Tolak Buka Selat Hormuz Tanpa Bahas Nuklir, Trump Sebut Proposal Iran Tak Cukup
WASHINGTON – Presiden AS Donald Trump menolak proposal Iran yang menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz dan gencatan senjata jangka panjang dengan AS-Israel. Trump disebut tidak puas karena tawaran Teheran tak menyinggung program nuklir.
New York Times, Senin, mengutip sumber anonim menyebut Trump menerima pengarahan soal rencana Iran saat rapat di Ruang Situasi Gedung Putih. Proposal itu mencakup pengakhiran blokade AS di jalur vital tersebut, namun tanpa komitmen menghentikan pengayaan uranium.
Iran selama ini menolak tuntutan AS untuk menyetop seluruh pengayaan uranium. Teheran beralasan mereka berhak melakukannya di bawah hukum internasional dan enggan menyerahkan stok uranium yang sudah diperkaya.
Seorang pejabat AS mengatakan menerima proposal itu sama saja “menyangkal kemenangan Trump” yang sejak awal menuntut dua hal: hentikan pengayaan dan serahkan uranium.
“Amerika Serikat tidak akan bernegosiasi lewat pers. Kami sudah jelaskan batas kami dan presiden hanya akan membuat kesepakatan yang baik untuk rakyat Amerika dan dunia,” kata Jubir Gedung Putih Olivia Wales kepada Times.
Axios sebelumnya melaporkan Menlu Iran Abbas Araghchi menyerahkan proposal itu ke mediator Pakistan, Minggu. Isinya: gencatan senjata diperpanjang atau permanen, lalu pembicaraan nuklir baru dimulai setelah selat dibuka dan sanksi dicabut.
Pekan lalu Trump membatalkan negosiasi yang dijadwalkan di Islamabad. Pejabat AS menyebut Iran tak memberi ruang konsesi soal nuklir, membuat perundingan buntu.
Debat di internal Gedung Putih kini mengerucut pada daya tahan Iran menghadapi tekanan ekonomi akibat blokade Selat Hormuz. Laporan menyebut produksi minyak Iran sudah melampaui kapasitas penyimpanan, sementara sumur tak bisa ditutup tanpa risiko rusak.
Sebagian pejabat meyakini kondisi itu bisa memaksa Iran melunak. Namun pihak lain menilai serangan gabungan AS-Israel justru membuat Teheran semakin keras. (Par)

