Kasih yang Tak Pernah Luntur di Tengah Perubahan Zaman

Perkembangan zaman saat ini membawa banyak kemudahan dalam kehidupan manusia. Teknologi semakin maju, komunikasi menjadi semakin cepat, dan jarak bukan lagi penghalang bagi manusia untuk saling terhubung. Namun di balik semua kemudahan tersebut, ada satu hal yang perlahan mulai memudar dalam kehidupan manusia, yaitu kasih.

Demikian disampaikan Pdt. Tioma Sihotang,S.Pd.K dalam ibadah raya Gereja Misi Injili Indonesia (GMII) Nehemia, Rejosari, Pekanbaru, Minggu 8 Maret 2026.

Firman Tuhan dari Roma 5:1-11; “1 Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. 2 Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. 3 Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, 4 dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. 5 Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita. 6 Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah. 7 Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati. 8 Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. 9 Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah. 10 Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya! 11 Dan bukan hanya itu saja! Kita malah bermegah dalam Allah oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, sebab oleh Dia kita telah menerima pendamaian itu.

Pendeta Tioma Sihotang, S.Pd.K mengingatkan bahwa kemajuan zaman tidak selalu sejalan dengan pertumbuhan kasih dalam kehidupan manusia. Justru di tengah kemajuan itu, hubungan antar manusia sering kali menjadi rapuh. Emosi mudah tersulut, kepedulian semakin berkurang, dan rasa kasih terkadang memudar.

Perkembangan zaman itu baik, semakin mudah berkomunikasi. Tetapi semakin hilang kasih, kepedulian, hubungan semakin rapuh dan mudah emosi, karena kasih semakin hilang.

Menurutnya, kondisi ini juga dapat terjadi dalam kehidupan orang Kristen. Kasih yang seharusnya menjadi dasar kehidupan sering kali menjadi rapuh karena berbagai situasi kehidupan.

Rasa kasih gampang rapuh dikalangan hidup orang Kristen. Dengan situasi, kadang kasih hilang.

Berbeda dengan kasih manusia yang dapat berubah, kasih Tuhan tetap kekal dan tidak pernah pudar. Kasih Tuhan tidak dipengaruhi oleh keadaan atau perbuatan manusia. Kasih Tuhan tak pernah luntur dan tak pernah pudar.

Sementara itu, kasih manusia sering kali terbatas. Manusia bisa kecewa, terluka, atau berhenti mengasihi ketika tidak mendapat balasan dari orang lain.

Kasih manusia bisa pudar, bisa luntur. Karena kita manusia berdosa. Kasih bisa pudar karena tak dapat balasan, kasih hilang karena orang itu tak berbalik, kasih bukan hanya diucapkan, perlu pembuktian.

Kasih sejati tidak hanya diucapkan melalui kata-kata, tetapi juga dibuktikan melalui tindakan nyata. Dalam iman Kristen, bukti terbesar dari kasih Tuhan adalah pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib.

Kasih Tuhan kepada manusia dinyatakan secara nyata melalui pengorbanan Yesus Kristus.

Allah bersedia mati di kayu salib. Salib Kristus bukti kasih kepada kita. Supaya manusia yang berdosa diselamatkan.

Pengorbanan ini menunjukkan kasih yang luar biasa. Sulit bagi manusia untuk rela mati demi orang lain, terlebih bagi orang yang bersalah atau bahkan menyakiti hati.

Siapa yang mau mati demi orang yang berdosa, orang yang menyakiti hati, tetapi Tuhan justru mengasihi kita.

Dalam Roma pasal 5 itu dijelaskan bahwa kematian Kristus di kayu salib adalah bukti nyata karya keselamatan Allah bagi manusia. Ketika Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, Allah mencarinya.

Sejak manusia pertama, yaitu Adam dan Hawa, jatuh ke dalam dosa, Allah tidak meninggalkan manusia. Justru Allah yang terlebih dahulu mencari dan memulihkan hubungan dengan manusia.

Pada dasarnya manusia tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri dari dosa. Manusia berada dalam posisi sebagai seteru Allah, tetapi Tuhan tetap menunjukkan kasih-Nya.

Kita adalah seteru Allah, namun perlu ditolong. Manusia tidak bisa menyelamatkan dirinya, tetapi Allah bertindak. Allah menunjukkan kasihnya bagi kita. Karya keselamatan itu anugerah Allah.

Keselamatan bukan hasil usaha manusia, melainkan anugerah dari Tuhan. Setiap kehidupan yang dijalani manusia saat ini merupakan bukti kasih dan anugerah Tuhan.

Kehidupan kita hari ini anugerah. Kita dibenarkan dihadapan Allah. Kasih Kristus menyelamatkan.

Masalah terbesar manusia adalah dosa yang tak bisa diselesaikan manusia itu sendiri.

Allah menyelesaikannya. Karena hanya Yesus yang bisa menyelesaikannya. Melalui pengorbanan Yesus Kristus, manusia tidak lagi menjadi musuh Allah, tetapi menjadi anak-anak Allah.

Kita tidak lagi hidup sebagai musuh Allah tetapi jadi sahabat Allah. Persoalan hidup terbesar kita telah selesai dikerjakan oleh Tuhan.

Kasih manusia sering kali memiliki syarat. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang mengukur kasih berdasarkan berbagai hal, seperti keadaan ekonomi, pekerjaan, atau status.

Kasih manusia sering bersyarat. Anak-anak muda sering melihat pembuktian, inilah syarat, entah finansial, pekerjaan, dan lain-lain. Kasih manusia memiliki batas, sedangkan kasih Tuhan tidak terbatas.

Sebagai respons terhadap kasih Tuhan yang besar itu, setiap orang percaya diajak untuk hidup dengan sikap yang benar di hadapan Tuhan.

Sebagai respons kita, pertama hidup dekat dengan Tuhan. Kedua tetap berharap kepada Tuhan dalam segala keadaan. Ketiga hidup saling mengasihi.

Hidup dekat dengan Tuhan, tetap berharap kepada-Nya dalam segala keadaan, dan saling mengasihi merupakan wujud nyata dari iman orang percaya. Di tengah dunia yang semakin berubah, kasih Tuhan tetap menjadi dasar yang kokoh bagi kehidupan manusia.

Kasih itu tidak pernah pudar, tidak pernah luntur, dan selalu menjadi pengharapan bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya. Selamat hari Minggu dan Tuhan memberkati. ***