Pemimpin yang Dipenuhi Roh Kudus Punya Karakter, Mengandalkan Tuhan, dan Menjadi Pembawa Damai
PEKANBARU – Ibadah Raya Gereja Misi Injili Indonesia (GMII) Nehemia, Rejosari, Pekanbaru, berlangsung khidmat pada Minggu, 23 Agustus 2026. Ibadah dipimpin oleh Gembala Sidang, Pdt. Samuel S.G., M.Th. Dalam khotbahnya, beliau menyampaikan Firman Tuhan dari Kisah Para Rasul 6:1-7 dengan tema “Pemimpin yang Penuh Roh Kudus.”
Dunia umumnya mencari dan mengukur seorang pemimpin berdasarkan latar belakang pendidikan, jabatan, serta kemampuan manajerial yang tinggi.
Pdt. Samuel mengakui bahwa semua hal tersebut memang penting untuk kelancaran sebuah organisasi, tetapi ukuran Tuhan dalam memilih seseorang untuk melayani jauh melampaui sekadar keterampilan jasmani (skill).
“Dunia sering mencari pemimpin berdasarkan pendidikan, jabatan, dan kemampuan manajerial. Semua itu memang penting. Tetapi ukuran Tuhan untuk memilih orang yang melayani tidak hanya soal skill saja,” ujarnya.
1 Samuel 16:7b: “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.”
Artinya, Tuhan tidak menilai dari penampilan luar atau CV seseorang. Yang utama bagi Tuhan adalah hati yang dipenuhi Roh Kudus dan karakter yang berkenan kepada-Nya.
Pdt. Samuel menjelaskan konteks ayat tersebut, pada masa gereja mula-mula, jumlah murid semakin banyak sehingga timbul persoalan dan persungutan. Untuk menata pelayanan, para rasul mengajak jemaat memilih 7 orang pemimpin untuk mengurus pelayanan.
“Ini penataan pertama kali dalam gereja. Ketika pekerjaan Tuhan bertumbuh, persoalan pasti ada. Di sinilah kita butuh pemimpin yang tepat, yang dipercaya untuk pekerjaan Tuhan,” jelasnya.
Kriteria utama yang ditetapkan para rasul adalah orang yang “penuh Roh Kudus dan hikmat” (Kis. 6:3). Dari sinilah muncul 3 ciri pemimpin yang dipenuhi Roh Kudus:
- Memiliki Karunia Roh dan Buah Roh
“Ketika seseorang dipenuhi Roh Kudus, akan tampak 2 hal: karunia Roh dan buah Roh,” tegas Pdt. Samuel.
Karunia Roh berguna untuk melayani. Namun Tuhan lebih mengharapkan buah Roh. Galatia 5:22-23 menyebut buah Roh: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.
“Bagus seorang pemimpin punya karunia. Tapi tanpa buah Roh, tidak berkenan di hadapan Tuhan. Kepemimpinan yang dipenuhi Roh adalah kepemimpinan yang berbuah dan penuh khidmat.”
- Pemimpin yang Mengandalkan Tuhan
Pekerjaan Tuhan tidak dapat diselesaikan hanya dengan kemampuan manusia yang terbatas. Perlu campur tangan Tuhan.
“Jangan hanya mengandalkan diri sendiri, strategi, atau pengalaman. Libatkan Tuhan dalam setiap keputusan. Pemimpin yang penuh Roh Kudus adalah pemimpin yang hidup dalam doa dan bergantung penuh kepada Tuhan.”
- Pemimpin yang Menyelesaikan Masalah dan Membawa Damai
Tujuan utama pemimpin adalah menyelesaikan masalah, bukan menambahnya.
“Jadilah penyejuk, bukan kompor. Pemimpin yang dipenuhi Roh Kudus memilih untuk memperbaiki, bukan membiarkan konflik. Seorang pemimpin harus membawa damai sejahtera,” pesannya.
Pdt. Samuel menutup khotbah dengan mengajak seluruh jemaat, khususnya para pelayan, untuk mengevaluasi diri.
“Biarlah Tuhan membentuk kita menjadi pemimpin yang dipenuhi Roh Kudus. Punya karakter Kristus, penuh hikmat, mengandalkan Tuhan, dan menjadi pembawa damai di keluarga, kantor, dan gereja.” Selamat hari Minggu dan Tuhan Yesus memberkati. ***

