“Mengarak Teater” Sukses di Cerenti: 25 Peserta Class Acting, 200 Tiket Monolog Ludes
CERENTI – Program “Mengarak Teater” bertajuk Class Acting dan Pertunjukan Monolog sukses digelar di Cerenti berkat kolaborasi Lembaga Teater Selembayung, Studio 16 YSR Kids, dan DKC Cerenti.
Program ini berhasil menjaring 25 peserta class acting dan menghabiskan 200 tiket pertunjukan monolog “3431”.
“Saya bangga Bang Fedli dan Micko Celo mengajak kami berkolaborasi. Kami langsung tancap gas dan capai target. Hasil ini memudahkan langkah kami ke depan,” kata Yussafat Rose Lidya alias Rose, pimpinan Studio 16 YSR Kids.
Setelah menerima tawaran, Rose membentuk tim kecil untuk menyusun strategi promosi. Promosi digencarkan ke sekolah SD, SMP, SMA sederajat, hingga masyarakat umum di Cerenti.
“Saya promosi kecil-kecilan ke sekolah dengan menampilkan monolog karya saya sendiri. Ternyata banyak anak yang berminat. Ini luar biasa untuk Cerenti yang jauh dari pusat kota,” ujar Rose, guru SDN 007 Kampung Baru Cerenti, usai pertunjukan, Sabtu (9/5/2026).
Rose sendiri pernah aktif di komunitas teater UIN Suska Riau dan kini membina komunitas teater anak yang masih langka di Riau.
Kehadiran dua seniman Pekanbaru, Fedli Azis dan Micko Celo, makin memompa semangatnya untuk segera menggelar pementasan teater anak.
Promosi tak hanya ke sekolah. Rose juga menggalang donatur. Hasilnya di luar dugaan: ada pihak yang memborong tiket untuk dibagikan gratis, bahkan ada yang membiayai produksi dan biaya class acting bagi anak kurang mampu.
Penonton juga datang dari kampung-kampung lain. Banyak yang sengaja hadir karena mengenal Fedli Azis dan Micko, atau sekadar rindu menonton teater.
“Teater punya kekuatan untuk memperpanjang usia kerja kreatif. Buktinya, di Cerenti kami sudah buktikan,” kata Rose.
Saling Serap Pengetahuan
Pertunjukan monolog “3431” dan class acting digelar selama dua hari, 8-9 Mei 2026 di Balai Adat Cerenti. Bagi Lembaga Teater Selembayung, ini adalah titik kedua tahun ini setelah Kota Dumai pada April lalu.
Cerenti yang berjarak 200 km atau 6 jam dari Pekanbaru punya keunikan tersendiri.
“Semua pihak saling mengisi. Kekurangan teknis tidak menghalangi kelancaran acara. Bumi Allah ini adalah panggung. Manfaatkan yang ada, semua akan terasa lengkap,” kata Fedli Azis.
Yang paling penting, kata Fedli, adalah membuka rasa percaya diri anak-anak. Banyak peserta yang awalnya malu dan takut tampil, namun setelah presentasi karya merasa ketakutan itu hanya mitos.
“Sekarang kami merasa punya poin setelah diajak mengenal diri sendiri selama dua hari. Ternyata yang kami takutkan selama ini cuma mitos,” kata Tria Anisa, peserta dari MTsM Cerenti.
Rose berencana melanjutkan pembinaan dengan latihan rutin. Ia juga menargetkan menggelar lomba monolog tahun ini untuk peserta yang sudah ikut program.
Anak-anak Cerenti mengaku materi dan pengalaman dua hari itu sangat membekas. Mereka merasa setara dengan anak di kota lain dan punya peluang untuk maju.
“Kami jadi tahu cara menghargai diri sendiri, orang terdekat, dan lingkungan. Tak ada yang perlu dikhawatirkan karena setiap manusia punya kelebihan dan kekurangan. Justru kekurangan itu bisa jadi kelebihan, seperti kisah Mr Bean,” kata Caca, pemenang FLS3N cabang monolog tingkat Provinsi Riau. (erwin)

