jika ada pendatang bertanya mengapa namanya Jalan Kelapa, warga lama hanya akan tersenyum sambil berkata,

“Karena sejarah tidak selalu ditulis di buku. Kadang-kadang ia tumbuh setinggi pohon kelapa, menetes dari mayangnya, menjadi rezeki masyarakat, lalu hidup dalam cerita yang diwariskan dari mulut ke mulut.”

Dan siapa tahu, setiap kali angin sore menggoyangkan daun-daun kelapa di Rejosari, pohon-pohon tua itu sedang berbisik, mengingatkan kita akan asal-usul nama sebuah jalan yang sederhana, tetapi penuh cerita. ***

Erwin Hartono

Seniman Riau yang tunak berkarya baik puisi, cerpen, novel, artikel yang dipublikasikan di berbagai media massa. Selain menjadi seorang guru, juga aktif di dunia jurnalistik sebagai wartawan.